
"Halo, Bang Sandy." Juwita minta handphone-nya untuk menelepon Sandy. Coba menyelesaikan masalah Abimanyu dengan cara damai yang ia bisa. "Gue bisa minta bantuan enggak, Bang?"
"Santai, Wi. Kenapa?"
"Soal anak gue." Juwita bersandar ke sofa, mengulurkan tangan ke rambutnya Banyu buat main-main.
Anak itu fokus ke HP sampai tidak menepis tangan Juwita.
"Abi di-DO dari sekolah gara-gara yang kemaren kan, Bang."
"Loh, iya? Tapi Abimanyu nelfon gue suruh ngomong sama gurunya."
"Iya, Bang cuma suami gue tau, akhirnya ke sekolah minta Abi di-DO. Dia mau Abimanyu tanggung jawab sama kesalahannya makanya minta sendiri."
"Hm, terus?"
"Anak gue kayaknya sedih, Bang." Juwita menarik-narik kecil rambut Banyu. "Enggak enak aja gue liat dia galau begitu. Pertandingan nasional kan udah deket, dia malah di-DO. Kemarin enggak ikut juga di Asgard. Maksud gue, kalo bisa lo ngimong apa gitu Bang biar dia enggak sedih."
"Oh, gitu toh. Oke, oke. Gampang mah itu."
"Oke yah, Bang? Kasian gue kalo dia malah ngerasa enggak jalan gitu buat mimpinya."
"Tenang aja. Besok gue telfon basa-basi."
Juwita menghela napas lega, karena Sandy mau bekerja sama.
Biarpun Juwita lagi bertengkar dengan Abimanyu, ya Juwita juga tidak bisa pura-pura buta dengan kesedihan anak itu. Kalau Adji merasa keputusan memberhentikan Abimanyu sekarang itu tepat, ya biarkan.
Juwita melakukan apa yang bisa dilakukan sebagai ibu tirinya.
"Bocah, kamu di mana?!" teriak Juwita, juga melakukan tugas sebagai ibu tiri yang baik, memastikan anak tirinya tidak menggila.
"Cetta sama Pika!"
__ADS_1
"Pika muluuuuuuuu Pika muluuu tuh kamu. Sini! Bukan sama Pika!"
Cetta datang, menyengir tidak bersalah waktu Juwita berkacak pinggang.
Hadeh, anak-anak ini kalau tidak dilihat sebentar saja pasti kesana-kemari tidak jelas.
"Udah malem. Kamu cuci muka, cuci kaki, cuci tangan sama cuci mulut. Terus bobo."
"Tapi Cetta belum ngantuk."
Juwita mencium pipi Cetta tapi sambil menepuk-nepuk bokongnya. "Tidur tuh pas malem, bukan pas ngantuk. Sana tidur. Banyu, adek kamu bawa tidur."
Setelah beres mengurusi tidur anak-anak itu, Juwita naik ke kamarnya juga.
Ternyata Adji juga sudah tidur. Biasanya dia menunggu Juwita, tapi mungkin Adji terlalu sumpek mengenai persoalan Abimanyu.
Juwita menyelimuti suaminya baik-baik. Mengusap kepalanya dan mencium kening Adji, berdoa agar dia lebih tenang menghadapi masalah.
Pikiran Juwita berkelana ke mana-mana sebelum bisa tidur. Ia memikirkan Abimanyu begini, memikirkan keadaan Ibu di sana, memikirkan Adji berdamai dengan anaknya bagaimana, sampai memikirkan Ajeng kira-kira sedang apa.
Juwita berusaha memejamkan mata, berusaha ikut lelap seperti Adji biar besok punya energi.
Dua jam berlalu, Juwita cuma geser kanan geser kiri. Pada akhirnya Juwita beranjak lagi, turun ke dapur buat bikin sesuatu yang hangat dan nyaman diminum.
Namun suara-suara aneh mendadak terdengar.
"Siapa?"
Juwita langsung parno. Mana sekarang sudah pukul setengah dua belas malam.
"Halooo? Siapa?"
Hening.
__ADS_1
Juwita menelan ludah kasar. Takut, ngeri, tapi bukannya lari malah mendekat, kepo melihat apa itu.
"Halo, siapa—"
Ucapan Juwita terhenti melihat Abimanyu di kegelapan, memanggul tas besar di punggungnya, lengkap dengan pakaian bukan-untuk-tidur.
"Abi?"
Dia menoleh pada Juwita, tapi memalingkan muka, berjalan pergi.
Pergi mendekati gerbang.
"Heh!" Juwita tergopoh-gopoh mengikutinya. "Kamu mau ke mana malem-malem begini?!"
Tangan Juwita menarik Abimanyu, tapi langsung ditepis kasar, sampai Juwita terdorong ke belakang.
"Enggak usah ngurusin gue," ucap anak itu dingin.
Enggak butuh otak genius buat paham ini anak mau apa.
Dia mau kabur dari rumah!
"Sinting yah kamu, Bi?!" Juwita memekik antara syok dia bisa sesinting ini tapi juga panik.
Penjaga rumah sudah Adji tiadakan karena Ajeng dan kawan-kawan sudah diurus organisasi milik mantan presiden itu.
Siapa juga yang bisa berpikir anak yang terlihat lurus pada jalannya ini bisa berpikir kabur dari rumah!
Otaknya dikemanakan?
"Udahlah, bacot." Abimanyu tetap berusaha pergi. "Emang gue siapa buat lo, hah? Enggak usah sok peduli. Enggak butuh."
Juwita dalam hati : 😱😱😱.
__ADS_1
Anak ini terinspirasi dari sinetron apa?!
*