Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
141. Konser Maut


__ADS_3

"Oke. Terus awasin dia kedepan. Tingkah kecil apa pun catat semuanya, laporin ke saya."


"Baik, Pak."


Adji menghela napas kecil selepas menelepon orang yang ia perintahkan mengawasi Nana.


Perempuan itu akhirnya dikeluarkan dari selnya setelah Cristian datang, meminta Adji untuk melepaskan Nana dari kurungan itu.


Tentu saja Adji di awal tidak berpikir melepaskan Nana. Mau dia hanya melakukan satu kesalahan saja, tapi kesalahan itu adalah penyebab Juwita hampir mati di tangan orang suruhan Ajeng.


Mau satu kesalahan atau setengah kesalahan, akibat yang dia lakukan itu fatal.


Apalagi, uang yang Adji berikan pada organisasi itu luar biasa banyak. Tentu saja itu tidak murah. Dengan memasukkan seseorang ke penjara itu, Adji secara langsung meminta pada Mahesa Mahardika untuk menghapuskan seluruh jejak keberadaan Nana, Ajeng dan mereka yang terlibat bersama wanita itu.


Semakin besar keberadaan orang itu di mata publik maka akan semakin mahal biaya menghapus mereka. Nana dan Ajeng membuat Adji harus menghabiskan terlalu banyak uang.


Tapi Cristian berusaha keras meyakinkan Adji hingga akhirnya ia setuju.


Dengan syarat dia mengembalikan biaya yang Adji keluarkan untuk mengurung Nana.


Setelah itu, semua uang yang Adji terima, akan ia berikan pada Juwita.


Rencananya begitu, tapi waktu pulang, Adji malah dihadapkan pada konser duet tangisan Juwita dan Cetta.

__ADS_1


"Ini kenapa?"


Kalau Cetta saja yang menangis, setidaknya itu normal karena dia anak kecil. Tapi ini kok bisa-bisanya Juwita juga ikut menangis dengan Cetta? Kompak pula duduk berhadapan.


Mana waktu Adji datang, lebih duluan Juwita yang memeluknya, terisak-isak sampai terlihat kehabisan napas. Dari tangisannya itu, Juwita seperti sedang mengadu bahwa dia terzolimi.


"Kamu kenapa? Kenapa nangis sama Cetta?"


Cetta ikut datang memeluk Adji di sisi lainnya. "Kakak jahat sama Cetta, Papa."


Hah?


"Cetta yang jahat sama aku." Juwita menangis tersedu-sedu. "Padahal aku udah masakin Cetta, mandiin dia juga, nemenin main, tapi sekarang enggak mau ngomong sama aku. Hiks, Cetta jahat banget, Mas."


"Tuh kan Cetta egois." Juwita menangis lebih kencang. "Mas, hiks."


Banyu dan Abimanyu yang ada di rumah melihat kejadian perkara cuma bisa geleng-geleng.


Memang sih tadi Juwita dan Cetta berdebat. Juwita berusaha membujuk Cetta agar mau bicara lagi dengannya, tapi Cetta bersikeras tidak mau kecuali Juwita sudah berjanji tidak mau punya dedek bayi.


Lalu Juwita pun mulai membujuk Cetta dengan kalimat 'punya dedek seru loh' dan sejenisnya. Cetta yang sudah beratus-ratus kali bilang tidak mau akhirnya malah memgamuk.


Mereka pun berdebat panas seperti lawan politik saja. Terus tiba-tiba Juwita menangis, berkata kalau Cetta sudah menyakiti hatinya, menolak keberadaan Juwita dan anaknya.

__ADS_1


Melihat Juwita menangis, Cetta akhirnya menangis juga.


Dan jadilah begini, konser dadakan, duet maut antara Cetta dan Juwita.


"Udah, udah. Jangan nangis. Cetta udah, yah. Kasian Juwita loh."


Setelah memasuki usia kehamilan tiga bulan, Juwita memang luar biasa cengeng dan tidak jelas. Dia pernah sekali menangis cuma gara-gara Banyu lupa membelikan dia es krim alpukat ketika pulang sekolah.


Padahal sebenarnya di kulkas ada es krim, namun dia tidak mau karena bukan rasa alpukat.


Juwita juga pernah mau mengikuti Abimanyu lari sore, tapi waktu di tengah jalan Abimanyu berlari agak terlalu cepat, Juwita menangis karena merasa ditinggalkan.


Sejak hamil, Juwita kadang sangat ceria dan energik, tersenyum lebar penuh dominasi, tapi semenit kemudian dia bisa pundung di pojokan, menangisi hal yang sejujurnya sangat tidak penting.


"Udah ya, Juwita." Adji mengusap-usap kepala istrinya itu. "Kan udah kita omongin. Nanti aja ngasih tau Cetta kalau udah lahiran. Bukan sekarang."


Juwita yang dinasehati begitu malah semakin menangis. "Aku enggak mau Cetta malah enggak suka sama anak aku. Kamu mau kalo nanti dia lahir Cetta usilin dia terus?"


"Juwita—"


"Mas enggak ngerti!"


Perempuan itu beranjak pergi, pindah menangis ke Banyu dan Abimanyu.

__ADS_1


*


__ADS_2