
"Mari mbak, kita kembali." Desi mempersilahkan.
"Makasih kak Desi." Balas Sezha ramah.
Sezha nampak biasa aja sedangkan Nova merasa tidak senang karena mereka batal untuk berkeliling di luar area Persinggahan pondok Mak Iyem'.
Sepanjang jalan menuju balik, wajah Nova terlihat masam.
Begitu sudah sampai di depan pintu kamar Sezha dan Nova, Desi meminta Sezha untuk ikut bersamanya.
"Oh ya mbak Sezha, pemilik tempat ini ingin bertemu dengan mbak Sezha." Ucap Desi.
"Saya hm ada apa ya ?" Tanya Sezha.
"Ada apanya itu nanti mbak bisa tanyakan langsung kepada beliau. Saya hanya menyampaikan pesan untuk mbak Sezha."
"Gitu ya, yaudah deh tapi bareng sama Nova juga ya." Pinta Sezha.
"Maaf mbak tidak bisa, beliau hanya ingin bertemu dengan mbak Sezha seorang." Desi menolak.
"Lah masa gak boleh sih, emang kenapa kalo temen saya ikut ?" Sezha sedikit protes.
__ADS_1
"Maaf sekali lagi mbak, saya dipesankan untuk meminta mbak Sezha saja bukan dengan teman mbak." Desi membungkukkan tubuhnya.
"Hm, ck gimana Nov? kamu gak apa-apa ni aku tinggal sendiri lagi." Sezha merasa tidak enak.
"Ya mau gimana lagi, yang mau ditemui kan kamu bukan aku. Jadi it's okey temui aja, aku nunggu dikamar." Terang Nova santai.
"Bener ni, ntar kamu kesel lagi sama aku." Sezha ragu.
"Iya Zha, yaudah sono buru temui yang punya ni tempat." Sahut Nova.
"Ok deh kalo gitu, aku tinggal dulu."
"Hm." Dijawab deheman oleh Nova.
"Yuk kak Desi." Ajak Sezha.
"Mari mbak." Timpal Desi.
Melihat gelagat Desi, Nova menaruh kecurigaan. Nova memiliki firasat jika akan terjadi sesuatu kepada Sezha.
"Aku ikutin aja, aku ngerasa kalo mereka ada niat gak baik sama Sezha. Ya, aku harus mastiin kalo Sezha gak kenapa-kenapa." Gumam Nova.
__ADS_1
Nova memutuskan untuk mengikuti Sezha dan Desi. Nova berjalan mengendap-endap, namun saat akan memasuki sebuah lorong menuju keruangan khusus dimana Desi mengajak Sezha dari arah belakang ada yang menepuk pundaknya cukup keras. Nova pun pingsan kemudian terjatuh kelantai.
Seseorang yang menepuk pundak Nova hingga Nova pingsan adalah Hanifah.
Setelah Nova pingsan, Hanifah menyeret tubuh Nova ke ruangan yang sudah ia siapkan untuk mengurung Nova agar Nova tidak menggalkan rencana Mak Iyem'.
Kaki dan tangan Nova diikat di sebuah kursi. Setelah mengikat Nova, Hanifah keluar dari ruangan ini dan meninggalkan Nova di dalamnya kemudian pintu ruangan ini dikunci.
Tak lama Hanifah keluar, Nova mulai sadarkan diri. Pandangan Nova masih belum jelas, kepalanya masih terasa pusing.
Nova mengedipkan-ngedipkan kedua matanya untuk dapat memperjelas pandangan.
Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba sudah berada di sebuah ruangan sempit minim penerangan tidak memiliki jendela hanya ventilasi udara. Udara disini sangat lembab.
"Aku dimana ini ? Ya Allah, hamba lagi dimana." Nova panik bercampur cemas.
Saat ia ingin bergerak, ia tidak bisa karena tangan dan kakinya terikat.
"Siapa yang udah ngelakuin ini, Ya Allah bagaimana ini." Nova was-was.
Ditengah kepanikannya, ada sosok dua anak perempuan memakai pakaian serba putih dan bediri tepat dihadapan Nova yang masih terikat.
__ADS_1
Sosok anak perempuan ini melihat kearah Nova dengan tatapan dingin.
Nova sontak membelalakkan kedua bola matanya.