Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
100. Bekas Kodok


__ADS_3

Waktu turun ke bawah, Juwita cuma bisa pura-pura polos biarpun mertuanya senyam-senyum. Mana Bima pasang vokal lagi, bersiul-siul meledek mereka.


Tuh kan, pasti pada paham kenapa Juwita dan Adji mendadak naik, terus tidak turun-turun selama beberapa waktu. Dasar Adji! Yang malu urusan beginian kan Juwita!


Juwita menarik rambut paman mudanya itu keras-keras, bodo amat dia berteriak. Sebagai pengalihan, Juwita memanggil Cetta.


"Pikachu, sini menghadap dulu."


Cetta sibuk main iPad.


"Pikachu, come to bosmu."


Cetta masih sibuk.


"Pikachuuuu~," panggil Juwita merdu, tapi air mukanya mulai asem. "Apa, Mas?! Kita mau pergi?! Enggak ajak Cetta?! Yaudah cus! Cus kita pergi, cus! Kita pergi berdua, enggak usah ajak-ajak yang lain! Cemon!"


Anak itu langsung lompat, lari mendekati Juwita buarpun matanya masih setengah fokus ke iPad. "Cetta ikut."


"Gak."


"Angh!"


"Hum! Apa kamu ikat-ikut-ikat-ikut. Gak ada!" Juwita melipat tangan, berpaling dari Cetta. "Aku mau pergi, berdua aja sama Papa. Mau tinggal aku sama anakku aja. Kamu enggak kepake lagi. Kamu udah besar. Sana aja sama Abi sama Banyu. Wleeek!"


Memang biarpun dangdut Jawa itu menghibur, tidak ada yang lebih mantap didengar kecuali tangisan anak kecil.


Juwita tertawa puas waktu Cetta menangis kencang, bikin Ibu geleng-geleng melihat kelakuan anak perempuannya.


Di depan bapak anak tirinya plus ibu mertua dia lagi.


"Ololololoooo." Juwita tanggung jawab dengan memeluk Cetta lagi, biarpun masih setengah ketawa. "Lanang-ku sayangku cintaku padamu, ayo nangis lebih kenceng, Sayang. Ayok, ayok. Nangisnya lebih kenceng. Kalo nangis, aku ajakin juga sama Papa."

__ADS_1


Juwita benar-benar menikmati itu.


Tapi, karma itu ada.


Dari belakang, Banyu datang bersama kura-kura raksasanya, alias si Mimi. Anak itu berdiri, menunggu Mimi mengeluarkan kepala dan memanggil Juwita.


"Juwita."


Ketika Juwita berbalik, suara teriakannya jauh lebih histeris daripada Cetta.


Tangisan Cetta berubah jadi tawa keras, disusul suara tertawaan semua orang.


"Banyu, Banyu, Banyu, Banyu!" teriak Juwita tenggorokannya sakit. "Banyu, akh!"


Banyu malah meletakkan Mimi di lantai. Terus mendorong Cetta. "Nih, bawain situ. Katain, siapa suruh usil."


Juwita melompat-lompat ketakutan. Lari ke sofa di mana Adji duduk, memeluknya sambil menangis ketakutan.


Ayah menggeleng-gelengkan kepala. "Siapa suruh kamu bikin nangis anak kecil."


Adji senyum doang. Ya memang karma. Siapa suruh dia membuat menangis Cetta tanpa alasan.


Merasa tidak ditolong, Juwita makin menangis. "Abiiiiii!"


Abimanyu muncul, disusul kemunculan Bima membawa ular super super besar yang kayaknya orang tua Pika.


Teriakan Juwita membahana sampai ke seluruh sudut rumah.


Kayaknya semua orang malah menikmati, senikmat tadi Juwita ketawa melihat Cetta menangis.


Tapi lama-lama Adji kasihan juga. Dibelai kepala istrinya, khawatir juga kalau Juwita tiba-tiba sakit kepala berat karena menangis.

__ADS_1


"Udah, udah. Enggak pa-pa. Jangan nangis."


Cetta malah dikasih kodok oleh Abimanyu buat dibawa ke dekat Juwita.


"Kakak, ini namanya Wiwi."


Juwita langsung lompat dari sofa ke pelukan Ibu. Menangis meraung-raung karena diserang dari tiga sisi.


"Guys, guys. Enough, okay? Give it a break," ucap Mama akhirnya, kasihan juga melihat balasan Juwita tiga kali lipat. Apalagi waktu Juwita menangis di pekukan Ibu, mukanya jadi kasihan banget.


"Makanya kamu jangan usil." Ibu menepuk-nepuk punggung Juwita bersamaan dengan Mama menghapus air matanya. "Bukannya bikin orang ketawa malah ketawa liat anak nangis. Ya begini jadinya."


Juwita menangis tersedu-sedu. "Tapikan enggak segitunya, hiks. Itu kan, hiks, itu kan nakutin, Bu."


"Dih, dih, playing victim." Bima meledek. "Yang mulai siapa yang protes siapa, dih."


Adji mengacak-acak rambut Cetta, karena anak itu juga masih tertawa dengan muka merah bekas menangis.


Katanya Adji kembaran Cetta. Padahal yang tingkahnya sama kayak Cetta itu malah Juwita.


"Sana peluk Kakaknya. Sana."


Cetta meletakkan kodoknya ke akuarium, mendekati Juwita buat peluk.


Tapi Juwita ogah.


"Gak! Bekas kodok! Jauh-jauh kamu!"


Cetta tetap memeluknya.


*

__ADS_1


__ADS_2