
Sezha mengacuhkan sosok kelebatan putih yang melintas tepat disampingnya tadi. Ia kembali fokus mencari warna cat rumah yang dikatakan oleh penjual sayur yaitu cat hitam putih.
Setelah melewati cukup banyak rumah, akhirnya ia menemukan sebuah rumah papan yang bercat kan hitam putih.
"Apa ini rumahnya ya ? kalo seperti yang dikatakan si ibu sayur tadi, pasti ini sih soalnya gak ada lagi yang warna catnya gini, cuma rumah ini doank." Sezha mengira sambil berdiri tak jauh dari rumah yang bercat hitam putih.
Sezha masih ragu, ia belum sepenuhnya yakin kalo itu adalah rumah Tukijan yang ia cari.
Tukijan dari arah dalam rumah yang bercat kan hitam putih mengintip Sezha dari balik tirai jendela.
"Ada pasien baru rupanya." Ucapnya sembari memperhatikan Sezha.
Tukijan sengaja tidak keluar dari rumahnya, padahal ia sudah tau jika Sezha sedang mencari rumahnya. Usai mengintip dari balik tirai, Tukijan kembali duduk sambil meminum kopi yang ada dimeja.
Sezha masih terus saja memperhatikan warna cat setiap rumah yang berjejer. Ia tidak menemukan warna cat yang sama dengan rumah papan ini.
"Yaudah deh, ketuk aja daritadi aku cek warna cat yang hitam putih cuma rumah papan ini." Sezha yakin.
Sezha melangkahkan kedua kakinya mendekati rumah papan.
__ADS_1
"Permisi !" Serunya tanpa mengucapkan salam.
Tukijan membuka pintu.
"Silahkan masuk."
Sezha bingung maksudnya ia ingin bertanya dulu apakah benar jika rumah ini adalah milik Tukijan tapi ia belum sempat ia bertanya, malah sudah dipersilahkan masuk.
"Hm, tapi pak maaf apa benar kalo pemilik rumah ini itu pak Tukijan ? soalnya warna cat rumah bapak sama dengan yang dikatakan oleh ibu penjual sayur." Jelas Sezha.
"Saya Tukijan, mari masuk. Saya sudah tau kamu mau melakukan apa."
"Oh iya pak, terimakasih."
Sezha berjalan memasuki rumah Tukijan, sambil pandangannya menyapu tiap sudut diruangan yang terbilang cukup sempit ini.
Tukijan menegurnya.
"Saya tau rumah saya kecil, silahkan duduk."
__ADS_1
"Iya pak." Sezha mengangguk canggung.
Buset dah bapak ini kayak bisa baca pikiran aja.
"Tunggu disini, saya mau kedalam dulu."
"Iya pak tapi tidak lama kan pak soalnya saya takut kalo pulang terlalu larut."
"Kalo kamu takut, kamu boleh pulang sekarang. Pintu saya masih terbuka lebar." Tukijan malah mengusir Sezha.
"Bu-bukan begitu maksud saya pak, hem gini lho pak aduh gimana ya." Sezha tergagap sembari tak tau harus mengatakan apa.
"Saya tanya sekali lagi, saya paling tidak suka dengan orang plin plan. Tujuan kamu kesini itu apa ? kalo kamu berminat meminta bantuan saya, kamu cukup diam dan jangan terlalu banyak bicara, tapi kalo kamu ingin pulang, saya tidak akan keberatan." Tegas Tukijan bertanya pada Sezha.
"Saya ingin meminta bantuan bapak." Ucap Sezha mantap.
"Bagus, tunggu sebentar. Saya akan menyiapkannya."
Sezha hanya mengangguk tanpa mengatakan sesuatu, karena ia takut kalo ucapannya salah.
__ADS_1
Astaga.. killer amat ni si bapak, gak ada senyum-senyumnya perasaan. Moga aja jago dah.
Maklum saja raut wajah Tukijan serius tanpa basa-basi, ia paling tidak suka orang yang ragu-ragu memakai jasanya. Maka dari itu ia bertanya dengan tegas kepada Sezha.