Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
42. Mahar Penentu Harga Diri


__ADS_3

Juwita sebal bukan main pada Adji. Makanya Juwita ogah menatap dia, lebih memilih fokus pada Cetta yang main game di tabletnya.


Anak itu duduk di pangkuan Juwita, tidak mau duduk di belakang. Benar-benar tipe anak yang sukanya caper, karena biarpun bisa main game sendiri, dia pura-pura tidak tahu biar Juwita mengajarinya.


Lain hal dengan dua setan di belakang yang duduk bermain ponsel sendiri, tidak membuka suara sama sekali sampai mereka tiba di tujuan.


"Udah dulu mainnya." Juwita cuma bisa bicara pada Cetta. "Taro, yah. Kita turun dulu."


"Gendong."


"Capek Juwita kamu dudukin terus minta gendong." Adji baru membuka suara. "Sini sama Papa."


"Aangh."


"Nih, sama Papa." Juwita capek betulan jadi tidak bisa berkata baiklah mau Cetta cemberut bagaimana juga.


Cetta langsung terlihat kesal. Tapi masih patuh turun di gendongan Adji sementara Juwita akhirnya merasa bebas.


Mereka berjalan masuk bersama. Adji berjalan di depan dengan Cetta, sementara Juwita di tengah dan dua anak sontoloyonya di belakang.


Padahal baru di pintu masuk, namun semua mata sudah tertuju pada mereka, seakan-akan Juwita ini artis luar negeri yang bikin melotot.


Bedanya, semua mata yang tertuju adalah mata julid.


Ah, iya, iya. Juwita anak perawan yang menikahi duda demi uang.


Iya, oke. Iya, paham. Juwita bercermin juga tahu diri. Enggak usah diliat-liat.

__ADS_1


"Adji. Sini masuk, Nak. Sini-sini."


Nah, yang biasanya terlihat ramah menyambut itu yang paling julid di belakang.


Juwita berusaha tetap tersenyum manis, kelihatan polos biar tidak jadi antagonis. Apalagi waktu keluarganya Adji pada ngumpul, dan satupun Juwita enggak kenal.


Pada akhirnya keluarga cuma mau berkumpul dengan yang sama kasta, jadi apalah Juwita di mata mereka yang semuanya punya mobil setengah miliar ke atas.


"Kenalin, Tante. Juwita, istri saya."


Matanya Tante macam laser yang menilai dari atas ke bawah sebelum tersenyum kelewat lebar. "Oh, ini toh istrinya Adji yang baru. Juwita? Duh, cantik sekali. Umur berapa kamu?"


Dua belas, Tante. Iya, aku emang anak kecil nikah sama bapak-bapak. Juwita sudah pegal senyum padahal baru pembukaan. "Dua puluh, Tante."


Sengaja ia kurangi dua, biar reaksinya makin heboh.


Sumpah yah, itu sesi tertidak penting yang pernah Juwita lewati. Rasanya macam diinterogasi.


Bac*t.


Dia pikir Juwita tidak tahu gitu dirinya jadi bahan julid? Serius Juwita tidak suka manusia macam itu. Tidak suka ya tidak suka saja. Buat apa pura-pura suka dengan alasan kesopanan tapi ujung-ujungnya gosip panjang melebihi rel kereta.


Mana yang paling menjengkelkan Juwita harus pisah dari Adji, alias kembali diinterogasi sendiri.


"Kamu kok mau-maunya nikah sama duda anak tiga. Ih, cantik loh kamu."


Juwita senyum dan ia yakin sebenarnya semua orang tahu senyumnya dipaksakan.

__ADS_1


"Anak-anaknya Melisa itu nakal-nakal. Kamu bukannya kerja malah milih ngurus anak. Kok mau?"


Soalnya aku ngurusin mereka enggak perlu kerja lagi tetep dapet duit. Juwita masih senyam-senyum, ogah jawab.


Terserahlah. Hidup-hidup Juwita juga.


Tapi yang paling menyebalkan adalah waktu mereka menyinggung soal 'perayaan' pernikahan.


Ucapan yang menyiratkan 'ya kalo istri kedua dinikahin terpaksa emang begitu' karena Juwita tidak merayakan apa pun, seakan-akan pernikahan megah itu adalah simbol berharganya wanita.


Persimi, pemirsah. Gading Martin dan Gisella Anastasia nikahannya miliaran loh, cerai juga, tuh.


"Kamu kenapa?" tanya Adji waktu akhirnya mereka duduk bersama, karena acara lamaran akan dimulai. "Mukamu asem banget, serius."


"Habis dikasih perasan jeruk nipis makanya begini."


Juwita mendengkus. Memeluk lengan Adji tanpa sadar buat balas dendam.


"Katanya maharnya Intan nanti makan dana sampe satu miliar. Mobillah, iPhone-lah, emas-lah."


Adji memiringkan tubuhnya untuk lebih mendengar. "Kata siapa?"


"Rak sudi aku tau namanya. Intinya mereka bilang 'kalo anak perawan apalagi cantik apalagi pinter ya maharnya harus gede dong'. Idih, bac*t."


"...."


"Booking cewek cantik, seksi, jago goyang dua juta juga bisa. Lima ratus ribu juga bisa. Bangga banget dikasih harga. Harga dirinya semiliar, masa. Mahalan rumahku yang enggak KPR."

__ADS_1


Adji terguncang oleh tawa tertawa. Spontan mengecup pelipis Juwita yang masih misuh-misuh jengkel.


*


__ADS_2