Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
17. Jenis-Jenis Ibu Tiri


__ADS_3

"Cetta, ayo pulang sama Papa dulu, Nak."


Anak itu memeluk leher Juwita erat-erat. "Enggak mau."


"Besok jemput Kakaknya lagi." Adji berusaha menarik dia, tapi Cetta bersikeras memeluk Juwita. "Ayok, Nak. Nyetir sama Papa berdua. Ayok."


"Aaangg, enggak mau. Sama Kakak."


Juwita terkekeh canggung. Sebenarnya ia sendiri malah tidak paham kenapa anak tirinya malah jadi lengket. Padahal tidak seperti mereka sangat akrab juga sekarang.


"Abangmu sendirian di rumah, loh. Ayok."


Cetta malah meletakkan wajahnya di bahu Juwita. "Yaudah, pulang sama Kakak."


Murahan juga yah bocah ini? Nampaknya dia tak perlu terlalu diberi pendekatan super, karena dengan main bola tadi sudah cukup membikin dia suka.


"Kamu pulang aja sama Adji," ucap Ayah tiba-tiba. "Kapan-kapan nginep kalau mau. Atau nanti kalau Ibu keluar baru kamu nginep sama-sama di rumah."


Juwita melihat Ibu, terus terang mau menginap untuk lebih lama bersama. Rasanya mendadak sudah sangat lama tidak bertemu.


Tapi karena Ayah sudah berkata demikian, Juwita patuh. Mengambil tasnya untuk keluar bersama Adji dan Cetta yang mendadak mau digendong saja.


"Kamu kenapa malah suka aku, hm?" Juwita mencubit hidungnya gemas. "Kamu kan ngetawain aku kemarin sama uler. Enak banget yah sekarang maunya digendong mulu."


Cetta malah tertawa. "Kakak takut uler, yah? Payah."


"Idih, kamunya berani main uler kecil juga."

__ADS_1


"Papa sukanya sama uler besar."


Juwita langsung bergidik, menatap Adji ilfeel. Merasa dipandangi dengan sorot tidak menyenangkan, Adji tersentak.


"Saya cuma megangin. Bukannya suka."


Meragukan. Kalau dipikir lagi, dari mana anaknya Adji punya hobi memelihara ular kalau bukan dari dia?


"Mamanya anak-anak yang hobi." Adji meringis. "Melisa dulu malah pernah pelihara buaya, tapi umur dua tahun buayanya mati. Mau pelihara lagi, saya larang. Jadinya dia pelihara yang lain."


Serius?!


Uwwah, wanita itu punya selera aneh ternyata.


*


Ketika Juwita membuka pintu, lampu kamar ternyata masih menyala.


Abimanyu sedang duduk membersihkan bola volinya dengan kain basah, sementara Banyu tengah duduk di kursi belajar dengan laptop menyala.


Mereka kompak menoleh, tapi Juwita lagi-lagi memasang wajah 'enggak usah liat-liat'. Dibawa Cetta ke kasur, menyelimutinya baik-baik.


Juwita menarik tirai kelambu agar dia tak terlalu duganggu oleh cahaya lampu, kemudian berbalik pergi.


Tentu saja, Juwita tahu kedua anak Adji memandanginya.


Tepat saat Juwita mau menutup pintu, suara Abimanyu terdengar.

__ADS_1


"Juwita."


Namun dengan sengaja Juwita mendelik, menutup pintu tanpa mau tahu dia berkata apa.


Di film-film, ada dua jenis ibu tiru. Yang baik, yang jahat. Yang jahat membully anak, yang baik dibully anak.


Juwita bukan dua-duanya, jadi ia akan bersikap baik kalau memang mereka harus diberi sikap baik, ketus jika memang mereka harus diberi sikap ketus.


Juwita naik ke kamar di lantai tiga, tapi sempat terhenti pada sebuah potret keluarga yang berada di dinding lantai dua.


Portet Melisa berdiri di tengah-tengah empat lelaki, hanya menjadi satu-satunya pemilik senyum. Muka Adji datar, muka Abimanyu malah terlihat kesal, muka Banyu mengantuk, dan Cetta bengong.


Keluarga bahagia.


Juwita memejam, merasa harus berdoa untuk ketenangan jiwa Melisa di sana. Tak peduli bagaimana anak dia begitu sontoloyo, wanita ini tetaplah penyelamat hidup Juwita.


"Anakmu enggak bisa kusayang kayak kamu, Kak." Juwita mengangguk sopan. "Tapi seenggaknya bakal kujagain."


Di dalam kamar, ternyata Adji menunggunya. Dia duduk di ranjang, diam sampai Juwita selesai mandi.


"Besok saya enggak usah ke kantor?" tanya Adji setelah lama terdiam.


"Kenapa?"


"Nanti kamu kerepotan ngurus Cetta sendiri. Saya belum dapet pengasuh."


*

__ADS_1


__ADS_2