Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Firasat Buruk


__ADS_3

"Banyu, kamu ngapain?!" teriak Juwita histeris begitu Adji pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya. "Kamu kira bisa segampang itu nyuruh Abi nikah sama anak orang?! Yang kemarin kita liat juga bukan pacar barunya!"


"Ya terus gimana? Lo mau ngomong apa sama Papa?"


"Ya jangan ngomong, Cahku."


"Itu enggak nyelesaiin masalah, Juwita." Banyu bangkit, memegangi kedua lengan Juwita yang kini lebih pendek darinya. "Dengerin gue, Juwita. Lo itu sama kayak Mama buat kami semua. Lo yang ngelahirin adek-axek gue, adek yang bokapnya sama kayak bokap gue."


"Ya makanya—"


"Gue ngerti lo enggak mau nyalahin Abimanyu, gue juga ngerti lo enggak mau nambah masalah. Tapi lari dari masalah juga enggak nyelesaiin apa-apa."


Banyu memegang sisi wajah Juwita dan memaksanya mendongak.


"Suka sama lo sebagai lawan jenis itu salah, Juwita. Maksa Abi buat berenti ya mau enggak mau mesti dilakuin. Besides, lo enggak mau mergokin dia di kamar kosan sama cewek entah siapa lagi, kan?"


Tentu saja tidak! Juwita amit-amit menayangkan anaknya sampai masuk rumah sakit karena penyakit kelamin. Itu luar biasa menjijikan dibayangkan dan Abimanyu jelas tidak pantas mengalaminya.


"Berenti manjain Abang, Juwita, please." Banyu memelas. "Selalu kalo Abang salah lo cari cara supaya dia bener. Selalu kayak gitu. Makanya Abang juga enggak tau nyalahin dirinya sendiri."


Juwita tahu itu benar tapi ia menolak mengakuinya. Pada akhirnya Juwita mengangguk, berharap kalau semua ini benar-benar solusi yang terbaik.


Setidaknya kalau Abimanyu menikah, dia tidak akan tidur sana-sini lagi, kan?

__ADS_1


*


Abimanyu menatap bayangan dirinya di cermin. Tak bisa merasakan apa pun selain benci pada tampang pemberontak itu.


Pernahkah kalian membuat kesalahan yang kalian tahu itu harus berhenti namun kalian tidak berhenti melakukannya? Abimanyu adalah tipe manusia semacam itu. Tidak peduli berapa kali dirinya menyadari besar kesalahannya, Abimanyu tidak pernah berhenti.


Ia tak bisa berhenti mencintai ibu tirinya sekalipun Abimanyu merawat Juwita di tiga waktu kehamilan dan pasca persalinannya.


"Fu-ck you," gumam Abimanyu pada dirinya sendiri.


Pemuda itu meninggalkan cermin, memasang kausnya sebelum keluar dari kamar mandi. Di kamarnya yang super berantakan, seorang perempuan duduk bermain handphone.


"Lo mau pergi? Lo bilang cuma mau hangout di ranjang hari ini."


"Abi, lo mau ke mana?"


"Bukan urusan lo." Abimanyu menyambar ponselnya sebelum pergi begitu saja.


Suasana hati Abimanyu masih buruk karena perkara Juwita beberapa hari lalu. Sekarang tiba-tiba ia disuruh pulang oleh Papa dengan perintah menekan, sudah pasti endingnya akan buruk.


Mungkin Juwita menangis karena Abimanyu bersikap kasar.


Atau setidaknya itu yang Abimanyu duga sampai ia tiba di rumah dan mendengar perkataan Banyu.

__ADS_1


"Lo mesti nikah."


Tidak ada anak remaja—walau Abimanyu terhitung sudah dewasa—yang akan loncat bahagia mendengar kalimat itu zaman sekarang. Jadi tentu saja Abimanyu menatap adiknya seolah-olah otak Banyu barusan mengeluarkan asap karena rusak.


Tapi Abimanyu bahkan tak sempat membalas karena Banyu sudah mengeluarkan kalimat berikutnya. "Kalo lo nolak, gue kasih tau Papa kalo anaknya yang badjingan nafsu sama istri Papa which is nyokap tirinya yang udah besarin lo kayak anak dia sendiri."


"Banyu!" Juwita bereaksi keras mendengar pemilihan kata Banyu yang sangat kasar, namun Banyu secara tegas menghentikannya.


"Lo enggak bisa selalu maafin dia, Juwita," ucap Banyu kesal. "Waktu itu dia masih SMA, okelah dia cinta monyet ke elo. It's fine. Tapi sekarang lo liat dia, dia udah nidurin—I don't wanna know how many girls dan dia masih suka sama lo. Kalo dia enggak mau, jauh lebih mending gue ngeliat Papa bunuh dia!"


Abimanyu mengepal tangannya kuat-kuat. Jauh di hatinya ia tahu Banyu benar. Perasaan ini tidak layak dipelihara sebab isinya bukan sekadar ketulusan.


Dan bagian terburuknya adalah Juwita selalu berusaha melindungi Abimanyu dibalik kepolosan yang sebenarnya palsu.


"Fine!" Abimanyu menerima tanpa berpikir lagi. "Lo pikir gue sengaja kayak gini? Gue nikah biar lo puas."


Banyu menggeleng. "Lo balik ke rumah, Bang. Tinggal di sini bareng Juwita."


Itu adalah tantangan langsung dari adiknya bahwa jika memang Abimanyu mau melupakannya, berarti dia harus membuktikan itu secara langsung di depan Juwita.


"Guys." Juwita berusaha menengahi mereka tapi Banyu menariknya, meninggalkan Abimanyu sendirian.


Juwita ingin memberitahu mereka bahwa ia punya firasat buruk mengenai hal ini, sayangnya tak sempat karena Adji sudah tiba lebih dulu.

__ADS_1


*


__ADS_2