
Setibanya di kamar rawat, Sezha dibuat terkejut karena adiknya diikat pada kepala ranjang.
"Ega.." Sezha tercengang.
Ayah dan ibu menatap sendu kearah Sezha yang baru datang.
Sezha juga sedih melihat kondisi adiknya yang seperti ini.
"Ega kenapa ? sampe diikat gitu."
"Adik kamu terus saja meronta, jadi dokter meminta perawat untuk mengikat adik kamu seperti ini." Rona sedih wajah ibu.
"Iya Zha, dokter belum tau apa penyebab adik kamu bisa menjadi seperti orang depresi begini." Timpal ayah yang juga sedih.
__ADS_1
"Kenapa dokternya belum bisa mendiagnosa apa penyakit Ega ? ayah, ibu.. seharusnya sebagai dokter, harus tau donk penyakit dari si pasien. Gak bisa, Sezha mau temui dokter itu, dimana ruangan dokter itu Bu ?" Sezha marah karena dokter dianggapnya tidak kompeten, padahal yang membuat Ega seperti itu juga dirinya yang notabenenya sebagai kakak kandung tapi ia tega.
"Sudahlah Zha, mungkin saat ini dokter sedang berupaya agar segera mengetahui sakit adik kamu, tenangkan diri kamu. Anak kamu bisa terkejut nanti."
Sezha bersikap seolah-olah tidak bersalah, ada rasa menyesal dalam hatinya tapi ia seperti orang yang telah diperbudak dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Andaikan ia memiliki hati nurani dan berfikir jernih saja pasti tidak akan menjadi runyam seperti ini.
"Iya Bu, masalahnya tuh dokter mau makan gaji buta, seenaknya aja ikat pasien kayak gini, emang dia kira Ega g*la ! pokoknya Sezha mau keruangan dokter itu sekarang, ibu tolong gendong adek." Sezha bersikeras ingin menemui dokter yang menangani adiknya, ia tidak terima adiknya diperlakukan layaknya orang kurang akal.
"Tapi Bu, Sezha gak bisa diem aja liat Ega di giniin tanpa tau sakitnya terus tuh dokter enak aja main ikat Ega gitu. Waras tuh dokter, jangan-jangan dokternya yang g*la, stres." Sezha mengupat kesal.
"Sezha ! jaga bicara kamu, kita dirumah sakit. Jangan kurang aj*r !" Sentak ayah ketika Sezha mengatakan hal yang mengatai dokter.
"Ayah kok bentak Sezha, seharusnya dokter itu kenapa Sezha ? dokter gak becus, ayah malah belain." Sezha gak terima di bentak ayahnya karena ia merasa tidak melakukan kesalahan, dia hanya ingin membela adiknya.
__ADS_1
"Kalo kamu tidak bisa jaga sopan santun, sebaiknya kamu pulang. Biar ayah dan ibu yang menjaga adik kamu." Ayah menyuruh Sezha untuk pulang meninggalkan rumah sakit.
"Sudah yah, jangan emosi. Sezha seperti ini juga karena ingin meminta kejelasan pada dokter tentang Ega." Ibu meredam emosi ayah yang mulai tinggi.
"Ibu jangan membelanya, tidak sepantasnya Sezha berbicara seperti itu."
"Ok Sezha gak akan bicara apapun lagi, terserah tuh dokter mau ngelakuin apa sama Ega. Sezha gak akan komentar lagi. Maafin sikap Sezha, Sezha kayak gini karena sedih liat Ega, ayah..ibu.." Suara Sezha berat tanda ia kecewa dengan sikap ayahnya yang bukannya memihak padanya malah menyalahkannya.
"Iya ibu tau, tapi tidak boleh juga kamu ngomongin begitu, Zha."
"Baik Bu, sekali lagi Sezha minta maaf." Sezha duduk dengan menahan rasa kekesalannya.
Ayah nampak diam tanpa mau menanggapi lagi karena pikirannya sedang kalut, bingung bercampur jadi satu melihat kondisi Ega.
__ADS_1