Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
ekstra part juwita 3 + menuju season 2


__ADS_3

Juwita tak tahu apa yang harus ia rasakan saat melihat semua itu, jadi kakinya melangkah pergi untuk menghindar dari semuanya. Telinga Juwita berdeging sementara tenaganya mendadak habis. Hampir-hampir Juwita tersandung jatuh dari tangga jika tangannya tak ditarik, disusul pelukan yang sangat ia kenali.


"Pelan-pelan jalan," bisik Abimanyu.


Satu badan Juwita gemetar. Ia tahu Abimanyu cuma anak tirinya dan batasan antara mereka itu tidak mungkin bisa hilang. Juwita tidak pernah jadi ibunya dan hanya selalu jadi sahabatnya.


Tapi Juwita percaya bahwa Melisa tidak mau memergoki anaknya berada satu kamar dengan perempuan entah siapa saat dia berkata dia sibuk mengurus skripsi kuliah.


"Juwita, dengerin gue. Gue cuma—"


"Ngerjain skripsi bareng." Juwita menatap wajah Abimanyu dan justru tak sengaja melihat sedikit, sangat sedikit, jejak pewarna bibir wanita di sudut bibirnya. "Yap, cuma ngerjain skripsi bareng. Enggak ada apa-apa, sama sekali, gitu kan?"


Abimanyu diam.


"Of course not," ucap Juwita dengan ekspresi kecewa. "Udah aku bilang enggak mungkin kamu mendadak minta ngekos cuma karena tempat kuliah kamu jauh. Dari awal, kamu emang sengaja milih kuliah di luar kota sekalipun ada kampus bagus di deket rumah karena kamu enggak suka dikekang sama aturan kolot orang tua."


Anak itu masih diam.

__ADS_1


"Kamu berubah." Juwita menunjuk dada Abimanyu, berharap jantungnya itu masih menyimpan memori tentang bagaimana dia dulu. "Kamu berubah jadi orang yang enggak seharusnya. Main cewek sampe satu kamar, ninggalin rumah padahal adek-adek kamu semuanya masih kecil, pura-pura sibuk padahal cuma pacaran. Abimanyu yang aku tau bukan ini."


"So what?" balas Abimanyu sekaligus melepaskan tangan Juwita. "What do you know about me, huh? Lo tau apa soal gue, Juwita?"


"Of course I know you! Aku Ibu kamu sekalipun itu cuma ibu tiri."


"And I love that step mother!" teriak Abimanyu, berhasil menghentikan napas Juwita untuk sesaat. "I love you and you're my step mother! Do you understand that, Mother?"


Juwita tercengang. Hanya bisa menatap Abimanyu yang kini sudah lebih tinggi darinya, kini sudah lebih besar darinya, dan kini menatapnya seolah-olah dia ingin menghilang dari dunia yang ditinggali Juwita.


"Makanya gue pergi," sela Abimanyu. "Emang apa jalan keluarnya? Gue juga mikir, dulu mungkin itu cuma karena gue suka sama karakter lo. Lo asik, lo jadi temen gue, lo ngertiin gue, lo enggak berusaha ngerebut posisi Mama walaupun lo istri Papa. Gue pernah berenti suka karena gue tau itu cuma salah paham."


Lalu Abimanyu mundur, seolah dia tak bisa lagi mendekati Juwita.


"Tapi entah sejak kapan justru gue suka lo sama lo lagi."


"Abimanyu—"

__ADS_1


"Gue yang punya hati gue, Juwita. Gue yang punya perasaan gue. Stop ngatur-ngatur gue buat enggak suka sama lo cuma karena lo istri Papa." Abimanyu menggeleng muak. "At least biarin gue pergi. Biarin gue enggak ngeliat lo. I'm sick of it, ****! Gue tau lo nyokap tiri gue so leave me alone. Jangan buang waktu nyari gue."


Juwita menatap nanar punggung Abimanyu yang menaiki tangga sekali lagi, kembali ke kamarnya.


Dia melarikan diri. Dia memutuskan melarikan diri karena tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan perasaannya.


Tentu saja, Juwita hanya memandang dia sebagai anak. Tidak pernah lebih dan selalu di tempat yang sama. Abimanyu hadir di semua persalinan Juwita, melahirkan adik-adiknya yang sangat dia cintai.


Tapi dengan semua itu dia masih menatap Juwita sebagai 'wanita'?


"Juwita." Banyu dan Cetta turun dari lantai atas. Walau begitu, dari ekspresi mereka, keduanya mendengar setidaknya kata 'I love you' dari mulut Abimanyu.


"Jangan bilang sama Papa." Juwita menggeleng, menghapus jejak air matanya. "Jangan bilang apa-apa."


Juwita tak mau sampai keluarga ini terpecah untuk sebuah alasan yang memalukan.


*

__ADS_1


__ADS_2