
Tapi harus terhenti di sana sebab Abimanyu datang, dan Adji turun dari kamar.
Canggung, njir. Juwita bergumam dalam hati waktu makan, menyadari Abimanyu dan Adji tidak saling melihat satu sama lain.
Serius deh, Juwita jadi berharap Melisa punya anak perempuan. Kenapa gitu harus semuanya laki-laki? Atau Cetta yang energik ini jadi anak kedua kek, biar ada pencair suasana.
Sudah bapaknya batu, anak pertamanya es, anak keduanya malah patung Malin Kundang.
Mungkin Tuhan sayang sama Kakak makanya cepet dipisahin sama ini orang-orang. Juwita berdecak miris. Ya tapi kenapa malah aku yang kena kutuk sekarang?
"Kakak, Cetta mau kasih makan Pika."
"Pikachu?"
"Pika ulernya Cetta."
"Iya, tau." Juwita membantu anak itu turun. "Hati-hati. Semoga ulernya cepet mati."
"Pika boleh bawa sini enggak?"
"Gak." Juwita melotot. "Awas yah kamu iseng. Awas. Kucuekin seumur hidup tau rasa. Awas."
Cetta tertawa, tapi bergegas pergi ke ruang peliharaannya berada. Pokoknya Juwita tidak mau tahu bagaimana peliharaan dia makan. Kecuali dia mengganti peliharaannya jadi kucing atau hamster.
Tapi Juwita langsung menyesal. Sebab kepergian Cetta membuat ia jadi benar-benar terjebak dalam perang dingin bapak dan anak ini.
Dih, mana sumber masalahnya Juwita lagi. Harus banget gitu?
__ADS_1
Ck, Juwita ujung-ujungnya harus bertindak.
"Nanti kita berangkat jam berapa?"
"Sembilan," jawab Adji singkat.
Saking singkatnya Juwita bingung mau bicara apa lagi. Juwita sedang berusaha mendamaikan di sini, helo? Tidak bisakah dia sedikit berkontribusi juga?
"Berangkat naik apa?"
"Pesawat," jawab Banyu ketus. "Nanya enggak ada gunanya."
"Yaudah serah!" Juwita mendengkus. Mau menyusul Cetta, anaknya pergi ke kandang ular dan kura-kura. Mau naik juga takutnya orang-orang ini perang lagi.
Tapi Juwita takjub. Mereka sungguh-sungguh tidak banyak cocot. Saking diamnya, selesai makan semua langsung bubar tanpa sapaan.
"Gue lebih takjub Kak Melisa idup sama orang begini." Juwita mendumel sendiri, membersihkan bekas-bekas piring mereka. "Sadar diri kek umur. Yang satu udah tua enggak mau ngalah, yang satu masih bocah butuh jajan egoisnya minta ampun."
"Kakak kok ngomong sendiri?" Cetta keluar dengan bola di tangannya.
"Ya terus aku harus ngomong sama siapa, Sayang? Sama tembok? Nih, aku ngomong sama piring, nih. Piring!"
Juwita meninggikan suara berharap Banyu dan Abimanyu dengar, walau dua-duanya tidak peduli.
"Kok kakak sama bapak kamu begitu, sih? Coba kamu jelasin kok begini modelan keluarga kamu."
Cetta malah tertawa geli. "Kakak kalo ngomong kayak lagi stand-up comedy."
__ADS_1
"Haha." Juwita mengerucutkan bibir, lanjut cuci piring daripada stres batin.
Sementara Cetta pergi main bola di sebelah Abimanyu, Juwita membersihkan sebisa mungkin sebelum alarm ponselnya berbunyi.
Badannya sudah basah oleh keringat tapi harus segera lanjut mandi karena ada undangan yang harus dipenuhi.
"Guys, buruan mandi sebelum jam sembilan. Nanti kita telat, loh."
Hening.
"Guys!"
Hening lagi.
"Bocah!"
Banyu menoleh kesal. "Lo berisik banget sih dari tadi. Mandi aja sana. Yang dandan sejam juga elo, bukan kita."
Duh, Juwita sebenarnya sayang kulit. Tidak mau keriput-keriput apalagi di umur dua puluhan begini. Namun ia tidak akan bisa hidup damai sebelum meneriaki mereka.
"Bacot kamu!" Juwita siap melempar pel. "Sana mandi! Abimanyu, Cetta juga, sana buruan mandi! BODO AMAT kalian mandinya cepet! Buruan!"
"Gue enggak—"
"MANDI SEBELUM AKU MANDIIN SAMA KAIN KAFAN!"
*
__ADS_1