
Permasalahan Arin telah selesai, ia berhasil membuat bulek Sukini tenang di alamnya.
Pagi harinya Arin bangun tubuh bugar, setelah mimpi itu tidak ada lagi hal-hal magis yang mengganggu Arin. Walaupun arwah buleknya sendiri tapi karena beda alam, pasti membuat Arin tidak nyaman.
"Bu, Arin berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum.." Seru Arin sudah berada di depan pintu akan segera berangkat.
"Waalaikum salam !" Balas ibunya dari arah dapur.
Arin menunggu angkutan umum ditepi jalan, saat ia menunggu ia melihat Deon sedang membeli sesuatu di pinggir jalan.
"Lho, itu bukannya pacar om-om Sezha ? mau ngapain pagi-pagi udah sampe sini. Emang tempat tinggalnya daerah mana sih ? hm samperin gak ya, itung-itung cari informasi. Eh tapi males ah, buat apa aku kepo sama urusan tipe orang kayak Sezha. Buang-buang waktu." Arin berencana menemui Deon tapi ia urungkan.
Tak lama angkutan umum melintas didepan Arin dan Arin pun naik angkutan umum.
Kira-kira hampir 20 menit Arin sampai kesekolah, Arin berjalan memasuki kelas.
Lala heran karena baru semalam Arin sakit tapi hari ini Arin telah masuk sekolah.
"Wih udah sehat aja ni, kirain masih mau bed rest."
"Gak asyik dirumah lama-lama, tau lah ibu aku gimana, bawaannya kalo aku dirumah ngomellll mulu, suruh ini, suruh itu, ihh capek. Mending sekolah, ya gak."
"Eh btw nomor pribadi itu masih nelpon kamu gak ?"
"Udah gak kok."
"Kamu tau siapa?"
__ADS_1
"Tau, tapi yaudahlah lupain aja gak usah dibahas, ok." Arin enggan menceritakannya kepada Lala.
"Bagus deh."
Arin melirik kearah meja Nova, tapi ia tidak melihat Nova ada disana.
"La, Nova mana kok gak keliatan?"
"Gak tau, belum sampe mungkin."
"Ohhh udah jam segini, biasanya Nova lebih awal datangnya. Apa dia hari ini izin ya ?"
"Entahlah, coba aja kamu telpon atau chat gitu."
"Nanti ajalah, palingan lagi dijalan.
Arin melengos melihat Sezha.
Dih gayanya selangit.
Lala menyikut Arin yang menatap Sezha sepintas seperti itu, ia gak mau jika sampai Sezha tau bisa-bisa Arin dan Sezha kembali beradu argumen.
"Rin, udah jangan dilihatin kayak gitu ntar dia nyadar bisa bac*t dia." Bisik Lala mengingatkan Arin.
"Dih apaan sih La, emang aku liatin apa. Penting kali ihh gak ya."
"Sttttt..suara kamu ck gak bisa volumenya di kecilin dikit." Spontan Lala menutupi mulut Arin yang nyeletuk.
__ADS_1
Sezha yang memang duduk tidak jauh dari meja Arin dan Lala mendengar debatan antara Arin dan Lala. Sezha merasa kalo Arin dan Lala sedang membicarakannya.
"Duh..heran ya, masih aja julid in orang di belakang. Ish gak abis-abis syiriknya. Kalo ngefans bilang aja donk, gak usah ghibah dibelakang, masih muda tapi mulut udah rempong kayak emak-emak komplek." Sindir Sezha tidak menyebut nama tapi mengarah ke Arin dan Lala.
Arin terpancing dengan ucapan Sezha.
"Belagu amat ya, yang mentang-mentang punya pacar om-om, kalo aku b aja kali, gak songong." Arin menyindir tidak mau kalah.
"Rin, udah donk. Gak usah dibales." Lala mengingatkan lagi.
Sezha nampak santai dan cuek, malah membalas ucapan Arin.
"Syirik..syirik..seribuan, ada yang jual syirik nih, lagi gak mampu soalnya jadi jualan syirik deh, duh kacian ya."
Arin hanya menghela nafas panjang, ia capek jika terus meladeni Sezha. Namun jujur dihati ada rasa dongkol tapi ia tidak mau membuat keributan di sekolah.
"Yang waras ngalah.." Gumam Arin menenangkan dirinya.
Tak lama bel masuk berbunyi, pak Abram memasuki kelas.
Note :
Gurunya cuma pak Abram, ntar kebanyakan nama, saya suka lupa wkwkwk.
*Happy reading*
*Mohon dukungannya, vote, gift, favorit, like & komen ya *🌹🌹🌹
__ADS_1
*Tunggu kelanjutannya, thanks udah setia nunggui, udah setia baca and udah dukung sampe ke bab ini*🌹🌹🌹 Thank you so much deh pokoknya 🌹🌹🌹