
Abimanyu selalu membawa-bawa HP-nya Juwita di kantong buat tahu perkembangan, karena ia juga minta Sandy dan Adit membantu sebisa mungkin.
Daripada Juwita hanya terus melihat teror menjengkelkan ini sendiri, memang lebih baik Abimanyu yang mewakilinya, dan menggunakan koneksi Juwita untuk mengungkap peneror siialan itu.
Jelas saja Adit marah besar namanya dijual-jual oleh seseorang padahal dia sendiri tidak melakukan apa-apa. Adit mengumpat tanpa henti sejak Abimanyu memperlihatnya isi chat Adit palsu itu padanya.
Bahkan waktu di kelas, ponselnya Juwita sibuk bergetar-getar. Teror itu terus datang, terus bermunculan mengganggu setiap detik hari Abimanyu.
"Bi, lo kenapa enggak pernah ke klub lagi?" tanya temannya yang kebetulan juga anak voli.
Abimanyu mendongak, tapi langsung teralihkan oleh chat beruntun.
Bergegas ia beranjak. "Sori, gue sibuk." Abimanyu keluar dari kelas, meninggalkan temannya itu buat sendirian saja.
Buat Abimanyu, voli adalah segalanya. Segala-galanya. Dari kecil Abimanyu sudah jatuh cinta dengan olahraga tersebut. Waktunya habis banyak hanya untuk bermain.
Hanya, selama ini Abimanyu selalu bermain dan selalu dibenci.
Sedangkan Juwita menghargainya, bahkan meski dia juga berkata Abimanyu berbuat salah. Untuk sekarang, ini lebih penting. Juwita seribu kali lebih penting daripada voli yang tidak pernah menghargai Abimanyu itu.
Abimanyu berjalan di lorong menuju kantin, mengecek teror horor itu ketika tiba-tiba dibuat berhenti.
Orang itu mengirim gambar.
Foto Juwita memakai masker, kacamata, topi dan jaket tebal sambil memegang Adji.
Dengan kata lain dia mengawasi Juwita!
Abimanyu berlari panik ke kelas, menyambar tasnya. Tak peduli jika ia menabrak orang, Abimanyu berlari tergesa-gesa.
__ADS_1
Abimanyu berusaha menghubungi Adji, karena kemungkinan Juwita sedang dalam bahaya.
Sialnya Adji tidak mengangkat panggilan.
"Fuckkk!" Abimanyu beralih menelepon adiknya. "Banyu, Juwita diikutin! Gue dapet fotonya barusan!"
"Hah? Papa di mana?" Banyu ikut panik. Mereka sama-sama sudah lihat segila apa peneror sinting itu.
"Enggak tau, telfon gue enggak diangkat. Buruan! Itu kantor Papa di Depok!"
Jauh? Iya, jauh. Tapi Abimanyu dan Banyu tidak bisa berpikir tentang jarak ketika pikiran mereka dipenuhi dugaan bahwa teror ini akan semakin ganas.
Kemarin aman, oke. Tapi siapa yang menjamin kali ini juga?
Demi Tuhan, tolonglah. Abimanyu tidak bisa melihat Juwita menangis terisak-isak karena sakit lagi.
*
Seperti ada yang sejak tadi mengawasi dari sekitaran.
Juwita dan Adji berpisah, tidak dalam jarak jauh. Pria itu lagi bicara dengan tamu yang dia bilang, di ruang terbuka dekat gedung yang lagi dikerjakan.
Katanya sih ini akan jadi perumahan atau semacamnya. Jadi dia sedang melakukan observasi dan peninjauan dengan investor.
Karena Juwita tidak mau nimbrung, ia bersandar di dekat mobil, dijaga oleh dua bodyguard. Sementara di sekeliling banyak tukang sedang bekerja.
Ya mungkin perasaan Juwita saja kali, yah? Karena buat apa juga dirinya diawasi, kan?
Oh, atau mungkin memang Juwita dilihat karena penampilannya super duper aneh.
__ADS_1
Oke, anggap saja perasaan.
Bruk!
Suara benturan keras tiba-tiba terdengar. Spontan saja semua orang berpaling, kaget melihat mobil menabrak truk batako hingga semua orang lari sana.
Juwita juga bergegas. Menutup mulutnya ngeri pada bagian depan mobil yang rusak.
Jelas saja semua orang hanya menganggap itu sebagai kecelakaan. Apalagi waktu melihat pengendaranya ternyata anak laki-laki berusia tujuh belas tahun.
Tapi waktu semua orang terlalu sibuk berkerumun di sana, tidak ada satupun yang menyadari seseorang diam-diam menyelinap ke belakang Juwita.
Pria pekerja bangunan yang tadi sedang sibuk mengangkut batako turun dari mobil kini memegang balok batako itu, memukulkan ke belakang kepala Juwita.
Suara seruan kasar Adji terdengar saat Juwita sudah terkapar di tanah, merasakan kepalanya panas oleh darah yang bercucuran.
Di antara samar-samar kesadarannya, Juwita tak bisa tidak mempertanyakan. Kenapa?
Kenapa seseorang melakukan hal semacam ini padanya?
Juwita merasa tidak merebut siapa-siapa. Melisa yang memberikan Adji padanya secara sukarela.
"Juwita! Juwita, jangan tutup mata!"
Adji panik memegang bagian luka Juwita, berharap bisa menutup lukanya agar tidak berdarah.
Ulu hati Adji serasa ditusuk oleh besi panas melihat Juwita menutup mata dengan jejak tangisan di sudut matanya.
Siall!
__ADS_1
*