Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Mending Pergi


__ADS_3

"Kenapa? Gue enggak nolak perasaan lo ke Wiwi. Gue nanya," Bima mendekat dengan mulut mengembuskan asap rokok, "kalo secinta itu, kenapa enggak kepikiran buat rela?"


Abimanyu mengepalkan tangannya. Butuh waktu untuk diam sebelum ia bisa menjawab Bima. "Lo kira beneran ada cinta ngerelain?"


"Enggak ada, di situasi normal," jawab Bima apa adanya. Lalu menambahkan, "Lo enggak normal, jadi gue enggak tau."


"Perasaan gue ke Juwita enggak bisa dibuktiin lewat gue ninggalin dia atau ngerelain dia."


"Aha, emang cinta tanpa nafsu tuh punya perempuan doang. Cowok sih mustahil. Mustahil." Bima menunjuk dada Abimanyu. "Kalo cowok cinta sama cewek, itu berarti dia nafsu sama tuh cewek. Artinya lo sebenernya cuma nafsu sama istri bokap lo, kan?"


Abimanyu menepis tangan Bima kasar. "What's the point?!"


"Berarti lo enggak berhak nyuruh Wiwi ngerti. Buat apa dia ngertiin nafsu anak lakinya sendiri? Enggak penting, kan?"


Abimanyu menggeram kesal. Berpaling dari Bima yang nampaknya cuma mau nengejek Abimanyu karena dia kesal atas situasi Juwita.


Tapi saat berpaling dan semuanya hening, Abimanyu mengingat perkataan Juwita. Semua. Semua perkataan dan teriakan histerisnya.


"Bocah labil." Bima mendengkus. "Jelas Wiwi capek ngurusin lo. Nentuin lo mau apa juga enggak bisa sendiri, terus lo nyuruh Wiwi ngerti?"


Cih.

__ADS_1


"You know what? You should go." Bima menepuk-nepuk bahu Abimanyu sebelum dia melangkah masuk.


Ketika hanya tersisa Abimanyu dan Banyu di sana, adik Abimanyu itu ikut mengatakan hal sama. "Mending lo pergi deh, Bang. Jauh-jauh. Kalo lo enggak bisa milih mau berenti atau enggak, paling enggak lo pergi deh. Gue yakin Papa juga enggak bakal keberatan."


Abimanyu hanya diam.


"Gue tau lo malu sama diri lo sendiri. Jadi orang ketiga di hubungan bokap lo sendiri. Enggak usah ngomongin moral soalnya gue juga sama. Tapi sebagai laki aja, kalo lo beneran sayang sama Juwita, mending lo pergi."


*


Adji tak tahu berapa lama waktu berlalu, tapi yang jelas ketika ia terbangun, rasa lelahnya sedikit terobati. Sesuatu yang berat di pahanya mengalihkan perhatian pria enam anak itu. Menunduk menemukan kepala Juwita berbaring di sana, tampak terlelap sangat nyenyak.


Tangan Adji terulur, mengusap-usap kepalanya lembut.


Lama Adji membelainya sampai kemudian Juwita ikut terbangun. Matanya terbuka lemah, bengkak lantaran terlalu banyak menangis.


"Laper?" tanya Adji lembut, karena sepertinya mereka beristirahat sangat amat lama. Mungkin sekarang sudah tengah malam.


Tak ada jawaban dari Juwita tapi Adji menariknya, memeluknya lalu menggendong perempuan itu keluar dari kamar.


Tak ada siapa pun di rumah. Bahkan satu orang pun selain mereka. Karena itu tidak ada masalah Adji menggendong istrinya turun sampai ke dapur, mendudukkan dia di atas meja makan sebelum berkutat di dapur.

__ADS_1


"Mas mau masak yang enak buat kamu," kata Adji beberapa menit kemudian, "tapi sayangnya Mas enggak pinter masak."


Dua cup mi pedas kesukaan Juwita adalah salah satu masakan yang bisa Adji buat—karena itu cuma soal menyeduhnya dengan air panas.


Adji membuka kaki Juwita untuk menyelip di antaranya, memegang sumpit untuk mi itu dibawa ke mulut istrinya.


"Aa."


Juwita tak membuka mulut, tapi menatap kosong pada Adji. "Mas, aku enggak main-main. Aku tau cerai bukan jalan keluar terbaik tapi ada beberapa yang harus."


Ya, Adji mengerti bahwa kelelahan itu tidak akan sembuh hanya dengan tidur berjam-jam. Dia lelah bertahun-tahun dan sangat amat lama menahannya sendirian.


"Soal Ibu kamu," Adji meletakkan sejenak mi itu di sisi Juwita, fokus padanya, "itu enggak pernah jadi utang."


"Itu utang." Juwita menggeleng, menyangkalnya. "Itu utang besar. Besar banget."


"Ya, itu utang, Juwita. Banyak uang Mas abis buat Ibu Ayah kamu. Emang." Adji mengangguk, mengakuinya sebab kalau disangkal pun Juwita punya akal pikiran yang memahami bahwa itu utang.


Adji bahkan pernah ada di masa tercekik akibat kewajibannya pada orang tua Juwita walau Adji merahasiakannya.


"Tapi gini," Adji menggenggam tangan kurus itu, "Mas juga dapet balesan. Itu utang, tapi kamu selalu bayar balik ke Mas. Kamu enggak ngitung itu?"

__ADS_1


"Apa?" tanya Juwita lemah.


*


__ADS_2