
Ditempat berbeda yaitu di kediaman Nova. Nova merasa ingin menemui Sezha. Ya ntah kenapa rasa ingin menolong Sezha terasa kuat, ia seperti tidak bisa membiarkan Sezha terus menerus dengan sifat yang salah.
Nova bercerita pada ibunya tentang masalah yang dialaminya dengan Sezha.
"Bu, Nova boleh cerita gak?" Wajah Nova lesu.
Ibunya yang sedang menonton tv heran dengan pertanyaan Nova.
"Lesu bener sih wajahnya, ada apa hem ? buruan deh cerita."
"Jadi gini Bu, hm hubungan Nova dengan Sezha makin renggang Bu. Sikap Sezha berubah banget, Nova jadi bingungn buat imbangi sikap Sezha sekarang."
"Berubah gimana sih ? berubah jadi wonder woman atau berubah jadi saras 008 yang film ibu zaman dulu, hayo Sezhanya berubah jadi apa ?" Ibu bergurau.
"Dih ibu, ya gak berubah jadi superhero gitu, ibu mah becanda. Nova serius Bu." Nova manyun.
__ADS_1
"Ya abisnya kamu serius banget, makanya ni wajah di lemesin aja kan enak liatnya."
"Ish ni jadi cerita apa gak sih, ibu malah ngelawak."
"Yaudah deh, ibu serius nih. Ayo cerita buruan."
"Sezha belakangan ini sikapnya jadi sombong banget, angkuh terus nada bicaranya ketus. Gak kayak Sezha, yang Nova kenal."
"Hm mungkin Sezha punya masalah tapi dia pura-pura kuat supaya kamu dan teman yang lainnya gak mandang dia lemah. Menurut ibu sih gitu, soalnya dulu temen sekolah ibu itu ada yang seperti Sezha gini, cuma ya itu alasannya dia tidak ingin kehidupan pribadinya itu diketahui banyak orang makanya dia memprotect dirinya agar orang-orang terdekat untuk sedikit bahkan menjauh dari dirinya. Intinya sih sikap seperti Sezha ini, bisa jadi punya masalah tapi gak mau berbagi atau diketahui oleh orang lain." Ibu menerangkan pengalaman dahulu.
"Maksudnya? bayi ? Sezha udah melahirkan? kok ibu gak tau ya, udah lama ?" Ibunya terkejut.
"Sebulanan lah Bu, iya lah ibu baru tau. Kan Nova baru ini kasih tau ibu."
"Jadi gimana udah nikah belum ? eh tapi Sezha masih sekolah kan ?"
__ADS_1
"Kalo nikah kayaknya belum deh Bu. Sezha masih sekolah kok."
"Hm ibu kasihan liat Sezha, pasti berat hidup yang dia jalani. Saran ibu sih, ya sudahlah maklumin aja sikap Sezha yang seperti itu. Kamu sebagai temen yang bisa berfikir jernih, ya jangan mudah tersinggung dengan ucapan Sezha." Ibu menasehati Nova.
"Masalahnya Bu, Sezha udah gak mau temenan sama Nova. Dia lebih suka menyendiri sambil main ponselnya yang mahal, mungkin makanya Sezha gak mau main sama Nova dan yang lain karena gak selevel kali sama Sezha, secara sekarang penampilan Sezha beda."
"Jangan berfikiran seperti itu, tidak baik. Itu sama aja kalo kamu su'udzon sama Sezha. Kalian kan udah berteman lama, kamu juga udah kenal Sezha seperti apa ya kan. Nah itu seperti yang ibu katakan tadi ke kamu, maklumi sikap Sezha yang berubah begitu. Sebaiknya kamu lupakan apa yang pernah Sezha ucapkan, apa pun itu. Menjaga tali pertemanan itu sulit banget tapi kalo permusuhan, perselisihan pasti mudah. Ibu mengingatkan jangan mudah terprovokasi dengan sikap seseorang yang tiba-tiba berubah karena pasti ada alasan kenapa seseorang bisa berubah."
"Hm Nova coba deh Bu, insya Allah hubungan pertemanannya Nova dan Sezha bisa kembali seperti dulu. Makasih banyak Bu, udah mau dengerin curhatan Nova, terus makasih juga udah ingetin apa yang harus Nova lakuin."
"Nah bagus kalo gitu, tetap berbaik sangka kepada siapa aja, apalagi ini temen ya, jauhin deh pikiran -pikiran yang mengganggu."
"Siap Bu, yaudah deh Nova mau ke kamar. Mau ngerjain tugas sekolah belum selesai."
"Iya."
__ADS_1
Nova beranjak dari duduknya dan berjalan menuju masuk ke kamarnya untuk melanjutkan tugas sekolah yang sempat ia tunda karena pikirannya masih mengganjal, tapi sekarang ia sudah merasa lega karena nasehat dari sang ibu menenangkan hati dan pikirannya.