Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
33. Sogokan Juwita


__ADS_3

Gantian Juwita yang tersedak. Menggembungkan pipi sewaktu mereka tertawa. Tapi Juwita merasa kurang saat anak pertama Adji hanya diam, sedikitpun tak tersenyum bahkan untuk mengejek Juwita.


Hah, bocah brengs*k ini. Juwita sebal dan murka padanya, tapi kalau diperhatikan begini, dia benar-benar menyedihkan.


Jelas terlihat dia sedih karena semua orang bertanding sementara dia malah duduk di depan makanan, tanpa pertandingan sama sekali.


"Kamu enggak ikut?" Juwita memutuskan mengajak dia bicara lagi.


Selalu begitu, kan? Masalah yang tadi, yang kemarin, yang lalu, tidak boleh diingat atau dibawa ke hati.


Abimanyu melirik, lalu kembali fokus pada makanan. "Emang ada bom meledak kalo gue enggak dateng?"


"Bukan ngurusin acara. Dateng aja bareng."


"Bodo amat."


Juwita menghela napas. Melirik Adji yang menggeleng tanpa suara, isyarat bahwa mau diancam dengan bom pun Abimanyu tidak akan mau pergi.


Tidak ada yang penting bagi Abimanyu kecuali voli. Tidak ada yang penting bagi Banyu kecuali nilai IPA-nya. Tidak ada yang penting bagi Cetta kecuali main.


Begitulah keluarga ini.

__ADS_1


"Kalo kamu ikut," Juwita mencondongkan tubuhnya dan tersenyum, "aku ajak ketemu Sandy Purnawirawan. Tau, kan? Atlet voli sekaligus lulusan Asgard."


Mata Abimanyu langsung melotot, tapi kali ini bukan karena kesal atau marah.


Juwita tersenyum penuh kemenangan. Memastikan bahwa Abimanyu ikut bersamanya, dan Banyu otomatis ikut karena Abimanyu ikut.


Alis Adji berkerut tidak mengerti kenapa Juwita repot-repot menyogok mereka untuk datang, padahal Juwita sendiri tidak menganggap pertemuan keluarga sebagai wujud eratnya ikatan.


Buat apa?


Buat pamer, jawab Juwita dalam hati. Daripada pamer Gucci atau Chanel habis nikahin duda kaya, yang lebih penting adalah pamer kita keluarga sejahtera.


Walau tentu, Juwita punya niat pribadi.


"Mau tidur sama Kakak."


Juwita mengikuti muka cemberut Cetta yang memeluk kakinya. "Kalau aku enggak mau?"


Anak itu merengek. Menarik-narik dress Juwita, mulai tampak ingin menangis.


Siapa yang tidak gemas dengan kelakuan macam itu? Juwita berjongkok, memeluk Cetta erat-erat. Dia wangi dan terasa segar sehabis mandi.

__ADS_1


Semakin diperhatikan semakin Juwita paham kalau anak ini kesepian. Sewaktu ada Mbak Uni, meski dia disakiti, karena tidak ada Mama, dia bertahan.


Sekarang tidak ada Mbak Uni, yang ada hanya tiga laki-laki tripleks membosankan, jadi mau tak mau dia merasa hidup bersama Juwita.


Juwita jadi paham kenapa Melisa tidak memegang keegoisan dengan melarang Adji menikah lagi.


"Besok lagi yah kita mainnya? Seneng-seneng bareng, belajar bareng besok." Juwita mencium wajah anak itu sayang. "Sekarang Cetta ke kamar nyusul Abang."


"Enggak mau. Mau sama Kakak. Enggak mau Abang."


"Iyain aja kenapa, sih?" Abimanyu menyeletuk seraya beranjak dari sofa ruang santai. Dia keluar, nampaknya mau main bola dulu sebelum tidur. "Papa juga enggak bakal larang."


Bukannya Juwita tidak mau. Hanya jangan sampai Cetta jadi punya kebiasaan mau tidur dengan orang tuanya terus-menerus. Kebiasaan Melisa menidurkan anaknya di kamar sendiri sejak dulu menurut Juwita sudah tepat.


Biarpun sekarang ia dan Adji hanya mengobrol santai di kamar, akan ada waktu tidak begitu.


Waktu malam adalah waktu pribadi, jadi Cetta harus terbiasa.


"Ayok, Kakak temenin tidur di kamar dulu."


Cetta akhirnya mau, meski maunya digendong.

__ADS_1


Lagi-lagi Juwita belajar sesuatu tentang mengurus anak. Bahwa memang tak bisa bagi mereka paham bahkan jika diberitahu, kalau orang tuanya lelah dan mau istirahat.


*


__ADS_2