Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
My Daddy is My Sugar Daddy : By Candradimuka


__ADS_3

Keributan besar hari itu terjadi di kediaman berlantai empat itu. Empat orang di antaranya duduk di sofa mewah berwana cokelat, sementara satu orang hanya bisa berdiri kaku, tertunduk mendengar kemarahan sang ibu.


"Enggak masuk akal sama sekali!" Wanita yang paling tua di sana membanting map di tangannya ke atas meja. "Bisa-bisanya kamu nyembunyiin ini dari Mama! Mama tau kamu itu dari dulu enggak bener, tapi bisa-bisanya kamu punya anak, enggak ada satupun dari kita yang tau!"


Rahadyan, pria yang jadi tersangka malam ini diam-diam melirik ke map berisi hasil tes DNA yang menunjukkan kecocokan antara dirinya dan seseorang bernama Kalista.


Rahadyan sedikitpun tidak bisa membela diri, bahwa ia tak tahu hal seperti ini terjadi. Dan siapa yang bisa memperkirakan di usia tiga puluh dua tahun, dirinya malah sudah punya anak berusia enam belas tahun?


Memang, Rahadyan akui ia punya sejarah tidak mengenakkan semasa kecil dan remaja. Sekalipun ia anak pertama dari keluarga ini, Rahadyan juga yang kelakuannya paling amburadul.


Tapi seiring bertambah usia, akal Rahadyan juga semakin bekerja. Sekarang ia fokus pada hidupnya, fokus membahagiakan orang tuanya, dan fokus memperbanyak uangnya.


Dosa masa lalu malah tiba-tiba datang menghantui.


"Rahadyan! Kamu denger Mama ngomong apa?!"


Tidak. Tapi Rahadyan buru-buru menjawab, "Maaf, Ma."


"Maaf?! Maaf kamu bilang?!" Suara Mama semakin menggelegar sampai telinga Rahadyan rasanya berdarah. "Kamu biarin anak kamu di luar sana enam belas tahun sendirian terus kamu minta maaf?!"


Ya terus mesti gimana? Rahadyan nelangsa dalam hati.


Bukannya ia juga niat.


"Aku bakal jemput dia, Ma." Rahadyan mengucapkan kalimat sebagai wujud tanggung jawabnya.


"Jelas kamu jemput dia! Dia cucu Mama, anak kamu yang kamu lupain bertahun-tahun!"


Lalu Mama memijat pelipisnya kasar sambil menggeram marah. "Akh, bisa-bisanya kamu begini. Gundik pula yang ngelahirin dia. Kalo cucu Mama sampe enggak bener, kamu yang Mama pecat jadi anak. Ngerti kamu?!"


".... Iya, Ma."


*


Kalista cuma berdiri diam memandangi pusara ibunya. Tiga orang ia bayar membantu menguburkan jenazah wanita itu pun langsung bergegas pergi, tidak terlalu ingin ikut campur pada kenyataan Kalista sendirian.


Kupu-kupu malam, itulah sebutan untuk ibunya.


Wanita yang tidak berharga karena bisa dibeli dengan sejumlah uang oleh sangat banyak pria berbeda.


Kalista mengakui bahwa ibunya bukan wanita terhormat. Dia hina, menjijikan, dan bukan seseorang yang kematiannya ditangisi oleh siapa pun.


Tapi ....


"Dasar bego." Kalista mengepal tangannya kuat-kuat, cuma bisa mengutuk dengan tangisan tertahan. "Udah aku bilang jangan kerja kayak gitu. Bego."


Sudah berulang kali Kalista minta ibunya berhenti, tapi dia selalu tersenyum canggung mengatakan tidak ada yang akan memberi mereka makan jika dia berhenti bekerja.


Katanya, mereka harus memiliki uang untuk diperlakukan seperti manusia oleh orang lain. Tapi sekarang apa?


Sekarang Kalista cuma berdiri sendirian memandangi kuburan jelek itu, tak ditemani oleh satupun orang untuk sekadar menangis.


Siapa yang mau menangisi sampah? Wanita yang dibayar oleh suami orang agar dia berselingkuh, wanita yang dibayar oleh ayah seseorang agar dia mau jadi gundik, wanita yang kehadirannya cuma mengotor-ngotori kota.


Tidak ada yang menganggap dia seorang manusia.


"Mama tau kamu enggak bisa hormat sama Mama atau kerjaan Mama." Itu yang gundik ini katakan saat dia masih bisa menatap Kalista. "Tapi kamu tau Mama sayang sama kamu. Mama selalu sayang sama kamu."

__ADS_1


Kalista berusaha menutup mulutnya agar tak berteriak dalam tangisan.


Dasar pembohong, rutuk Kalista dalam hati.


Kalau dia sayang pada Kalista, kenapa dia mesti meninggalkannya sendirian di dunia ini? Harusnya dia di sini!


"Papamu bakal jemput kamu, Kalista. Kamu enggak sendirian."


Siapa yang butuh Papa tidak jelas itu?!


*


Mama tahu bahwa sebentar lagi kematian akan datang. Mama juga tahu bahwa sebentar lagi Kalista akan sendirian.


Jadi sebelum kematian itu datang, ternyata diam-diam Mama pergi menemui keluarga lelaki yang menghamilinya dulu agar mau menerima Kalista sebagai keluarga.


