
Malam harinya tepat pukul 11 malam, rupa bayi Sezha kembali seperti awal ia dilahirkan.
Kebetulan Sezha belum tidur, begitu melihat bayinya berubah seketika ia merasa tidak bersemangat melihat bayinya.
Mau sampe kapan aku harus menghadapi bayi aku sendiri yang berubah seram gini tiap jam 11 malam hiks Ratuuuu . Sezha merengek dalam hati.
Bayi Sezha menangis tanda ia haus, Sezha benar-benar bingung jikalau harus menyusui bayinya dengan rupa seperti ini.
Sezha bergidik ngeri memadangi gigi runcing bayinya. Rasa perih di pu*ingnya baru saja berkurang, gimana kalo malam ini dia menyusui bayinya dengan gigi-gigi runcing begitu.
"Stttttss...diam ach. Mama bukan gak mau nyusui kamu. Masalahnya gegara kena gigi kamu, pu*ing mama jadi luka, kamu tau rasanya itu perih banget. Ck baru aja mau sembuh lukanya eh kamunya balik lagi ke wujud waktu lahir."
Bayi Sezha berhenti menangis, lalu merangkak ke arah Sezha.
__ADS_1
"Ma~ma~ma.." Ucapnya dengan logat khas bayi yang berusia 6 bulan keatas padahal usianya baru 2 hari tapi bayi Sezha sudah bisa celoteh dan merangkak.
"Iya mama tau, kamu mau nyusu kan. Yaudah mama kasih ya, tapi ingat jangan kuat kali bisa lepas pu*ing mama ntar." Sezha nampak biasa dengan rupa bayinya.
Bayi Sezha mengangguk tanda ia mengerti.
Dengan rasa berat hati Sezha tidak ada pilihan ia harus tetap menyusui bayinya apapun rupanya.
Bayi Sezha menghisap dengan lahapnya, seperti tidak diberi minum ASI seharian.
Bayinya nampak tidak menghiraukan teguran mamanya dan rasa sakit yang dirasakan, ia terus saja menghisap kedua pu*ing Sezha secara bergantian dengan lahapnya.
Hingga kedua pu*ing Sezha kembali luka dan mengeluarkan darah barulah bayi Sezha berhenti menyusu dan kedua matanya terpejam. Ya usai puas menyusu bayi Sezha tertidur pulas.
__ADS_1
Sementara Sezha menitikan bulir air mata karena kembali ia rasakan perih dan luka dibagian pu*ingnya.
"Hiks..sakit.. ssshhhhh.." Sezha mengelap kedua pu*ingnya yang terluka dengan kapas yang sudah diolesi obat antiseptik.
Sezha benar-benar menderita dengan lahirnya bayi ini di kehidupannya. Tapi Sezha tidak bisa lari karena ini adalah keinginannya jadi mau tidak mau dia harus menjalaninya tanpa ada hak untuk menolaknya atau membatalkannya.
Dalam hati, Sezha memanggil Ratu Ajeng untuk hadir saat ini juga ke kamarnya. Ia ingin mengadu pada Ratu. Sezha berharap Ratu Ajeng bisa mengasihaninya.
"Aku harus memohon pada Ratu sekali lagi, agar menyempurnakan rupa bayi aku. Aku gak tahan kalo tiap malam harus menyusui bayi aku dengan rupa seperti ini ssshhhhh."
Sezha memejamkan matanya dan memanggil nama Ratu Ajeng.
"Ratu Ajeng, saya mohon datanglah..datanglah..Ratu. Saya ingin meminta belas kasihanmu sekali lagi. Saya mohon Ratu.. Abdi setiaku hanya untukmu Ratu Ajeng. Ikrarku tidak akan pernah sirna sampai kapanpun."
__ADS_1
Sampai Sezha selesai mengucapkan itu, belum ada tanda-tanda kemunculan Ratu Ajeng.
"Hmmm biasanya Ratu kalo dipanggil langsung dateng, kenapa sekarang gak ya ? apa Ratu bosen datengin aku. Duhh gimana ini, cuma Ratu yang bisa nolong aku." Tergambar raut wajah kecewa karena ketidak munculan Ratu saat Sezha memanggil.