
Tak lama sehabis Arin pergi, taksi online yang dipesan Sezha pun datang.
Mereka berdua pun menaiki taksi online.
Jarak yang mereka tempuh cukup jauh, memakan waktu kira-kira sekitar 2 jam, itu juga kalo terkena macet. Bila terkena macet maka perjalanan akan menambah waktu lagi.
Sudah hampir 1 jam lebih mereka menempuh perjalanan.
Mereka memasuki sebuah perkampungan yang cukup sepi, hanya ada beberapa rumah penduduk dengan dikelilingi persawahan dan perkebunan. Tempat ini jauh dari keramaian. Sunggu benar-benar perkampungan yang masih asri, sama sekali belum terjamah hiruk pikuk suasana perkotaan.
Sezha membuka kaca taksi, ia ingin merasakan angin pendesaan masuk kedalam taksi.
"Woah padahal udah tengah hari tapi suasananya masih seger gak terasa panas. Oh ya pak, masih jauh ya pak ?" Tanya Sezha pada sopir taksi.
"Tidak neng, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab sopir taksi.
"Kirain bakalan lama sampenya, eh gak taunya udah sampe aja disini. Gak kerasa perjalanannya, ya gak Nov ? ish kamu diem aja daritadi, nikmati donk ini kan kita lagi liburan, gimana sih." Sezha mengajak bicara Nova yang sedari tadi hanya diam saja sembari melihat pemandangan dari balik kaca taksi.
"Gak apa-apa kok, aku cuma ngantuk aja." Nova tersenyum tipis.
__ADS_1
"Beneran kamu gak apa-apa ?" Sezha memastikan.
"Ya Zha, aku gak apa-apa." Nova meyakinkan.
Mereka sedang berbincang, tiba-tiba sopir taksi menginjak pedal rem secara spontan.
Kening mereka berdua pun terpentuk kursi depan.
"Awww, sakit." Sezha memegangi keningnya yang habis terpentuk.
"Ada apa sih pak? ngerem mendadak gini, kening kita jadi kejedot deh, malah keras banget lagi." Sezha protes tapi masih dengan nada sopan.
"Ini maaf neng, itu di depan ada seorang kakek lagi menyeberang. Makanya bapak menginjak rem mendadak." Sopir menunjuk kearah depan taksinya.
Nova dan Sezha melihat bersamaan tentang adanya seorang kakek yang muncul tiba-tiba menyebrang tepat di depan taksi yang mereka tumpangi.
"Eh iya, pantes aja tapi darimana datengnya tuh kakek ya ? hm ." Timpal Nova.
"Entahlah, soalnya tadi kita kan lagi ngomong jadi gak fokus kejalan." Sezha mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Sama neng, bapak saja yang fokus ke jalan saja tidak menyadari jika ada kakek-kakek muncul tiba-tiba terus langsung menyeberang, untung bapak sempet ngerem kalo tidak aduh bapak tidak tau bagaimana jadinya nanti." Ungkap pak sopir.
Kakek-kakek ini berjalan menyeberang dengan sangat perlahan tanpa mengindahkan keberadaan kami disini.
Sezha dan Nova memutuskan untuk turun dari taksi guna ingin menanyai si kakek.
"Kek, permisi." Sapa Sezha.
Kakek menoleh ke wajah Sezha dengan tatapan misterius.
Nova memandangi area sekitar, Nova bergidik merinding. Nova merapat ke samping Sezha yang mencoba berbincang dengan si kakek.
"Zha, yaudh yuk balik ke taksi. Mungkin kakek ini mau pulang. Ya kan kek ?" Tanya Nova gugup.
Si kakek masih diam saja tanpa mau menjawab pertanyaan dari mereka berdua ,hanya tatapan aneh yang diberikan oleh si kakek.
Namun Sezha tidak mudah menyerah, ia mencoba bertanya lagi kepada si kakek.
"Kek, kenalin saya Sezha dan ini temen saya Nova. Kami datang dari kota. Kalo kita boleh tau kakek ini penduduk asli disini?"
__ADS_1
Kakek mengangguk tanda mengiyakan ucapan Sezha tapi masih tetap dengan tatapan yang sama.