Kalista sedikitpun tak tahu itu, sampai kematian benar-benar sudah di depan mata ibunya.


Jadi ketika pria itu muncul, pria asing yang katanya adalah Papa, tatapan Kalista tak sedikitpun menyambutnya.


"Saya terlambat." Dia berucap begitu waktu melihat kuburan Mama sudah tertutup oleh tanah, tanpa bunga atau apa pun. "Saya kira pemakamannya sesudah zuhur."


Bibir Kalista bergetar oleh ucapan itu.


"Enggak ada," jawabnya menahan tangis.


"Apa?" Rahadyan terkejut sekaligus tidak paham maksudnya.


"Yang mau sholatin." Kalista semakin bergetar. "Enggak perlu nunggu zuhur."


Demi Tuhan, ia tak menyangka akan seperti ini. Ibunya Kalista pun tidak meminta apa pun tentang pemakamannya. Dia cuma minta agar Rahadyan datang menjemput Kalista agar tinggal bersamanya.


Rahadyan menelan ludah. Apalagi ketika melihat Kalista menangis di depannya.


Tidak bisa dibohongi, Rahadyan bisa melihat dirinya dalam fisik anak ini. Dia cantik seperti ibunya tapi garis wajah itu milik Rahadyan.


"Kalista—"


"Om inget dia siapa?"


Rahadyan menelan ludah.


Tidak. Sejujurnya tidak.


Wanita yang dikuburkan itu, Rahadyan sangat sulit mengingatnya. Tapi yang jelas, Rahadyan yakin bahwa itu terjadi di usianya yang ke-15 atau 16 tahun.


Di masa-masa Rahadyan masih suka pulang tengah malam, lalu Mama berteriak menyuruhnya sekalian tidak usah pulang, tapi kalau Rahadyan tidak pulang sungguhan, Mama bakal memukulinya dengan sapu ijuk.


"Dasar enggak guna."


Rahadyan tersentak. Apa? Apa yang barusan anak ini katakan?


"Om bikin anak, terus ninggalin perempuan hamil sendirian sampe dia harus jual diri buat hidup! Apa namanya kalo enggak guna?!"


"Kalista, saya enggak—"


"Jangan kira saya mau ngakuin Om jadi Papa saya!" Kalista berteriak kurang ajjar dan penuh kesadaran.

__ADS_1


Memang niatnya ia begini. Memang niatnya ia mau jadi sampah yang menyusahkan orang ini.


Mau Mama, mau dia yang mengaku Papa, semuanya cuma bertindak seenaknya di hidup Kalista.


Kenapa dirinya harus terus diam menerima? Ini hidup Kalista tapi seolah ia tak boleh memilih apa-apa.


"Saya cuma ikut Om karena duit Om doang. Saya cuma mau ngabisin duit Om sampe saya puas!" Kalista membuang muka. "Kalo capek, Om tinggal buang saya aja. Kayak Mama saya."


Mau dia tidak suka, mau dia protes, Kalista tidak peduli.


Dia membuang Kalista, maka Kalista setidaknya bebas dari belenggu darah sialan ini.


Tapi kalau dia mengurus Kalista, maka ia benar-benar akan melakukan segala macam hal untuk menyusahkan dia.


"Kalista—"


"Jangan panggil nama saya juga!"


Kalista melotot saat kembali menoleh. Berteriak tanpa memberi dia kesempatan bicara.


"Nama saya itu dikasih sama Mama saya, jangan kotorin sama mulut Om! Om enggak usah nyari-nyari saya, Om enggak usah nanya-nanya sama saya, Om enggak usah sok baik sama saya!"


Rahadyan diam karena syok melihat permusuhan ini.


Mungkin dirinya tidak dalam posisi membela dirinya, tapi sumpah, Rahadyan tidak pernah bermaksud menyakiti anaknya sendiri.


Kenapa anak ini malah seperti punya dendam kesumat padanya?


"Kenapa ngeliat saya? Om enggak suka?" tanya Kalista menantang.


Semakin membuat Rahadyan syok berat.


"Sekarang Om pilih, mau ngurus saya atau mau nelantarin saya? Saya enggak peduli yang mana."


Rahadyan menutup wajahnya dan berulang kali menghela napas lelah.


Anak bau kencur ini. Dia pikir Rahadyan bakal membuangnya sekalipun dia bertingkah gila?


Bahkan kalau Rahadyan punya sisi sampah, membiarkan anaknya berjuang sendirian bukanlah pilihan.


"Ikut saya." Rahadyan berlalu, mengisyaratkan anak itu untuk pulang bersamanya.


Tapi diam-diam ia melirik pada pusara ibunya Kalista.


Sukma Dewi, itu yang tertulis di sana.


Nama yang pasaran.


Bahkan meski namanya sudah tertulis, Rahadyan masih tidak bisa mengingat. Membuatnya sadar bahwa dulu mungkin ia benar-benar cuma mempermainkan seseorang tanpa berpikir sama sekali.


Maaf, bisik Rahadyan dalam dirinya sendiri. Kamu mungkin enggak bilang sama aku karena tau aku enggak bakal tanggung jawab.


Lagipula, itu di usianya masih SMA, atau bahkan akhir SMP.


Tapi aku janji jagain Kalista. Jadi yang tenang di sana, Sukma Dewi.


*

__ADS_1


__ADS_2