
Mood Juwita jadi hilang karena rasa pusing di kepalanya. Perempuan itu bergegas duduk di sebelah Adji, mengadu tentang kepalanya.
Tidak Juwita sangka juga kalqu terbentur sedikit malah membuatnya jadi seperti geger otak.
"Sakit?" tanya Adji lembut.
"Pusing." Juwita pusing sampai rasanya mual, ingin muntah. "Pusing banget sampe enggak bisa buka mata," rengeknya setengah menangis.
Adji sigap memeluk punggung Juwita. Mengusap-usap tengkuknya berharap Juwita merasa lebih tenang.
Pelan-pelan Juwita jadi merasa lebih tenang, tapi karena keenakan dimanja, rengekannya berterusan.
Boleh dong manja-manja dikit? Juwita kan memang masih remaja. Memang masih suka lebay dalam merespons sesuatu.
"Juwita kenapa?" Mama Mertua pun bertanya melihatnya.
"Pusing." Adji yang menjawab.
"Yaudah baringin dulu. Jangan dipaksa kalau sakit. Mama ambilin selimut."
Juwita berbaring di sofa, dan langsung diberi selimut oleh mertuanya.
Makin dimanja malah Juwita makin ngelunjak. Sakit dan pusing di kepalanya semakin pudar, tapi ia pura-pura meringis agar Adji khawatir.
Melebih-lebihkan saja semata agar diperhatikan. Walaupun sebenarnya tanpa itu juga ia diperhatikan, tapi sensasinya beda.
"Kan saya bilang obatnya dihabisin biarpun udah enggak sakit." Adji mengomel sambil mengusap-usap pipinya. "Mau, yah? Saya ambilin obat kamu minun."
"Sayang lambung."
"Lambungmu sehat kepalamu enggak bedanya apa?"
Juwita tetap menolak, membuat Adji cuma bisa berdecak gemas.
__ADS_1
Ketika Juwita sibuk mencari perhatian Adji itu, Abimanyu keluar bersama Cetta. Mata anak itu langsung menangkap pemandangan Juwita berselimut dan Adji membungkuk di wajahnya secara bebas.
Pedih dan menjijikan, karena ia malah cemburu pada ayahnya sendiri.
Abimanyu membenci dirinya setengah mati karena ini.
*
"Saya ada kerjaan ini hari, loh." Adji mengingatkan meskipun tidak ada niat melepaskan Juwita dari gendongannya.
Tiba-tiba saja waktu Adji mau naik tangga, Juwita naik ke punggungnya, bilang dia capek jalan.
Cetta yang melihat saja langsung mau ikut, tapi Mama menahannya, mengajak Cetta main di ruang peliharaan.
"Definisi bos itu kerja kapan dia mau." Juwita membalas asal. "Gendong. Pokoknya gendong."
Adji terkekeh, naik tangga satu per satu secara perlahan, sambil terus menjaga biar Juwita tidak jatuh.
"Masih pusing kepalanya?"
"Masih beneran atau masih mau dimanja?"
"Hmmmm, dua-duanya."
Adji mendengkus. Terus berusaha menggendong Juwita sampai ke lantai tiga, masuk ke kamar mereka. Karena Juwita memang naik untuk istirahat, Adji menyelimutinya.
Memastikan baik-baik kepala Juwita di bantal agar tidak terlalu bergesekan.
"Nanti kita ke dokter buat kontrol. Sekarang istirahat. Tidur yang banyak biar bisa nemenin Abi main voli lagi."
"Mau kerja? Enggak mau nemenin aku aja?"
"Temenin di mana?" Adji dengan usil mengusap pahanya. "Di sini? Kalau di sini saya bolos ke kantor."
__ADS_1
Juwita mengerang sensual, sengaja padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi gara-gara itu Adji menyingkap pakaiannya, membuat Juwita langsung terpekik.
"Baperan banget, sih!" ejek Juwita spontan, berusaha menghindar. "Udah sana kerja! Sana, sana!"
"Udah terlanjur."
"Terlanjur apaan, enggak!"
"Sok-sok nolak."
"Enggak mau!"
"Saya mau."
"Enggak mau, Mas!"
"Enggak percaya."
Memang tidak bisa dipercaya.
Soalnya begitu saling mendekap, Juwita yang paling menikmati ekspresi wajah Adji di bawahnya.
Memancing dia untuk mengekspresikan kenikmatannya jadi sebuah kegiatan favorit tersendiri bagi Juwita.
"Cetakan premium." Juwita menangkup wajah Adji, mencium seluruh sudutnya yang berkeringat. "Anakku kalo lahir mirip kamu aja. Dijamin pas gede bakal cantik banget."
"Hmm." Adji cuma bergumam kecil, pelan-pelan memegang leher Juwita sebelum memutar posisi mereka.
Dibaringkan perempuan itu ke bantal, menyibak rambut yang menghalangi pemandangan indah di tubuhnya.
"Katanya mau kerja."
Adji menunduk, menyatukan telapak tangan mereka. "Ini juga kerja."
__ADS_1
*