
Sakura memastikan adegan saling pukul Abimanyu dan Banyu tadi tersimpan di ponselnya. Sekarang ia punya satu lagi fakta untuk memojokkan Juwita.
Kalau keluarga besarnya tahu bahwa kedua anaknya saling memukul hebat persis di depan pintu, bukankah semua orang akan semakin menyalahkan dia?
Walau Sakura tidak sampai berharap Banyu memukuli Abimanyu separah itu, tapi apa pun bisa jadi bukti. Sekarang tinggal membiarkan mereka saling tuduh-menuduh. Toh mereka juga tidak akan pernah curiga pada Sakura.
*
Juwita berjalan mendekati Abimanyu, meletakkan tangan di wajahnya yang terluka sangat parah. Mungkin dia bahkan terbentur oleh pot bunga sampai separah ini.
"Jawab, Bi." Juwita memegang wajahnya baik-baik. "Itu kamu yang nyuruh? Kamu sengaja?"
"...."
"Aku tau bukan tapi aku mau denger langsung dari kamu. Itu kamu? Biar kita baikan, kamu kayak gitu? Atau biar kamu jadi hero?"
"...."
"Abimanyu."
"...."
"Abi."
Tangan Abimanyu terangkat ke pipinya sendiri, menggenggam tangan Juwita. Dia terpejam, berusaha keras menahan air matanya tapi gagal.
"Bukan," jawab dia sangat lemah. "Bukan gue."
Mata Juwita seketika basah. Ia bisa merasakan gigil di tubuh Abimanyu saat menyentuhnya.
"Gue sayang sama lo," racau anak itu. "Sayang banget, Juwita. Bikin lo benci sama gue jauh lebih gampang daripada bikin lo takut cuma buat gue deketin lo."
__ADS_1
"...."
Abimanyu terisak-isak.
"Gue tau lo punya Papa." Tangannya menggenggam Juwita semakin kuat. "Gue tau lo bakal selalu jadi punya Papa. Makanya gue kayak gini. Gue berantakan, gue acak-acakan, gue gila sendirian. Biar gue aja. Gue enggak ngelampiasin ke elo. Gue enggak pengen."
"...."
"Tapi Banyu bener, kenapa lo malah pilih kasih sama gue? Harusnya ke dia. Dia yang waras. Dia yang enggak bakal nyakitin lo. Kenapa lo malah selalu ngurusin gue?"
"...."
"Gue ini cuma anak setan." Bahu Abimanyu sampai terguncang. "Gue bikin Papa sama Mama nyesel biarin gue lahir, gue bikin lo capek sama gue. Kenapa lo malah peduli?"
Juwita menggeleng. Buru-buru menarik Abimanyu dalam pelukannya, seolah berusaha menyembunyikan dia dari semua orang yang menghakiminya.
"Enggak ada anak setan," bisik Juwita, "yang bisa nangis kayak gini."
Bukan orang dari masa laku, bukan juga seseorang yang menyimpan kebencian dari lama, namun itu dari kediaman mereka sendiri.
Dari bayangan Abimanyu sendiri.
"Aku udah bilang," Juwita mencengkram punggung Abimanyu, "itu bukan keputusan terbaik."
Banyu terlalu mengikuti emosinya. Padahal berulang kali Juwita bilang jangan.
*
"Juwita ngomong begitu karena dia pake perasaan." Adji berucap setelah kondisi mulai tenang dan kini mengambil waktu berdua dengan Abimanyu saja. "Papa enggak pake perasaan buat kamu. Bukti semuanya nunjuk kamu tapi bukan kamu. Maksudnya apa, Abimanyu?"
".... Kalo gitu gimana menurut Papa?" Abimanyu mengembalikan kartu pemberian Adji. "Aku habis dari sarangnya Mahesa Mahardika. Menurut Papa aku ini punya sesuatu buat nipu mereka? Pura-pura jadi korban, dateng ke mereka minta bantuan—menurut Papa, organisasinya Mahesa Mahardika setolol itu buat ditipu?"
__ADS_1
Kalau memang setolol itu, maka Mahesa Mahardika tidak mungkin pernah jadi presiden. Namun nyatanya si Mantan Presiden itu sekarang ibaratnya pemilik negara ini bersama dengan keluarga Narendra.
Dengan kata lain mereka sudah menyimpulkan bahwa Abimanyu tidak terlibat. Karena kalau iya, Adji pasti langsung dihubungi oleh pihaknya Mahardika. Mereka pasti akan bilang kalau anaknya datang pura-pura minta bantuan padahal dialah dalang di belakangnya.
"I believe you." Adji mengangguk.
"You're lying." Abimanyu mendengkus. "Buat sebentar aja, Papa percaya aku yang bikin skenario."
"Papa bukan Tuhan yang ngeliat semuanya, Abimanyu."
"But she does. She believes me after all." Abimanyu tersenyum muram. "You're so lucky to have her."
"...."
"And I was so stupid." Abimanyu mendongak, menarik napas pendek sebelum. kembali menatap Adji. "Aku bakal pergi habis ini, Pa."
"Pergi?"
"I love her, sampe detik ini, di depan Papa sekalipun. Aku enggak mau bikin Juwita nangis lagi." Abimanyu menatap tangannya sendiri. "Papa juga setuju kan?"
"Istri kamu enggak setuju."
"Emang dia punya hak apa nolak?"
Beberapa detik setelah itu Abimanyu tertegun. Sesuatu yang seharusnya ia sadari cepat malah baru masuk ke kepalanya sekarang.
Sialan! Satu-satunya orang yang bisa menghabiskan uangnya selain peretas brengsek ya itu istrinya sendiri.
Dalang penguntit itu ... jangan bilang Sakura?!
*
__ADS_1
Setuju enggak sih kalau karya ini tamat dan kita pindah ke cerita Abimanyu bertobat menemukan jodoh yang sebenarnya?