Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
81. Ibu dan Anak Tiri


__ADS_3

Perempuan sialan.


Ajeng nyaris membanting handphone-nya melihat foto-foto yang dikirimkan Juwita itu. Sudah jelas tanpa perlu ditanya bahwa Mbak Uni tidak berhasil.


Hah, dasar bodoh. Mengerjakan pekerjaan kecil saja tidak bisa.


Ya bodo amat sih dia berhasil tidak berhasil. Memang gunanya itu, kan? Kalau berguna dipakai, tidak berguna ya dibuang.


Ajeng juga mendengar Nana 'menghilang'. Nomornya tidak bisa dihubungi, kemungkinan besar karena perbuatan Adji.


Harus ada bahan baru. Anak-anak Adji semuanya diawasi, termasuk keluarga yang dianggap penting olehnya.


Pasti ada sesuatu. Celah yang bisa meretakkan.


Sebuah hal kecil yang tidak akan Adji duga.


Celah .... Hmmm, celah, yah?


Hubungan terlarang anak tiri dan ibu tiri bisa jadi celah, kan? Karena jelas Juwita tidak akan berkutik kalau Adji tahu mengenai itu.


...*...


"Bocah."


Juwita ketagihan memanggil anak tirinya begitu, apalagi waktu mereka kompak menoleh bertiga.


Dan lucu bagi Juwita waktu ia merentangkan tangan, Cetta langsung datang, disusul Abimanyu dan Banyu di sisinya.


"Aku denger pertandingan di Asgard udah selesai. Yang juara satu voli siapa?" tanyanya pada Abimanyu.

__ADS_1


Mereka semua belakangan sibuk mengurus Juwita sampai rasanya masing-masing lupa pada kehidupan sendiri. Terutama Abimanyu. Dia cuma ke sekolah lalu ke rumah sakit, tidak latihan seperti biasa.


Juwita agak khawatir kalau prestasi dia merosot, padahal setelah pindah nanti dia bakal bertemu tim yang luar biasa juga seperti dirinya.


"Aku udah ngomongin sama Papa, semester depan kamu pindah sekolah aja. Sandy juga udah rekomendasiin sekolah buat kamu."


Tapi Abimanyu malah berkata, "Enggak usah ngurusin sekolah gue. Urusan diri lo sendiri dulu."


"Enggak bisa, Bocahku. Aku tuh di sini emang buat ngurusin kalian."


Juwita menepuk-nepuk sisinya, agar mereka ikut duduk. Banyu di sisi kanan sementara Abimanyu di sisi kiri, dan Cetta duduk di pangkuannya.


"Aku seneng loh kalian begini. Perhatian sama aku. Tapi sekolah tetep nomor satu. Banyu, lomba sains harus tetep fokus. Abimanyu juga lomba voli tetep harus nomor satu. Kan bentar lagi pertandingan nasional, kan? Bikin bangga diri sendiri, bikin bangga Papa, Mama sama aku. Oke?"


"Biar Kakak cepet pulang?" Cetta mencium bibirnya. "Sayang Kakak."


Juwita terkekeh. Balas mencium kening Cetta, dan mengajak mereka bercengkrama santai.


Wajah pucat ibu tirinya masih terlihat cantik setiap kali dia tertawa.


Cara dia bicara juga semakin tenang dan lembut, mendengarnya Banyu bicara soal bagaimana persiapannya mengikuti lomba sains tingkat nasional dalam beberapa bulan.


"Tapi aku seumur hidup enggak pernah ikut lomba loh di sekolah."


Juwita menepuk tangan Abimanyu tanpa tahu itu menyengat.


"Kayak, aku tuh selalu ikut banyak kegiatan tapi lomba enggak pernah. Cuma pernah jadi pengiring bendera pas upacara tujuh belas Agustus."


Abimanyu tidak menyimak, sebab Juwita secara tidak sadar terus memegang punggung tangannya.

__ADS_1


Itu enggak istimewa sih, karena Juwita juga melakukannya pada Banyu. Namun itu membuat Abimanyu jadi diam, menatap tangan mereka.


"Kakak waktu sekolah ranking berapa?"


"Aku enggak pernah tau rasanya ranking tiga." Juwita tersenyum pongah pada Banyu. "Kalo enggak satu berarti dua. Kalo aku ranking dua, itu pasti karena dua minggu sebelum ujian aku masih sering main sama temen."


"Berarti Kakak pinter?"


"Iya dong. Banyu ranking berapa, hm?"


"Abang Banyu kemarin ranking empat."


Banyu langsung melotot, menutup mulut Cetta. Tapi Juwita tertawa lepas, mengejek meski segera minta maaf dan berkata dia hanya bercanda.


Karena tertawa, Cetta tak sengaja menarik rambut Juwita.


"Aw."


Abimanyu hanya spontan meraih wajah Juwita, mengintip ke belakang untuk memastikan lukanya.


"Enggak pa-pa?" tanyanya pelan, khawatir jika dia kesakitan.


"Kamu nih overreacting kayak bapakmu. Enggak pa-pa, Abi." Juwita merespons santai, tak menepis tangan Abimanyu di pipinya walaupun sudah tidak perlu mengecek lagi.


Mungkin bagi Juwita, Abimanyu memegang wajahnya itu sama dengan Cetta memegang wajahnya.


Tapi Banyu berbeda. Sadar ketika tangan abangnya agak terlalu lama, anak itu menepis pelam.


"Udah, lo tidur aja." Banyu mendorong Juwita berbaring. "Istirahat."

__ADS_1


*


__ADS_2