
Sebelum membahas perihal kemarahan Adji, mari mundur ke waktu Abimanyu berangkat ke sekolah tadi.
Kemarin Abimanyu libur, karena memang Juwita menyuruhnya istirahat dan di keluarga ini, kalau Abimanyu atau Banyu mau absen sekolah sehari tanpa alasan pasti dibolehkan oleh Adji juga Melisa dulu.
Katanya daripada stres sendiri.
Ketika di sekolah, Abimanyu dipanggil ke ruang bimbingan konseling, terus guru berkata, "Kamu kemarin ikut mabuk-mabukan sama temenmu, kan?"
Ternyata orang yang diciduk semuanya mengatakan kalau Abimanyu juga hadir. Ya, kayaknya mereka tidak mau di-drop out begitu saja jadi sekalian menyereg Abimanyu.
Tapi guru tidak mengantongi bukti, cuma pengakuan saja.
Dipikiran Abimanyu : kalau ia mengaku, mungkin itu bisa menunjukkan rasa bersalahnya karena memang berbuat. Namun Juwita berusaha menutupi itu, dan kalau Abimanyu pikir, ya dirinya memang tidak tahu itu pesta minuman keras.
Dan setelah Abimanyu pikir-pikir, kenapa pula ia harus menyerah pada hal yang tidak benar-benar niat ia lakukan?
"Enggak, Pak." Abimanyu menjawab tenang. "Saya enggak ikut-ikutan."
"Temen-temenmu bilang kamu ada."
"Setau saya enggak ada temen saya di sana, Pak." Toh, mereka menjual Abimanyu. Memang bukan teman.
"Kamu yakin? Kemarin kenapa kamu bolos?" tanya gurunya lagi, terlihat lebih percaya kalau Abimanyu bohong. "Orang tua kamu juga sampe ke sekolah nyariin kamu. Jujur sama saya, kamu juga minum, kan?"
"Saya pergi sama temen atlet saya, Pak. Sandy Purnawirawan. Kalo enggak percaya, Bapak tanya aja."
Lalu gurunya menelepon Sandy lewat handphone Abimanyu, dan Sandy sudah kongkalikong dengan Juwita agar mendukung Abimanyu.
__ADS_1
Alhasil Abimanyu bebas.
Walau dalam hati sebenarnya ia ketar-ketir. Sadar dirinya salah dan takut kalau sampai ketahuan.
Sekarang, ternyata Adji menyodorkan foto Abimanyu jelas-jelas sedang mabuk di tempat itu.
"Ini apa?"
Abimanyu menelan ludah kasar. Menunduk dalam karena rasa takutnya.
Seumur hidup Abimanyu, tidak pernah ia berbuat kesalahan sebesar ini.
"Kenapa diem? Jawab, ini apa?"
Adji jelas tak butuh jawaban kalau itu foto mabuk, tapi Adji mau dengar pembelaan apa yang coba anak ini lakukan meskipun kesalahannya jelas di depan mata.
Kalau Adji sudah menggunakan kata 'saya' ke dirinya waktu bicara pada anak-anak, itu berarti level kemarahan Adji sudah di puncak maksimal.
"Jawab, ini apa?" tanya Adji sekali lagi, dengan nada yang menusuk ulu hati.
Abimanyu menelan ludah samar. Menatap foto di layar ponsel Adji itu dan cuma bisa berpikir kalau Juwita mengadu.
Sulit dikatakan bahwa Abimanyu marah, namun jujur ia kecewa pada Juwita. Abimanyu pikir dia percaya kalau Abimanyu tidak melakukanya secara sengaja, tapi ujung-ujungnya Juwita memberitahu Adji.
Mungkin dia berpikir dua kali, kalau Abimanyu tidak ditegur dan cuma didiamkan, perasaan kotornya ini bakal mengganggu.
Termakan oleh emosi sesaatnya sebagai remaja, Abimanyu menatap Adji. Berkata, "Aku enggak tau."
__ADS_1
Ekspresi Adji makin gelap. "Ini mukamu, kamu enggak kenal? Enggak pernah pake cermin kamu?"
Nada Adji yang rasanya makin menusuk bikin Abimanyu akhirnya terpancing.
"Ya terus?" Anak itu melepaskan rasionalitasnya. "Papa mau apa kalo itu emang aku?"
Adji memujul meja sekali lagi, dan Abimanyu tersentak, meski masih menatap nyalang orang tuanya.
"Siapa yang ngajarin kamu begini?"
"Ya enggak mungkin Papa, kan?" balas Abimanyu menantang. "Emang Papa bisa ngajarin apa? Papa pernah ngajarin aku? Yang berhak nanya begitu cuma Mama."
"Saya enggak bahas Mamamu sekarang yah, Abimanyu."
"Oh, jadi sekarang Mama dilupain karena ada Juwita?" Abimanyu makin kehilangan kendali dirinya, sampai mengatakan hal yang nanti pasti bakal dia sesali. "Jadi kita bahas apa? Bahas Juwita, hm?"
Tangan Adji melayang ingin memukul anaknya lantaran emosi dan kekecewaan menguasai.
Namun sebelum tangan itu sempat mendarat di wajah Abimanyu, Juwita tiba-tiba menangkisnya, menahan pukulan Adji.
"Kamu ke kamar," perintah Juwita pada Abimanyu.
"Jangan ikut campur—"
"Kamu. Ke. Kamar. Sekarang."
*
__ADS_1