Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
120. Tidak Ada Yang Bisa Ditahan


__ADS_3

66.


Tangisan Juwita nyaris tanpa suara, mengisi keheningan kamarnya. Bahkan sampai malam pun Juwita tak keluar, cuma menangis di kamar, meredam suaranya dengan bantal.


Entah pukul berapa, mendadak pintu kamar Juwita diketuk.


Disusul suara Bima yang khas.


"Manisku, mau martabak gak? Gue beli yang jumbo, loh. Kesukaan lo nih. Extra daging."


Juwita tidak lapar. Tidak mau makan apa-apa juga. Apalagi matanya juga masih bocor.


Namun Juwita beranjak, merapikan penampilan, berusaha terlihat baik-baik saja padahal matanya bengkak.


Di depan kamar Juwita kebetulan memang langsung menghadap ruang keluarga. Ternyata di sana masih ada Ibu, masih ada Ayah dan tentu juga Bima.


"Wesss, jodohku yang terlarang nih kalo baru bobok emang cakep."


Juwita mengerucutkan bibir lalu tertawa. Duduk di samping Bima, bersandar padanya.


"Gue kira Mas balik ke Bali. Emangnya Kak Yuli enggak ngambek ditinggal lama-lama?"


"Yuli lagi OTW."


"Eh?"


Bima tertawa bangga. "Gue betah di sini, jadi mau tinggal dulu."

__ADS_1


"Dih, pantesan mertua lo marah-marah. Awas lo nanti pulang ke Bali dibasoka dari teras."


"Itu mah gampang. Sogok aja pake duit segepok. Anteng dah mertua gue."


Juwita tertawa lepas. Yah, sebenarnya cuma berusaha tertawa lepas, menghibur diri berharap benar-benar bahagia. Kalau tidak dipaksakan begini, Juwita mungkin cuma akan menyusahkan yang lain.


Ia tak mau jadi beban, jadi Juwita akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.


Semoga saja bisa.


Tangan Bima melingkari bahunya. Menarik Juwita bersandar, menepuk-nepuk mukanya usil.


Dia tinggal karena Juwita. Dia selalu begitu kalau tahu Juwita sedih.


Karena Juwita sering menangis padanya, sering bilang kalau ada Ayah dan Ibu, Juwita takut menangis. Takut orang tuanya kepikiran, terbebani lalu khawatir semalaman.


"Nak." Ibu ternyata sudah berdiri di sebelah kursi, menyodorkan segelas minuman rasa cokelat. "Minum. Kesukaan kamu, kan?"


"Halah, taikucing." Bima menyentil hidung Juwita.


Ayah ikut tertawa. Mendekatkan kotak martabak ke depan anak perempuannya karena dari tadi belum disentuh. "Makan, nih. Bima beliin buat kamu."


"Suapin. Lagu mager makan."


Ternyata Ayah benar-benar mengambil potongan martabak itu, menyuapkan ke mulut Juwita.


Pada titik itu, pertahanan Juwita justru pecah. Ia membuka mulut bersamaan dengan air matanya tumpah, dan Ibu langsung menangis.

__ADS_1


"Anak Ibu."


Juwita berusaha keras tidak menangis. Sangat keras usahanya menahan. Tapi justru semakin pecah, semakin terasa sakit dan pilu.


Tubuhnya dipeluk erat-erat oleh Ibu, tangannya digenggam oleh Bima dan Ayah di depannya, berusaha tersenyum menghapus air mata Juwita.


Semua itu justru memaksa Juwita semakin terisak-isak.


"Ibu yang salah." Itu yang Ibu bisikkan. "Bukan salahmu, Sayang. Ibu yang salah."


Tidak.


Sama sekali tidak ada yang salah.


Juwita menangis bukan karena ada yang salah.


Ia cuma sedih.


Cuma sedih.


Tapi memang ia akui, kesedihan itu agak terlalu besar buat ia tahan.


Meski begitu, Juwita mau berusaha kuat. Mau berusaha agar tidak terlalu bersedih. Ia tak mau membuat ibunya menangis.


"Jangan lo tahan, Wi." Bima berbisik tiba-tiba. "Enggak ada yang marah lo nangis. Masih mending lo sedih di sini daripada lo diem-diem sedih, padahal semua orang juga tau."


Juwita meremas tangannya kuat-kuat. Sebelum bisa menyadarinya, tangisan Juwita yang semula hanya isakan kini berubah jadi erangan seolah tengah merasa sakit.

__ADS_1


Tidak ada lagi yang bisa ia tahan.


*


__ADS_2