
Juwita membenturkan kepala ke wastafel, berusaha tidak berteriak.
Sengaja yah dia datang? Mana wangi pulak! Juwita hanya spontan karena suka dengan wanginya dan berpikir itu semacam bantal guling! Orang tidur mana sadar coba?
Juwita menggeleng. Menepuk-nepuk pipinya keras agar sadar.
Oke. Juwita jagonya akting sok asik.
Baiklah. Mari pura-pura amnesia. Yang tadi hanya mimpi, dan itu sama sekali tidak nyata.
Good.
"Juwita—"
Gadis itu berlari kecil meninggalkan Adji, turun ke bawa cepat-cepat.
Baru pertama kali rasanya ia lega melihat tiga bocah sontoloyo berkumpul di meja makan.
"Hai, guys."
Dua dari mereka mendelik, tapi Juwita masa bodoh.
"Kakak." Cetta melambaikan tangannya polos. "Cetta beli ayam sama Abang, loh. Kakak mau makan juga?"
"Enak banget tidur sore-sore," sindir Banyu sinis.
Juwita menyentil pipi bocah SMP itu. "Iri bilang dong. Mau bobo sama Mama, sini. Sini Mama peluk."
__ADS_1
"Apaan sih lo? Jijik."
"Idih. Dibecandain malah baper."
Tawa Juwita dan Cetta menghiasi meja makan, tapi Juwita langsung kicep begitu Adji turun untuk bergabung.
Cuma suara Cetta yang menghiasi meja makan, sambil sesekali ditimpali Banyu menjawab Cetta. Abimanyu makan dengan tenang sambil bermain ponsel, sementara Adji dan Juwita sama-sama canggung untuk kejadian tadi.
Awalnya tidak ada yang sadar mengenai itu. Tapi Abimanyu menyadarinya waktu tak sengaja melihat Adji memandangi Juwita, dan gadis itu malah sok sibuk mengelap mulut Cetta.
Bagi anak seusai Abimanyu dan Banyu, tidak mungkin mereka tidak tahu hubungan macam apa itu sebenarnya suami istri. Lagipula yang memberi mereka edukasi seksual adalah Adji.
Meski kelihatannya kalem, Adji itu tipe yang straightforward dalam segala urusan. To the point yang dengan kata lain tidak suka menfilter ucapan.
Makanya Abimanyu dan Banyu tahu betul hubungan macam apa yang Adji punya dengan Juwita.
Kemarin matanya tidak seperti itu. Mata yang menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis, kemarin bukan itu yang dia berikan pada Juwita.
Abimanyu mendadak tak nyaman. Membayangkan hubungan semacam itu benar-benar terjadi antara Juwita dan Adji, rasanya perut Abimanyu jadi mual.
"Juwita."
Yang dipanggil langsung terlonjak, karena tidak biasanya Abimanyu terang-terangan begitu. "Apa?"
"Temenin gue main voli lagi."
Banyu menatap kakaknya seolah berpikir dia sudah gila.
__ADS_1
"Heeeh." Juwita menopang dagu lesu. "Males, ah."
"Ck, enggak usah protes. Pokoknya temenin gue."
Juwita seketika tersenyum lebar. "Oya oya oya, ada yang ketagihan sama aku, nih. Mohon mohon dulu, dong."
Anak itu malah melotot, tapi Juwita tergelak menikmatinya.
"Besok aja mainnya." Adji menimpali. "Juwita juga capek, Bi. Kamu kalo latihan enggak tau kapan berenti."
Adji tidak punya maksud lain saat mengatakan itu. Memang dia merasa besok lebih baik, sebab Juwita saja tidur di petang hari gara-gara capek.
Tapi Juwita tersentak mengingat kejadian sebelum mereka turun.
Duh, kalau ia dan Adji terjebak kecanggungan setelah Juwita memeluknya, Juwita kurang percaya diri bisa bernapas setelah itu.
Maka dengan panik Juwita berkata, "Enggak pa-pa, kok. Enggak pa-pa. Kita main sampe subuh, yah? Yah, yah?"
Abimanyu malah terkejut Juwita terkesan kabur dari Adji.
Kalau begitu baru Adji yang tertarik sementara Juwita belum?
"Juwita."
Yang dipanggil langsung duduk kaku. "Siap, Pak."
Adji menghela napas "Makan terus tidur. End of discussion."
__ADS_1
...*...