MAMA

MAMA
Bab 278


__ADS_3

Sore hari telah tiba, Sezha harus pergi ketepi sungai yang dimaksud oleh Tukijan.


"Udah jam 6 ni, kudu buru-buru kalo telat bisa marah Ratu karena menunggu lama. Yuk dek kita berangkat, kamu jangan rewel ya selama dijalan, mama gak suka jadi pusat perhatian gara-gara kamu nangis."


Sezha keluar dari rumah, ia memesan ojol. Disela ia sedang menunggu kebetulan Nova melintas tepat di tepi jalan.


"Itu kan Sezha ? mau kemana dia, padahal udah mau Maghrib. Aku samperin gak ya ?" Nova menghentikan mesin motornya namun ia bimbang untuk menemui Sezha karena hubungan pertemanan mereka berdua belum sepenuhnya membaik.


Sezha tidak melihat Nova karena Nova berhenti di sebrang jalan. Sezha fokus ke layar ponsel. Tak lama driver ojol pun datang. Sezha naik kemudian berangkat.


Nova yang masih berada ditepi jalan, merasa penasaran dengan perginya Sezha yang akan memasuki waktu Maghrib.


"Kenapa aku tiba-tiba penasaran ya kemana pergi Sezha ? tapi kalo aku ikuti bentar lagi masuk waktu Maghrib, yang ada nanti ibu kecarian..Duh entah kenapa perasaanku gak enak tentang Sezha ? Ya Allah moga aja Sezha selalu dalam lindungan-Mu." Nova memiliki firasat tidak enak pada Sezha.


Nova memutus untuk pulang, ia tidak jadi mengikuti Sezha karena waktu akan memasuk Maghrib.


Sementara Sezha telah sampai di tepi sungai, driver ojol menghentikan mesin motor.


"Mbak, kita udah sampai di alamat yang mbak tuju."


"Udah sampe bang ? Abang yakin ini jalan X yang saya maksud ? apa gak salah ?" Tanya Sezha ragu ketika sampai karena tempatnya sepi.


"Bener mbak, ini alamatnya sesuai dengan yang mbak kasih ke saya." Jawab driver yakin.


"Duh bang, sepi banget disini." Sezha memandang sekeliling.


"Kalo boleh tau emangnya mbak mau menemui siapa disini ? soalnya saya lihat tidak ada rumah penduduk hanya pepohonan." Tanya driver ojol.

__ADS_1


"Paman saya, katanya sih saya harus kesini. Kalo sepi gini mending saya pulang." Sezha berniat kembali kerumah.


"Sebaiknya mbak telpon saja paman mbak, bener tidak disini alamatnya, gak apa-apa saya tunggu. Soalnya mbak bawa bayi ini lho, bentar lagi mau Maghrib."


"Paman saya gak ada ponsel bang, duh gimana ya ? mana pak Tukijan belum kelihatan." Sezha risau, ia terus memandangi sekitar sembari mencari keberadaan Tukijan.


"Mbak maaf saya harus jemput penumpang lagi, jika mbak mau saya antarkan pulang gak apa-apa mbak saya antar."


"Yaudah deh bang, Abang balik aja. Mungkin paman saya sebentar lagi sampe."


"Beneran mbak gak apa kalo saya tinggal sendirian disini ? mbak yakin gak mau pulang, sepi banget lho mbak ?" Driver ojol menyarankan Sezha untuk pulang.


"Gak usah bang, oh ini ongkosnya. Abang balik aja, saya nunggu paman saya saja disini."


"Baiklah kalo gitu mbak, saya pergi dulu. Mbak hati-hati."


Sezha menegur driver karena bukannya menghidupkan mesin motor malah bengong.


"Bang, kok bengong. Katanya tadi ada penumpang buruan jemput sono daripada Abang entar dapet rating jelek. Saya gak apa-apa disini, Abang pergi aja."


"Eh iya mbak, kalo gitu saya permisi." Driver tersentak.


Yaudahlah aman nya ni kalo aku tinggal. Penumpang ku lebih penting.


Driver ojol menghidupkan mesin motor dan memutar balik motornya meninggalkan Sezha seorang diri.


Ojol telah pergi sekarang Sezha hanya berdua dengan bayinya. Sasana tepi sungai ini sungguh sepi dan banyak ditumbuhi pepohonan, tidak ada pemukiman penduduk.

__ADS_1


"Ya ampun mana lagi pak Tukijan ck katanya suruh datang kesini tapi batang hidungnya belum nongol. Aish mana banyak nyamuk."


Tukijan mendatangi Sezha yang nampak gelisah.


"Kamu sudah sampai, ayo ikuti saya. Sebentar lagi Ratu akan tiba."


"Bapak lama banget sih kirain saya bapak gak dateng lho, hampir aja saya balik tadi." Protes Sezha.


"Saya sudah dari tadi, tidak mungki saya menghampiri kamu karena kamu masih bersama orang lain. Saya tidak mau jika sampai ada orang lain yang mengetahui."


"Owh tuh kan ojol pak, gak mungkin dia pengen tau. Yaudah pak buruan ketempat Ratu, nanti kalo telat Ratu bisa marah ke saya."


"Ayo, sebentar lagi langit akan menunjukkan warna jingga yang sempurna. Dimana warna langit yang sangat disukai oleh Ratu."


Sezha di bawa Tukijan ke tepi sungai, di sini ada sebuah kursi kayu dan juga tali, penerangan hanya berasal dari 4 obor.


Sezha melihat sekeliling tidak ada apa-apa lalu ia bertanya.


"Pak penerangannya cuma pake obor doank? gelap donk pak. Udah gitu saya mau nanya, disini ada kursi sama tali untuk apa pak ?" Tanya Sezha ingin tau sebab dia merasa heran.


"Nanti kamu akan tau, setelah kehadiran Ratu. Sebaiknya kamu duduk dulu di kursi itu." Tukijan menyuruh Sezha untuk duduk di kursi kayu yang telah Tukijan siapkan sebelum Sezha tiba.


"Iya pak (timpalnya dengan raut wajah ragu), kursinya cuma satu, terus bapak duduk dimana ?"


"Tidak usah pikirkan saya, saya biasa lesehan tidak biasa menggunakan kursi. Sudah kami duduk dengan santai saja sambil menunggu Ratu Ajeng."


Sezha mengangguk sembari duduk di kursi ini.

__ADS_1


__ADS_2