
"Mbok yo sing full senyum sayang." Juwita berdendang sambil joget ringan, masuk ke kamar anak tirinya. "Ben aku soyo tambah sayang. Ojo nuruti gengsimu, jelas-jelas aku ndak mampu."
Tiga-tiganya masih tidur, kompak.
Karena Juwita sabar, mari bangunkan dengan full senyum saja.
"Mbok yo bangunnya pagi-pagi, sayang. Ben aku ndak repot bangunin. Ojo males males bangun, jelas-jelas waktunya bangun."
Juwita konser, ternyata mereka enggak bangun.
Berbakat tidur seolah meninggoi.
Tak habis akal, Juwita pun cari alternatif lain. Terpikir sebuah ide yang sebenarnya tidak baik dilakukan tapi patut dicoba sekali.
Karena belum pernah dicoba, ya berarti harus dicoba dulu sebelum bilang tidak baik.
"Aaaw aw aw! Kepalaku jatoh!" teriak Juwita seolah kesakitan.
Kompak, Banyu dan Abimanyu bangun, melotot dengan muka syok tapi setengah sadar sementara Juwita ngakak puas.
Mana ada kepala jatuh. Yang ada meninggoi.
"Bangun, Sayang, bangun. Full senyum pagi-pagi. Masa enggak semangat Mama Tiri Cantiknya udah pulang? Ayok ayok, bangun. Wake up! Rise and shine! Sambutlah dunia yang enggak indah-indah banget ini."
Mereka berdua kompak mengerang.
"Lima menit."
"Lima menit mandi? Oke. Bangun, bangun, bangun. Ayo mandi, mandi, mandi."
__ADS_1
"Juwita, berisik!" teriak Banyu kesal.
Juwita menarik tangan Abimanyu agar bangun. Mendorongnya pergi mandi meskipun dia tampak malas.
Ckckck. Cuma berapa hari ia tinggal, ternyata Abimanyu yang biasanya bangun subuh untuk joging pun jadi pemalas.
Gantian Juwita menarik Banyu, tak peduli kalau dia terasa lebih berat ditarik.
Setelah semuanya bangun, termasuk Cetta, Juwita pun keluar. Tapi waktu melewati meja belajar Abimanyu, tak sengaja HP itu menyala, menampilkan gambar Juwita sebagai lockscreen-nya.
"Awwww." Juwita langsung menatap Abimanyu terharu. "Sayang banget yah sama Mama Tiri? Duh, Bocahku Gendeng, sini dulu foto sama Mama."
Abimanyu langsung panik mau mengambil HP-nya. "Juwita."
"Foto dulu sini, ih. Ayok. Masa foto lockscreen foto aku di rumah sakit pake infus. Enggak estetik banget." Juwita menarik paksa lengannya, berpose manis. "Oke, satu dua, kejuuuu."
"Udah." Abimanyu menyambar ponselnya segera. "Keluar sana."
Juwita berkacak pinggang bangga. Menjulurkan lidah mengejek sebelum ia keluar, memberi ruang para bujang itu ganti baju.
Juwita sedikitpun tidak tahu kalau Abimanyu menatap foto selfie barusan, menggantinya seketika jadi walpaper.
Tau udah sayang, gumam Abimanyu dalam hatinya. Tau apanya. Kalo tau lo entar jijik. Mending enggak usah tau.
"Bang."
Abimanyu meletakkan ponselnya ke meja lagi, lanjut mengeringkan rambut. "Apa?"
"Lo kenapa enggak cari cewek?" Itu pertanyaan Banyu yang luar biasa tidak terduga.
__ADS_1
"Hah?"
"Ya coba aja cari cewek." Banyu melirik Cetta yang berlari keluar dari kamar mandi, langsung meluncur ke dapur sambil berteriak 'kakak'. "Siapa tau lama-lama lo jadi biasa aja sama Juwita."
"Kenapa jadi—"
"Lo makin suka sama dia, kan?" tukas Banyu tanpa basa-basi. "Keliatan kali, Bang. Lo megang lama, lo kalo dipegang jadi baper, lo ngeliat kalo Juwita ketawa. Papa belum liat aja makanya enggak ketahuan. Kalo Papa liat ...."
Tidak ada bagus.
Iya, Abimanyu tahu.
Tapi siapa? Abimanyu menghabiskan hidupnya dengan voli, voli, voli, dan voli. Teman perempuan Abimanyu cuma satu dua. Itupun sebenarnya kenal karena voli.
Lagipula Abimanyu tidak mau.
Berusaha buat tegar, Abimanyu keluar sarapan bersama yang lain. Matanya mengintip Juwita sedang memangku Cetta, tapi kepalanya disandarkan pada Adji.
Terlihat jelas sih Juwita nyaman dengan Papa. Dia kayaknya tidak berpikir sesuatu seperti 'Papa sudah tua jadi seharusnya jadi bapak dia saja'.
"Loh, Cahku, kamu udah makannya?"
Abimanyu bergumam, beranjak pergi demi kesehatan mentalnya sendiri.
Ia pamit pada Oma dan Opa, lalu bergegas keluar disusul Banyu.
"Hati-hati, yah. Yang pinter belajarnya." Juwita berucap senormalnya orang tua berpesan pada anak.
Tapi itu malah terdengar lain bagi Abimanyu.
__ADS_1
Dada Abimanyu, kenapa dari kemarin ngilu?
*