Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
10. Anakmu Boleh Kutempeleng?


__ADS_3

"Hari ini saya udah mulai ke kantor." Adji membuka percakapan begitu Juwita meletakkan kopi di depannya. "Biasanya Cetta cuma sama pengasuh sampe Banyu sama Abi pulang. Kamu bisa bantu jagain, kan?"


Juwita tersenyum. "Gampang, kok." Asal tidak ada provokatornya—alias dua setan besar itu, maka setan kecil tidak akan beraksi.


Melihat senyum Juwita, Banyu yang menyimpan dendam dibangunkan pagi-pagi, dan Abimanyu yang dendam dikatai payah pun kompak saling menyeringai.


Cetta kemarin sedang tidak enak badan, jadi kurang beraksi. Kalau hari ini dia fit, maka bisa dijamin Juwita akan menangis meraung-raung.


Tapi karena Juwita tak tahu itu, dia hanya berpikir positif. Ikut makan bersama dalam keheningan keluarga serba laki-laki itu.


"Cetta, habisin makannya." Suara baru terdengar waktu Cetta berhenti makan.


Anak itu menggeleng. Tiba-tiba lompat dari kursi. "Mau main sama Pika."


"Pika?" Juwita menoleh pada Adji.


"Ularnya." Adji menjawab santai. "Bi, liat adekmu dulu."


Abi beranjak sementara Banyu tersenyum miring pada Juwita. "Mama Baru, jagain piaraan kita, yah? Kasih makannya dua kali sampe kita pulang."


Perasaan Juwita tidak enak. "Piaraan kamu apa? Ular juga?"


"Ular mah mainan anak-anak." Banyu beranjak, dan saat dia kembali, Juwita menegang luar biasa kaku.


Kura-kura raksasa diletakkan di atas sisi meja yang kosong. Hanya beberapa detik setelah itu kepala kura-kuranya muncul, dan Juwita menjerit.

__ADS_1


"Huaaaaaaa!"


Banyu terbahak-bahak melihat Juwita bahkan lompat me belakang Adji, jauh lebih histeris dari saat dia melihat ular kecil.


Adji yang tak menyangka Juwita takut kura-kura langsung berusaha menenangkannya, tapi Juwita tambah histeris.


"Iyuh, iyuh, iyuh! Jangan yang itu, plis, jangan yang itu! Ayaaaaaaaaah!"


Mendengar suara heboh Juwita, Abimanyu berlari menggendong Cetta yang tengah memegang ular kecil kesayangannya.


Mereka ikut tertawa melihat Juwita.


"Banyu!" teriak Adji sebagai isyarat kura-kura itu dibawa pergi.


Pikir Adji, gadis seperti Juwita tidak akan takut pada sesuatu semacam itu. Kemarin juga, nampaknya dia cuma terkejut dengan ular peliharaan Cetta alih-alih takut.


Apa yang menakutkan dari kura-kura? Begitu pikir Adji, tapi tetap harus menunjukkan kepedulian.


"Hei, hei, Juwita. Enggak pa-pa. Kura-kuranya udah pergi."


Juwita berusaha bernapas teratur, sadar bahwa dia telah kalah telak dari tiga setan itu.


Sialan. Setiap kali Juwita menang dari Abimanyu, selalu ada Banyu setelahnya yang mempecundangi Juwita.


"Kamu enggak pa-pa?" tanya Adji.

__ADS_1


Juwita mengusap keringat di keningnya, mengangguk dan berdiri. Kakinya masih gemetar karena tadi.


Sebenarnya ia bukan takut. Juwita bahkan tidak takut setan. Tapi itu menjijikan dan intinya membuat Juwita bahkan mau muntah.


Di belakang Adji, Banyu menjulurkan lidah, mengejek.


Napas Juwita mulai teratur, tapi emosinya memuncak.


"Mas."


"Ya?" Adji terkejut Juwita yang nampak selalu canggung memanggilnya tiba-tiba berkata begitu. "Kamu kena—"


"Anak kamu," Juwita tersenyum, "boleh kutempeleng enggak?"


Banyu dan Abimanyu melongo. Begitu pula Adji.


Orang yang secara teknis jadi ibu baru anak Adji, istri yang dipercaya oleh mantan istrinya menjaga ketiga anak mereka, baru saja minta izin menempeleng mereka?


Adji menutup wajahnya dan tertawa lagi. Astaga, gadis ini. Dari kemarin dia selalu membuat tertawa untuk hal yang aneh.


"Boleh," jawab Adji setengah tertawa. "Silakan aja."


Banyu dan Abimanyu cuma bisa cengo.


*

__ADS_1


__ADS_2