Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
58. Harus Berpikir Ulang


__ADS_3

Adji berjalan cepat meninggalkan parkiran rumah sakit, masuk ke UGD di mana Juwita berada. Di sana sudah ada Abimanyu, Banyu bahkan Cetta yang mendampingi sementara Juwita berbaring di brankar.


"Papa!" Cetta berseru.


Tapi Adji tidak bisa membalasnya, langsung meraih tangan Juwita yang dingin.


Wajahnya bengkak. Luar biasa bengkak, menandakan pukulan yang dia dapat bukan main kerasnya.


"Kok bisa kayak gini?" Adji berbisik getir. "Kamu liat orangnya? Kamu tau siapa?"


Juwita menggeleng, tapi ekspresinya kosong, membuat Adji sedih.


Sementara Banyu yang tahu bahwa sebenarnya itu pukulan untuknya hanya bisa menunduk.


Sumpah Banyu tidak paham datang dari mana orang gila itu sampai-sampai mau memukulinya. Mungkin mulut Banyu memang bikin orang naik darah, tapi Banyu cukup yakin mulutnya tidak sampai sekurang ajar itu membikin orang dendam.


Masalahnya, Juwita yang kena.


Karena Banyu.


"Maaf." Banyu menunduk gemetar. Merasa sangat bertanggung jawab sampai ingin menangis. "Juwita, gue—"


"Ssshhh." Juwita malah menggeleng. "Kalian belum makan, kan? Sana ke kantin makan. Sana, Abi, ajakin adekmu makan."


Di situasi ini, mereka harus gila dulu baru menolak perintah Juwita. Abimanyu patuh merangkul bahu Banyu, dan menarik Cetta pergi.


Adji melihat anak-anaknya pergi sebelum kembali fokus pada Juwita.

__ADS_1


"Saya enggak bilang ke Ibu sama Ayah kamu. Takutnya mereka panik."


"Makasih."


Adji mengerutkan kening frustrasi. Tampak luar biasa tertekan karena kondisi Juwita. Napasnya berembus kasar, memegang tangan Juwita padahal tangannya sendiri dingin. "Maafin saya. Saya enggak becus jaga kamu. Maaf."


"Jangan ngomong gitu." Tapi Juwita menarik Adji, minta dia memeluknya karena takut.


Itu sakit. Luar biasa sakit sampai ke ulu hati. Orang asing tiba-tiba datang memukuli dan menginjak-injaknya.


Dan entah kenapa Juwita merasa itu semua untuk dirinya, bukan mengincar Banyu. Atau, entahlah. Juwita tidak paham.


Maksud Juwita, soal teror itu, lalu tiba-tiba ia dipukuli tanpa sebab, itu semua menakutkan.


Dirinya tidak pernah diperlakukan seperti itu. Dikatai atau diremehkan pernah, mungkin sering, tapi sampai main fisik, meneror seolah Juwita buronan, itu menakutkan.


"Saya jagain kamu sekarang." Adji memeluk istrinya erat-erat. Menepuk punggungnya dan ikut merasa pamas oleh isak tangis Juwita. "Jangan nangis, Sayang."


*


Abimanyu sejujurnya tidak menyangka bakal melihat hal ini dalam hidupnya. Di TV memang kadang muncul berita pembunuhan untuk alasan sepele, tapi sampai melihat keluarganya jadi korban kekerasan orang asing, siapa yang bisa percaya?


Adji sudah meminta pelaku itu ditemukan dan kepolisian bergerak mencarinya secepat mungkin. Masalahnya, motif orang itu sebenarnya apa?


"Abang." Cetta menarik tangan Abimanyu hingga keluar dari lamunan. "Kakak Juwita kenapa dipukul orang?"


"...."

__ADS_1


"Cetta enggak mau Kakak pergi juga kayak Mama."


Di sebelah Abimanyu, Banyu melamun. Ucapan Cetta yang terdengar samar justru membuat Banyu tersentak merinding.


Itu salahnya.


Kalau Juwita tidak melindungi Banyu, dia tidak akan mengalami itu.


"Dia yang nyelametin adek kalian." Banyu mau tak mau memutar kembali ingatannya tentang Mama. "Orangnya baik. Keliatan banget dari caranya ketawa. Kalian jagain, yah? Mama suka banget sama dia."


Banyu merasa mau muntah. Bukan karena muak, tapi karena perasaan aneh di dadanya.


"Kalian kayaknya ngeremehin yang Mama kalian omongin."


"Mama kalian bilang, kalo enggak ada Juwita, Cetta udah enggak ada. Selalu Mama bilang. Kalian paham maksudnya? Diliat lagi, kayaknya enggak."


"Kalian enggak paham karena yang kalian liat Cetta baik-baik aja, dibawa pulang sama Mama yang cerita sambil nangis. Kalian pasti mikir 'lebay ah gitu doang'."


Banyu telungkup di meja kantin rumah sakit, lali pelan-pelan bahunya terguncang.


Melihat adiknya menangis seperti itu, Abimanyu cuma membuang muka.


Mereka memang selalu melihat jasa Juwita pada Cetta itu remeh. Bukannya mau meremehkan, tapi memang kelihatannya tidak ada apa pun yang terjadi.


Tapi sekarang, melihat Juwita sampai terluka begitu, mungkin mereka harus berpikir ulang.


*

__ADS_1


__ADS_2