Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
150. Kreatif


__ADS_3

"Bang." Banyu menyikut Abimanyu karena nampaknya dia terharu.


Sebenarnya tadi Banyu juga. Mahesa Mahardika berkata kalau Adji sudah mendaftarkan Abimanyu dan Banyu di Asgard dan mereka diterima secara khusus oleh persetujuan Pak Mahardika.


Padahal, sekarang Banyu masih kelas dua SMP. Baru akan menghadapi ulangan kenaikan.


Mereka berdua sama-sama sering berpikir kalau Adji itu tidak terlalu peduli pada mereka.


"Iya, Pak." Abimanyu menjawab kaku, bingung sebenarnya.


Lalu ia tersadar kalau pria sepenting ini mana mungkin mengajaknya bertemu hanya buat basa-basi.


"Kalau boleh tau, adek saya bikin masalah apa, Pak?"


"Masalah? Enggak ada, kalau soal Banyu. Tapi soal keluarga kalian."


Apa yang dia maksudkan?


"Ini soal insiden Mama Kedua kalian, Juwita, yang kemarin masuk rumah sakit dua kali karena Ajeng."


Abimanyu mengerjap. Ia tegang mendengar Juwita disebut-sebut, tapi lebih tegang karena yang menyebutkan adalah mantan presiden.


Kenapa? Jangan bilang akan ada masalah lagi yang menimpa Juwita?


"Jadi simpelnya begini, orang yang bertanggung jawab dan yang terlibat sama kejadian kemarin ditahan sama saya. Adji bayar saya, lebih tepatnya organisasi saya buat nahan mereka semua secara permanen. Kalian enggak tau itu?"


Banyu dan Abimanyu saling berpandangan.


Tidak, mereka tahu. Adji memberitahu mereka secara khusus, tepatnya setelah resepsi kedua Juwita dilakukan.

__ADS_1


Adji bilang, keberadaan Ajeng sendiri adalah pelajaran bagi mereka untuk berasumsi bahwa ada seseorang yang dianggap bukan musuh, tapi ternyata bisa berbuat gila.


Abimanyu dan Banyu harus tahu, harus siap, dan harus merencanakan bagaimana mereka melindungi keluarga mereka.


"Bagus kalian tau. Kalau gitu, kalian tau Nana udah keluar dari sana, kan?"


"Enggak, Pak." Banyu langsung menjawab. "Maksudnya Narnia Aditama, kan? Papa saya bilang, orang yang udah Bapak tahan enggak bisa keluar lagi."


"Itu cuma peraturan formalnya. Tapi buat beberapa kondisi, itu bisa. Dan yang paling utama itu izin Adji. Dia ngasih izin buat Nana keluar."


Pak Mahardika menatap mereka berdua dengan senyum misterius.


"Sebenarnya saya juga enggak terlalu peduli. Nana bukan siapa-siapa, semua asetnya juga sudah saya ambil paksa. Saya juga enggak peduli dia mau ada atau enggak ada."


"Kalau gitu—" Abimanyu mau buka suara, tapi pria itu ternyata masih melanjutkan.


Abimanyu menoleh pada Banyu. Sama seperti Banyu yang menatap tak mengerti kakaknya.


Lalu, maksud mereka dipanggil ke sini jangan bilang ....


"Kalian mau urus dia?"


"Maksudnya, Bapak manfaatin kami?" Banyu tak sengaja keceplosan. Walau dia langsung tutup mulut karena kakinya diinjak keras oleh Abimanyu.


Anehnya, Mahesa Mahardika cuma tergelak kecil, lalu tersenyum lagi.


"Betul."


Pria itu beranjak, memasukkan tangan ke sakunya saat menatap kedua anak muda tersebut.

__ADS_1


"Just call it 'I doosie you doosie'. Saya ngusir pengganggu enggak penting, kalian main sepuasnya sama orang yang secara enggak langsung bertanggung jawab buat insiden kemarin."


"...."


"Saya jamin itu enggak bahaya sama sekali. Saya tadinya mau bilang ke Adji buat ngurus Nana, tapi kalian mungkin lebih kreatif."


Kreatif.


Kata yang sangat menarik.


Mantan Presiden itu berbalik, mengatakan dengan nada santai kalau mereka berdua bisa memesan apa saja untuk dimakan sebelum pulang, sambil memikirkan ide kreatif untuk Nana.


Meskipun awalnya mereka berdua bingung, tapi lama-lama, keduanya jadi tertarik.


"Kalau enggak salah, Papa bilang dia bantuin Ajeng karena suaminya selingkuh, kan?" tanya Banyu, yang nampaknya mulai memikirkan ide 'kreatif'.


"Kalau menurut gue," Abimanyu menerima buku menu dari petugas hotel yang datang secara khusus buat menanyakan keinginan mereka, "mending kepalanya ditimpuk juga. Gue udah jago servis bola ke kepala orang."


"Tololl lu, Bang."


"Emang ide lo apa, kamprett? Masukin dia ke kandang buaya?"


Banyu tersenyum misterius, tanpa berkata apa pun tapi memesan.


Mumpung ditraktir, mereka memesan menu camilan sebanyak-banyaknya.


Sambil terus mengembangkan kreativitas demi memuaskan Nana.


*

__ADS_1


__ADS_2