
Cetta mendongak pada Banyu sementara Juwita dan anak-anak bertengkar soal uang. Anak yang dulu juga melakukan hal sama, berlari memeluk Juwita dan minta mainan, kini sudah bisa memikirkan segalanya.
"Kalo Kak Juwita sama Papa di sini, berarti Abang Abi pergi, kan?" tanya dia pelan.
Banyu yang ditanya langsung menoleh. "Sedih?"
"Emang Abang enggak?"
Tidak. Sangat sebenarnya. Sampai dada Banyu berdenyut dan rasanya menganga. Mungkin itu namanya saudara yah. Atau mungkin karena Abimanyu itu selalu baik, kecuali soal rasa sukanya yang gila pada Juwita.
Dia kakak yang baik, Banyu harus menekannya. Bahkan kalau ada yang bilang tidak, ia mau menonjok orang itu sampai mati karena sungguh, dia baik.
Dia hanya ... hilang arah.
"Bukan berarti Juwita lebih penting dari si Babi." Banyu mengacak-acak rambut Cetta. "Tapi ada yang namanya prioritas."
Demi Lila, Nia, Yunia, dan tentu saja Juwita juga, Abimanyu harus pergi. Mereka berdua, sebagai adiknya Abimanyu, sangat terluka tapi berusaha rela.
Mereka semua sudah bersiap.
Makan siang di rumah ibunya Juwita, lalu pergi ke mal untuk belanja mainan sesuai janji Adji, lalu pulang menjelang malam hari. Banyu menghubungi Abimanyu agar dia pulang hari ini, mendengarkan keputusan Adji dan Juwita.
__ADS_1
Juwita pun masak sendiri, menyiapkan makanan untuk semua orang, lalu mereka makan bersama lagi.
"Enggak ada yang pergi," kata Adji tiba-tiba. "Enggak ada."
Banyu dan Cetta tertegun. Mereka berdua sudah sangat siap malah mendengar kalau Abimanyu dipindahkan ke luar negeri tapi ... apa kata Adji tadi?
"Pa—"
"Bukan diskusi. Ada adek kalian."
Lila menatap wajah para orang dewasa itu sebelum berkata, "Iya, Abang. Kenapa pergi-pergi? Semua kan senengnya sama-sama."
Nia mengangguk. "Harus sama-sama terus," kata dia menasehati seolah dia paling bijak.
"Bi." Juwita menatap wajah anak tirinya yang menyimpang itu.
Semua demi anaknya. Demi Lila, Nia dan Yunia. Jika tidak, ia pasti akan meminta Abimanyu pergi.
"Kita bisa mulai kan? Lagi. Kayak dulu."
Ayo ambil positifnya. Ayo mulai lagi seperti dulu dan melupakan hal konyol di antara mereka. Bukankah dulu dia juga bisa? Dia meracau suka Juwita tapi kemudian dia menerimanya sebagai ibu tiri.
__ADS_1
Itu adalah arti tatapan Juwita tapi Abimanyu berbeda.
Tidak ada. Tidak mungkin ada yang bisa sama lagi. Dulu dan sekarang berbeda.
Tangan Abimanyu terkepal sangat kuat di atas meja, bergetar seolah-olah ingin tulangnya remuk sendiri. Sakura di sampingnya melihat. Namun seolah tidak tahu apa-apa, Sakura cuma diam, makan dengan tenang seperti Yunia.
*
"Lo mainin gue!" Abimanyu butuh waktu tiga hari untuk mencari celah bisa bicara berdua dengan Juwita, melampiaskan emosi yang ia tahan. "Lo mainin gue lagi! LAGI, Juwita! Lo selalu mainin gue!"
Juwita yang baru selesai menyanyikan lagu tidur siang untuk anaknya jelas terkejut. Apalagi itu membuatnya waspada karena sekarang ada ART di rumah mereka.
"Mainin kamu apa?" Juwita berbicara pelan agar tak terdengar seseorang selain mereka tapi juga penuh penekanan.
"Kalo bukan mainin terus ini apa?" Abimanyu mendorongnya ke tembok, mengurung Juwita di antara lengannya. "Ini apa?! Lo mau gue pergi, lo yang mau pergi, tapi ujung-ujungnya enggak ada yang pergi!"
Juwita mengatup mulutnya. Jika ia mengatakan itu karena Sakura mengancam, Abimanyu mungkin akan membunuh istrinya dan selamat, Juwita menjadi seorang ibu yang membuat anaknya jadi pembunuh.
"Lo bilang mulai semuanya lagi? Lo bilang kayak dulu lagi? Kayak dulu gimana?!" teriak Abimanyu frustasi.
Juwita berusaha mendorong Abimanyu. "Minggir. Aku enggak mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
*