
Singkat cerita Sezha dan Nova sudah 2 hari menginap dirumah bulek Sukini dan pak Kasan. Sudah waktunya mereka berdua harus pulang. Keadaan Sezha baru 2 hari di beri jamu kunyit itu oleh bulek, kondisi tubuhnya perlahan pulih kembali, walaupun wajah Sezha masih terlihat pucat tapi Sezha tidak terlalu lemas seperti kemarin.
Tepat pukul 1 siang, Nova mengajak Sezha untuk pulang.
"Zha, keadaan kamu gimana ? udah agak mendingan kan ?" Tanya Nova sambil memainkan game di ponselnya.
"Alhamdulillah Nov, udah lumayan baikan." Jawab Sezha tersenyum.
"Alhamdulillah deh kalo gitu Zha. Gini Zha, kita kan udah 2 hari disini. Gimana kalo hari ini kita pulang ?" Ajak Nova sembari meletakkan ponsel.
"Boleh Nov, aku juga gak enak nginep lama-lama disini. Bulek Arin begitu baik sama kita."
"Tapi apa kamu bisa ? kalau gak, besok saja kita pulang sampai kamu benar-benar pulih." Nova ragu dengan kondisi Sezha.
"Nov, kamu lihat sendirikan kalo aku udah sehat jadi kamu gak perlu khawatir lagian kita pulang bukan jalan kaki naik taksi."
"Iya sih tapi Zha hm perut kamu lho yakin gak apa-apa gitu, darahnya beneran udah berhentikan ?"
"Aman kok Nov, yaudah kamu pesen taksi deh dari aplikasi suruh kesini. Mumpung masih siang jadi kita gak malam sampe dirumah."
__ADS_1
"Iya kamu bener Zha, tunggu aku pesen taksinya dulu moga aja mau cepet datang kesininya. Oh ya Zha, gimana dengan barang bawaan kamu yang masuh tertinggal di persinggahan itu ?"
"Biarin ajalah Nov, anggap aja aku gak pernah bawa barang-barang. Cuma yang disayangkan ponsel aku Nov, ya terpaksa beli ponsel baru dan kartu baru." Sezha tidak terlalu mementingkan.
"Intinya melupakan masa lalu, semangat." Nova menyemangati Sezha.
"Pasti donk, terus gimana tu taksi bisa secepatnya otw kesini ? kamu udah share lokasi kita kan ?"
"Tenang Zha, 1 jam dari sekarang sopir taksi bakalan sampe kesini. Nah sebelum sopir taksi itu datang, sebaiknya kita pamit ke bulek dan suaminya."
"Kuy lah." Sezha bersemangat.
Seperti biasanya setiap hari bulek dan pak Kasan selalu berada di sawah untuk menjaga tanaman padi mereka agar tidak di makan oleh burung pemakan padi.
Ditengah perjalanan, Sezha seperti mendengar suara tangisan bayi lagi.
"Nov, kamu denger suara tangisan bayi gak ?" Wajah Sezha berubah paranoid.
"Suara bayi ? (tanya Nova bingung )."
__ADS_1
"Iya Nov, suara bayi nangis. Coba deh kamu dengerin, suaranya nyaring banget." Nafas Sezha mulai was-was.
"Beneran Zha, aku gak denger sama sekali. Perasaan kamu aja kali, yaudah yuk ah lanjut jalan keburu sopir taksi sampe kitanya malah belum siap-siap. Lagian deket lagi kok sama sawahnya bulek." Nova acuh.
"Aku takut Nov." Sezha mendekat kearah Nova karena takut.
"Astaghfirullah Zha, ini itu masih siang benderang Zha masa iya takut, ada-ada aja kamu deh." Nova menggaruk kepalanya yang tak merasa gatal.
"Kamu gak ngalamin kayak aku Nov, aku selalu dihantui oleh bayi itu. Aku gak tau dia mau apa." Degup jantung Sezha berdetak tidak stabil.
"Zha, kamu mau tau kenapa bayi itu selalu saja menemui kamu ?" Wajah Nova berubah serius.
"Kenapa Nov ? jelasin sama aku Nov, aku gak bisa terus-terusan di hantui bayi setan kayak gini, aku mau hidup normal Nov." Desak Sezha.
"Itu karena bayi itu adalah." Ucapan Nova terpotong.
Nova bingung apakah dia harus mengatakan atau tidak.
"Karena apa Nov? jawab donk Nov, jawab." Sezha panik bercampur risau.
__ADS_1