
Tak berselang berapa lama, Nova pun sampai.
Nova turun dari motor, sedangkan ibunya langsung memasukkan motor dari pintu samping.
Sezha dan Arin yang tadinya duduk, begitu melihat Nova mereka berdua berdiri berbarengan.
Spontan pandangan Arin tertuju ke perut Sezha yang nampak sedikit menonjol dari biasanya, kemudian beralih memandang Sezha dari ujung kepala dan berakhir diujung kaki.
Sezha sadar jika Arin memperhatikan tubuhnya seperti heran dan aneh.
"Ekhem.." Sezha berdehem sembari melirik malas kearah Arin.
Arin tersentak dan langsung membuang pandangannya dari memperhatikan perubahan bentuk Sezha.
Nova menyapa Sezha dan Arin yang nampak canggung satu sama lain.
"Hallo..maaf nunggu lama ya. Yaudah yuk masuk, kita ngobrol didalam sambil makan gorengan, tadi ibu aku beliin buat kita." Ajak Nova mempersilahkan.
Pandangan Nova sama dengan Arin, begitu melihat Sezha seperti ada yang lain. Nova juga memperhatikan Sezha dengan serius, pandangannya terhenti pada bagian perut Sezha.
Sezha merasa risih dari Arin dan sekarang Nova melempar pandangan yang membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
"Kamu kok liatin aku kayak gitu amat sih Nov, macem pertama kali ketemu aja deh. Emang ada yang aneh ya sama penampilan aku ? perasaan biasa aja." Sezha merasa kalo penampilan dirinya tidak ada yang salah.
"Hm itu lho Zha, perut kamu kok rada buncit ya ?" Tanya Nova heran bercampur curiga.
"Oh biasalah namanya juga aku suka makan malam makanya jadi buncit gini perut aku." Sezha beralasan, ia masih menutupinya pada Nova sebab ia tidak mau jikalau Arin tau.
Nova mengangguk bingung sembari berfikir dan sempat terlintas dipikirannya kalo Sezha saat ini sedang hamil.
Karena Sezha telah mengatakan alasannya, Nova pun secepatnya membuang jauh-jauh pikirannnya yang sejenak tadi mengira Sezha hamil.
"Kuy lah masuk." Ajak lagi Nova.
Nova membuka pintu lalu Arin dan Sezha mengikuti dari belakang.
"Ok Nov." Sahut Arin.
Setelah Nova pergi kedapur, sekarang Arin dan Sezha hanya berdua. Rasa kepo Arin sudah tak tahan lagi. Arin sedikit ragu memberanikan bertanya pada Sezha.
"Zha, aku boleh tanya sesuatu gak ?"
"Tanya apa ?" Sezha menanyakan balik.
__ADS_1
"Hm, kamu tadi sewaktu di restoran seafood emang beneran gak liat aku ya ? padahal aku tadi panggil kamu dan suara aku keras lho."
"Uh..itu apa ck tadi itu pacar aku buru-buru makanya gak liat kamu. Maaf ya." Ekspresi wajah Sezha berubah kikuk.
"Jadi bener itu pacar kamu ya ? Woah aku kira bukan pacar kamu. Sekali-kali kenalin ke kita donk, Zha." Arin bersemangat yang awalnya ragu.
"Iya nanti deh, pasti aku kenalin."
"Ish jangan kaku gitu donk, tenang kita mah gak suka temen makan temen. Jadi aman kok." Arin dengan percaya dirinya merangkul pundak Sezha.
"Ach gak kok, aku santai." Sezha senyum terpaksa.
"Nah gitu kan enak senyum. Satu lagi ni Zha, aku pengen tanya ke kamu. Jawab ya, jujur."
"Mau tanya apa lagi hem ?" Raut wajah Sezha malas.
"Ini soal perut kamu, kamu yakin gak ada yang lain gitu sama perut kamu. Ni ya, aku liat itu perut kamu rada buncit nonjol gitu, hm persis kayak tetanggaku yang lagi hamil." Ucap Arin santai sambil membayangkan tetangganya.
"Kan tadi aku udah bilang, kalo aku suka makan malam makanya jadi buncit gini, huu gak nyimak tadi kamu ya sewaktu aku bilang sama Nova, hadeh. Stop deh bahas perut aku." Sezha merasa tidak senang dengan pertanyaan Arin yang mengulang pertanyaan Nova tadi.
"Hehe peace Zha (Arin mengacungkan duaa jari tanda ia meminta maaf sembari nyengir kuda ). Canda doank aku. Ketat banget tuh wajah." Arin jadi canggung.
__ADS_1
"Hem." Hanya dijawab deheman singkat.