Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
87. Taruhan Aneh


__ADS_3

"Intinya," Banyu jadi sebal karena Juwita malah senang dipuji cantik, bukannya fokus pada pertanyaan, "lo bisa dapet cowok lebih muda, emang iya bisa lo tulus sama Papa?"


Juwita terkekeh kecil. Menyentil kening Banyu yang menurutnya menggemaskan.


Dasar anak kecil banyak pikiran.


"Bocahku, Bocahku. Perempuan itu lebih suka yang dewasa daripada yang seumuran."


"Kok gitu?"


"Ya karena yang seumuran masih egois. Kalo yang dewasa lebih bisa ngalah."


"Tapi—"


"Aku sayang sama Papamu. Udah sayang banget. Banget, banget, banget, banget, banget."


Juwita mencubit pipi Cetta sampai dia terlihat tersenyum lebar secara paksa—dan Cetta masih luar biasa fokus pada game-nya.


"Makanya aku juga udah sayang banget sama kalian. Kamu, Abi, sama Cetta udah kayak adekku sendiri. Enggak anak yah, soalnya kalian anaknya Mbak Melisa. Aku enggak enak ngaku-ngaku jadi mama kalian."


"Lo juga sayang sama Mama?"


"Sayang dong. Aku malah kadang mikir kalau aja Mbak Melisa masih ada, pasti seru. Juga aku enggak repot, hahaha."


"Orang gila."


Banyu bicara begitu, tapi waktu melihat Juwita tertawa lepas, dadanya menghangat.


Selalu Banyu pikir kalau Juwita itu orang luar, tidak mungkin bisa menjadi bagian dari keluarga mereka seutuhnya sementara Mama tidak lagi ada.


Namun pelan-pelan, Juwita justru masuk, menjadi bagian yang seolah melengkapi ketidakhadiran Mama.


Cara dia bicara yang blak-blakan justru lebih nyaman Banyu terima daripada kalau dia memaksakan sikap baik. Rasanya memang lebih seperti dapat kakak perempuan baru daripada mama baru.


Tapi dengan begini, Banyu memastikan kalau Juwita memang tidak mungkin suka pada remaja seperti abangnya.


"Abimanyu belum pulang?" tanya suara di belakang mereka yang spontan membikin keduanya berpaling.

__ADS_1


Itu Adji, berdiri di antara pintu.


"Belum. Itu anak kayaknya latihan sampe lupa waktu, deh." Juwita mendumel. "Awas aja kalo pulang. Telfon kakakmu lagi coba."


Adji menghela napas. "Yaudah, kamu aja. Tidur duluan. Biar Banyu yang nunggu Abi. Lagian Mama juga belum tidur."


"Belum ngantuk."


"Kamu mesti banyak istirahat dulu. Ayok. Cetta, sini bangun sama Kakak."


Juwita cemberut, tapi patuh waktu Cetta menariknya sesuai perintah Adji. Mata Juwita melotot begitu tubuhnya masuk ke pelukan Adji.


Memang benar-benar satu keluarga overprotektif. Masa jam delapan malam Cetta dan Banyu tidak disuruh tidur tapi dirinya sudah disuruh ke kamar.


"Aku bukan anak kecil loh, Mas."


"Nanti kalo sembuh saya ajak begadang sampe jam empat."


Itu sih kesenangan dia.


"Masih sakit?"


"Cuma nyeri."


Begitu selesai, Juwita berbalik, menenggelamkan diri ke pelukan Adji. Tangan Adji selalu spontan mengelus-elus punggung atas Juwita kalau ia memeluknya.


"Banyu nanya, katanya aku udah sayang sama kamu apa belom."


Adji tersenyum. "Udah?"


"Pake nanya."


Dia tertawa kecil. "Ya siapa tau belum. Sini saya bikin sayang."


Juwita mengerucutkan bibir, sengaja terlihat menolak.


Melihat bibirnya itu Adji justru mencubit pipi Juwita, memainkan persis seperti Juwita bermain dengan pipi Cetta.

__ADS_1


"Saya juga mau nanya sama kamu kalau gitu."


"Apa?"


"Kamu kapan hamil?"


"Heh!"


Adji tergelak. Menghindari cubitan Juwita di lengannya biarpun percuma.


Tangan Adji malah bergerak ke perutnya, mengusap-usap perut Juwita yang tidak serata kemarin, gara-gara tidak diperbolehkan olahraga.


Yang bikin heran, Adji malah sering bermain dengan lipatan kecil di sana. Apalagi kalau Cetta melihat. Dia malah ikut mencubitnya seolah perut Juwita itu squishy.


"Mau taruhan sama saya enggak?"


"Aneh-aneh deh kamu."


"Kapan menstruasi kamu?"


"Emang kenapa?"


"Kalo hamil saya beliin kamu barang yang paling kamu mau, biarpun harganya satu M."


Tuh kan dia aneh.


"Kalau enggak, kamu harus mau jadi budak saya sebulan."


"Gak."


"Udah deal."


"Gak."


Adji menarik perutnya, menggelitik Juwita meskipun ia terus berkata tidak. Namun Adji tak mau dengar, menganggap kesepakatan itu sudah sah.


*

__ADS_1


__ADS_2