
Juwita tidak pernah bertemu anaknya sejak mengeluarkan anak itu. Keluar dari ruangan bersalin, Juwita sudah tidur pulas melampiaskan semua rasa capeknya.
Juwita justru jadi orang terakhir yang melihat anaknya karena di pagi hari Juwita terbangun, sudah sangat banyak keluarga berkumpul mengunjungi.
Mereka semua terlihat bersuka cita akan kelahiran sosok gadis cantik di keluarga Adji yang serba laki-laki, sementara Juwita masih agak termenung, trauma akan proses selepas bersalin kemarin.
"Itu sakit banget." Juwita memompa ASI anaknya sambil berbicara pada Banyu dan Abimanyu yang duduk paling dekat. "Sakiiiiit banget. Kayak dipotong-potong, dipatah-patahin. Terus perutku dipencet terus. Sakiiiit banget."
Itu sudah kesekian kali Juwita memberitahu semua orang. Karena di kepala Juwita, hal itu jugalah yang terus berulang-ulang.
Melihat ekspresi melasnya, Banyu menarik kepala Juwita bersandar padanya. "You're doing great."
Ya, Juwita rasa ia pun harus memberi apresiasi pada dirinya sendiri, sudah melewati neraka itu.
Karena tentu meski ketakutan membuat badan Juwita gemetar, tidak juga ada kebahagiaan yang melampui bahagia dirinya memiliki anak itu.
Sore harinya mereka sudah bisa membawa bayi baru pulang. Karena Juwita memang masih sakit, Mama dan Ibu yang lebih banyak mengurusnya, termasuk menemani anak itu tidur.
Juwita tak bisa menghilangkan bayangan saat darah dipaksa terus keluar dari tubuhnya. Ia ingat sensasi tangan dokter masuk ke tubuhnya, mengorek-ngorek seolah badan Juwita itu tanah galian.
Dalam tidurnya Juwita masih menangis, masih meracau sedang dibunuh oleh dokter. Terngiang-ngiang oleh rasa sakit.
Dan satu-satunya cara yang Juwita rasa membuat itu sedikit lebih baik adalah dengan adanya Adji, Abimanyu dan Banyu di sisinya.
Juwita tak membiarkan mereka pergi kecuali benar-benar genting. Bahkan saat makan, Juwita menyuruh mereka makan di kasur ia berbaring.
"Kakak kenapa sakit?" Cetta bertanya polos ketika melihat Juwita makan disuapi oleh Adji. "Kakak nangis-nangis terus dari kemarin. Kenapa?"
Juwita menarik pipi Cetta, berusaha tersenyum. "Karena aku suka nangis."
Setelah proses panjang, Juwita menyadari bahwa ia ternyata memang cengeng. Setidaknya sebelum bertemu Adji, Juwita yakin bahwa ia tahan banting.
Tapi mau cengeng atau tidak, Juwita memaafkan dirinya sendiri. Yang terpenting adalah Juwita bangkit setelah puas menangis.
"Kamu udah ketemu sama dedek bayi?" tanya Juwita di antara mulutnya yang mengunyah daging ayam. "Udah suka?"
"Cetta enggak tau." Anak itu menyengir. "Tapi dedek bayinya kecil."
__ADS_1
"Kecil, yah?"
Juwita cuma meringis mendengar perkataan polos itu. Kecilnya anak Juwita sudah cukup membuat ibunya memarahi beberapa dokter di ruang bersalin.
"Oma larang Cetta pegang dedek bayi, padahal Oma sama Nenek gendong terus."
"Nanti kamu gendong kalo udah gede. Aku aja enggak sering gendong."
"Emangnya adek bayi siapanya Kakak?"
"Bestie-ku," jawab Juwita seraya mencium wajah Cetta hingga anak itu tergelak. "Dia tuh bestie-ku. Menemaniku berbulan-bulan. Kamu jagain dia, oke? Hidup matiku tuh sama dia."
Adji tersenyum kecil mendengar Juwita mulai membuat suara-suara selain suara lemas dan capek.
"Kamu coba tengok adek lagi apa." Adji mengusap kepala Cetta sekilas. "Udah waktunya minum susu lagi kayaknya tuh. Tanyain sama Oma susunya udah abis atau belum."
Cetta langsung pergi ke ruang keluarga, di mana memang anak Juwita berbaring agar lebih mendapatkan pencahayaan.
"Gue ambilin pompa?" tanya Banyu sigap.
"Iya." Juwita mengulurkan tangan ke Adji dan Abimanyu agar menggenggamnya. Buat Juwita itu adalah cara menyamankan diri paling-paling-paling candu. "Guys."
"Kalo aku bilang udah itu aja satu gimana?"
"Yaudah." Abimanyu langsung menjawab. "Daripada lo begitu lagi mending enggak usah."
"Iya, sakit banget. Sakiiiiiit banget, Bi, sampe mau gila." Juwita mengulangnya lagi. "Banyu gimana? Adekmu satu aja?"
"Gak, gue mau banyak."
"Sinting kamu yah?"
"Tapi lain kali mending lahiran sesar. At least lo enggak teriak-teriak."
"Emang kamu kira sesar enggak ada risiko? Perutku dimutilasi betulan namanya." Juwita mendengkus. Terakhir menatap Adji. "Mas?"
"Dua-duanya."
__ADS_1
"Hah?"
"Kalo risikonya besar, apalagi lebih parah dari ini, berarti emang yaudah satu." Adji kembali menyuapi Juwita karena dia belum menghabiskan makanannya. "Tapi kalau kedepan kamu mau lagi, dan dokter mastiin aman, yaudah punya lagi."
"Udah enggak mau."
"Melisa bilang begitu juga dulu waktu baru lahiran. Malah langsung di ruang bersalin, pas baru Abimanyu keluar."
Adji agak tersenyum mengingatnya.
"Mukanya udah pucet banget, baru berenti teriak, baru nangis Abi, Melisa langsung bilang 'udah cukup, satu aja'."
Juwita memejamkan mata, dan cuma bisa meringis.
"Aku enggak kebayang orang yang anaknya lebih satu. Kok bisa masih waras?"
"Enggak pa-pa," ucap Adji lembut.
Adji menyeka bekas saus tomat di sudut bibir Juwita.
"Saya enggak bisa rasain sakitnya, anak-anak juga enggak. Tapi seenggaknya kita berusaha ganti pake cara yang lain. Kamu bilang aja mau apa. Mau liburan, mau belanja, mau apa terserah kamu. Saya cuma bisa kasih itu."
Juwita tersenyum teduh. Langsung menarik tangan Abimanyu, Banyu dan Adji bersatu di antara tangannya.
"Sayang sama aku terus. Terutama kalian bertiga. Itu aja."
Sakit itu tidak bisa ditebus dengan belanja sepuasnya atau liburan ke mana pun.
Juwita cuma mau mereka dengar kalau Juwita menangis, mereka memeluknya, ada untuknya, dan memahami bahwa Juwita merasa sakit.
Untuk sekarang, Juwita tak butuh yang lain.
***
besok akan jadi hari terakhir Juwita update, yaitu ekstra chapter. terimakasih buat pembaca yang menemani penulis menikmati cerita juwita-adji, dan tentu masih banyak kekurangan.
candradimuka ngundang kalian buat baca juga cerita ini 👇 dan tulis pendapat kalian. dukungan pembaca selalu jadi faktor terbesar author berkembang.
__ADS_1