Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
32. Kakak Jelek


__ADS_3

Saking sebalnya, Juwita menyentak tangan, membuat pegangan Adji terlepas.


Masalahnya karena terlalu kuat, Juwita jadi terpental sendiri. Bokongnya langsung mendarat mulus di lantai, membuat Adji malah tertawa lepas.


"Nyebelin banget, sih! Udah tua juga, masih aja usil!"


Gantian dia yang berdiri, mengulurkan tangan pada Juwita yang kesakitan. "Kamu kan masih muda, jadi saya menyesuaikan umur."


"Enggak usah. Makasih."


Juwita cemberut. Berjalan cepat meninggalkan dia tapi tahu Adji menyusul. Pikir Juwita dia mau ke atas untuk mandi, ternyata malah ikut turun.


"Kamu enggak kerja?"


"Ya sabar, dong. Saya baru bangun loh ini."


Juwita mendengkus, meski langsung menyudahinya di sana.


"Tadi Abi makan, kan?" Harus dipastikan karena tadi pagi mereka bertengkar jadi mungkin saja dia tidak mau makan masakan Juwita.


"Udah tadi." Adji duduk di meja makan bersama segelas air dingin, memerhatikan Juwita mengeluarkan bahan makanan dari lemari pendingin. "Kayaknya dia enggak ke sekolah."


"Lah?"


"Abi kalau ke sekolah enggak pernah pake jaket kecuali ujan." Adji meneguk air putihnya sebelum dengan tenang berkata, "Kemungkinan dia ke Jakbar. Berarti hari ini ada pertandingan voli di Asgard."

__ADS_1


"Enggak pa-pa dia bolos?"


"Enggak pa-pa," jawab Adji sambil lalu. "Abimanyu enggak akan pernah bolos kecuali buat satu hal: voli. Karena di sekolah dia bisa latihan sama timnya."


Terlepas dari dia anak menjengkelkan dan merepotkan, Juwita rasa anak itu benar-benar mencintai sekaligus memimpikan sebuah kemenangan dalam bidang kesukaannya.


Kasihan juga.


"Terus gimana? Kamu mau biarin dia sampe lulus SMA?"


"Menurut kamu?"


Juwita berbalik, menumpahkan lengan pada meja bar dengan mata tertuju lurus pada Adji.


Pria itu tersenyum, tak membalas apa pun lagi.


*


Perkataan Ibu tadi pagi terwujud malam hari. Ketika Juwita baru selesai membuatkan makan malam dan Abimanyu akhirnya pulang bersama Banyu—berarti anak itu juga ikut bolos—Adji langsung memberitahu tentang lamaran sepupunya.


"Kalian mau ikut?" tanya Adji pada kedua putranya.


Abimanyu hanya diam, terlihat memikirkan sesuatu yang bukan mengenai pertanyaan, sementara Banyu menyantap makanan pembuka.


"Digaji juga ogah," jawab Banyu cuek.

__ADS_1


"Cetta mau." Yang pasti ikut malah jadi pihak paling semangat.


Sepertinya Adji sudah menduga kedua anaknya malas dan bodo amat tentang apa yang terjadi di hidup orang lain.


Pandangan Adji bergeser pada Juwita. "Kamu mau ikut?"


Juwita menghidangkan makanan utama, tak lupa mencubit hidung Cetta gemas. "Hmmm, gak mau."


"Yaudah."


"Mau enggak mau, kan?" Juwita duduk, menopang dagu ketika Cetta makan dengan lahap. "Saya harus pake apa? Berlian yang kayak gimana? Bajunya mesti merek apa?"


"Lo pake baju satu miliar juga enggak bakal ngubah kenyataan lo jelek."


Adji mendelik, tapi Juwita lebih dulu membalas dengan senyum pongah. "Itu berarti matamu belum diwarnain sama kenyataan, Bocah Sontoloyo-ku. Aku kalau ikut miss universe bakal menang sebelum final."


Banyu tersentak. "Iyuh."


"Dih, enggak percaya. Tanya Cetta. Sayang, Kakak paling cantik kan di dunia? Iya, kan?"


Kebetulan, Cetta sedang melihat Adji. Waktu papanya menggeleng sebagai isyarat jawab tidak, Cetta langsung tertawa.


"Enggak. Kakak jelek."


*

__ADS_1


__ADS_2