
Abimanyu mengerutkan keningnya terganggu akan suara tangis anak-anak. Rasa malas membuat badannya berat tapi Abimanyu beranjak karena mengenali itu suara tangisan Yunia. Didekati ranjang tempat anak itu tertidur, ternyata mengompol di celana untuk kesekian kali.
"Jangan nangis." Abimanyu mengusap-usap kepalanya, memberitahu anak itu bahwa ia ada memperhatikannya. "Ayok, ganti baju baru Abang gendong."
Yunia terus menangis terisak-isak. Dia memang anak yang manja mengingat dia yang bungsu. Tiap malam begini dia pasti bakal menangis untuk banyak alasan dan baru akan tenang kalau sudah diperhatikan.
Abimanyu menggendongnya keluar kamar agar tidak mengganggu tidur Nia ataupun Lila. Membawa Yunia ke ruang keluarganya lalu duduk di kursi goyang yang biasanya jadi spot favorit Juwita menyusui anak-anaknya saat mereka masih sangat kecil.
Ya, Abimanyu tahu bahwa ia sungguhan sampah menjijikan. Abimanyu memandang ketiga anak Juwita sebagai adik dan sungguh-sungguh adiknya, namun ia tak bisa memandang ibu mereka sebagai ibu.
"Abang, pala Yuni cakit."
"Hm?" Abimanyu mengusap-usap kepalanya. "Soalnya kamu nangis pas tidur. Bobo lagi di bahu Abang, nanti enggak sakit."
Abimanyu memeluk adiknya sampai dia tertidur dan Abimanyu ikut tertidur. Saking nyenyak tertidur, Abimanyu tak sadar bahwa Juwita turun dari lantai atas, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang panas.
Yang paling sulit memang merelakan perasaan. Tidak semudah itu Juwita bisa terima bahwa Abimanyu sudah bukan Abimanyu yang sama, untuk Juwita.
Hanya untuk Juwita. Dia selalu jadi Abimanyu untuk orang lain, selain Juwita.
"Ha! Yuni curang!" teriak Lila saat dia keluar dan melihat Abimanyu memeluk Yunia di kursi goyang. "Abang Abi tuh punya Lila!"
"Lila, Lila." Juwita buru-buru mengisyaratkan anaknya diam. "Nanti Abang sama adek bangun."
__ADS_1
"Aangh, tapi Abang Abi kan punya-nya Lila! Yuni kan sama Papa terus!"
Nia yang datang langsung berbalik memeluk kaki Banyu, pertanda dia iri dan mau juga dipeluk.
"Girls, come on. Ngapain gue sama preman muka asem kayak dia." Banyu membuka tangannya yang tidak menggendong Nia, memberi tawaran pada Lila. "Come. Abang gendong juga."
"Enggak mau! Maunya Abang Abi!"
"Sama Abang Banyu aja. Sini."
Lila malah berlari memeluk Juwita lalu menangis kencang hingga Abimanyu dan Yunia terusik dari tidurnya.
Konser pagi pun dimulai.
Malah Adji yang paling kekanakan berkata kalau tiga-tiganya harus dia yang peluk.
"Gitu terus! Gitu aja terus! Ibu enggak ada yang peluk," sindir Juwita tapi malah disambut tawa. "Cahku, Cetta Sayang, peluk aku dong."
Cetta yang sudah bukan bocah fokus pada ponselnya sambil menggigit buah apel. "Males," jawab dia singkat.
Bahu Juwita dirangkul oleh lengan Adji. "Kamu juga punya saya," ucap pria itu posesif.
Tapi Yunia langsung menariknya seolah-olah Juwita kuman yang tidak boleh disentuh oleh Adji.
__ADS_1
"Emang begitu tuh semua kamu." Juwita melotot pada anak-anaknya. "Mau makan aja nyari Ibu, giliran peluk-peluk Ibu enggak boleh ikutan."
"Oke, I'll get you." Banyu melingkarkan tangan ke tubuh Juwita, memeluknya sekalipun itu membuat Nia protes.
Pemandangan yang mempertontonkan keakraban dan kasih sayang itu justru seperti api bagi Abimanyu. Tak mau terlalu lama melihatnya—melihat Juwita dari sudut yang tak Abimanyu inginkan—pemuda itu beranjak, masuk ke kamarnya lagi.
Abimanyu memasang kaus yang sempat dia buka karena kebiasaan tidur, lalu mengambil ponselnya dan sisp pergi lagi, berhubung masih ada waktu sampai pernikahan.
Baru saja Abimanyu mau menarik pintu terbuka, pintu itu justru sudah terdorong.
"Aku enggak pengen kayak gini, Bi." Juwita menggeleng tak sanggup. "Aku enggak pengen kamu kabur tiap kali keluarga kita ketawa bareng-bareng."
"Terus lo mau apa?" Abimanyu membalas dingin. "Lo mau nyuruh gue berenti sakit ati ngeliat lo? How am I supposed to with this feeling, Juwita?"
"Tapi ...." Juwita berusaha bernapas ketika napasnya justru gemetar. "Kamu meluk Yunia karena kamu sadar itu adek lamu. Jadi seharusnya—"
"Jadi seharusnya gue sadar kalo lo nyokap gue, gitu?" Abimanyu maju, menatap mata Juwita yang memerah. "Lo tau kalo gue ngeliat lo sama Papa, gue tau lo istrinya, gue tau lo ngapain aja sama Papa di kamar dan ternyata gue masih suka sama lo, kan?"
"...."
"Banyu bener, ini udah beda. Bukan lagi kayak dulu." Abimanyu berlalu, meninggalkan Juwita sekalipun ia mau berbalik untuk menghentikan air matanya.
*
__ADS_1