
Juwita kira besok pagi karena tidak direspons, teror itu bakal berhenti. Tapi ternyata salah.
Justru pagi-pagi buta waktu Juwita mau turun lari pagi sambil dengar musik India, tiba-tiba grup WA-nya banjir notifikasi. Berisi pembicaraan mengenai Juwita merebut suami orang tepat setelah istri pertama suaminya mati.
Demi deh, ini kayaknya memang orang niat. Orang yang bukan hanya sekadar iseng, tapi punya tujuan.
Juwita menghela napas, berusaha terus cuek. Ditutup saja notifikasi aplikasi itu, pergi lari pagi biar enggak stres.
Sudah pasti dirinya ketemu Abimanyu.
Tadinya Juwita mau lewat doang, sedang terlalu capek buat berusaha akrab, tapi ternyata Abimanyu yang manggil duluan.
"Juwita."
Berbalik, Juwita sengaja pasang muka datar. "Hm?"
Anak tirinya melirik ke arah lain, tampak susah payah waktu bilang, "Maaf."
Walau muka Juwita 😑 sebenarnya dalam hati ia 😱.
Sumpah, Bambang?! Ini anak sontoloyo baru saja minta maaf padanya?! Serius?!
"Buat apa?"
Tapi sontoloyo adalah sontoloyo. Bukannya jawab, Abimanyu malah lanjut lari, buru-buru meninggalkan Juwita begitu saja.
Juwita ketawa tanpa suara, mau tak mau jadi terhibur.
Asal dia tidak menyebalkan, sebenarnya Abimanyu cukup asik dan terlihat mudah ditebak. Anak macam ini nampaknya tipe yang tidak akan pernah main perempuan, soalnya di kepala dia cuma ada voli, voli dan voli.
Juwita sedikit teralihkan dari teror di ponselnya. Pulang ke rumah, Juwita full senyum memasak.
__ADS_1
Sarapan bersama, meskipun harus sambil menyuapi Cetta yang lagi ogah memegang sendok.
"Kamu mau saya anter ke Ibu lagi? Atau mau pergi sama Cetta?"
Juwita menggeleng. "Enggak usah. Lagian rumah kotor banget. Mesti diberesin, kan?"
"Kamu butuh bantuan? Saya sama Melisa enggak nyewa ART memang karena Melisa full time di rumah. Tapi kalau kamu butuh, nanti saya cari."
"Enggak dulu. Masih kuat sendiri." Juwita mencubit pipi Cetta hingga anak itu berteriak lucu. "Nih, ada asisten. Oke, Bos? Bantuin aku bersih-bersih, oke?"
"Gak mau."
"Yaudah, kujual aja kamu. Sepaket sama Banyu."
Cetta mengerucutkan bibirnya, manjat ke badan Juwita dan langsung mencium pipinya.
Karena mulut Cetta basah oleh bubur oatmeal-nya, Juwita menjerit spontan. Tapi Cetta malah tertawa, terus mencium wajah Juwita.
Adji merebut Cetta tiba-tiba. "Punya Papa. Enggak boleh."
"Punya Papa."
"Punya Cetta!"
Adji melotot, sebenarnya cuma setengah bercanda. Tapi karena lawannya bocah, Cetta yang tadi tertawa pelan-pelan mewek, berakhir jadi tangisan pecah.
Tawa Juwita mengalun sambil buru-buru menggendong bocah itu. Dia menangis bombay seakan-akan Juwita mau pergi jauh, atau Adji mau menyembunyikannya.
"Emang bapak-bapak satu enggak ada akhlak." Juwita menjauh dari Adji yang sibuk tergelak. "Buang aja dia, yah? Orang Cetta temennya aku, yah? Hus, hus, pergi kerja sana, dasar om-om tua."
"Lagian kamu kenapa nangis coba?" ujar Adji dari meja makan. "Emang punya Papa itu. Cuma Papa pinjemin buat kamu."
__ADS_1
Tangisan Cetta makin besar. "Enggak mau!" amuk anak Melisa itu. "Kakak punya Cetta!"
"Masa, sih?" Adji merogoh kantongnya, mengeluarkan dompet. Terus dengan sombongnya dia mengeluarkan uang. "Juwita sini, Sayang. Sama Om sini."
"Idih!" Juwita ngakak. Tapi entah kenapa mau mendengar Cetta tambah menangis. Jadi ia mendekat, mengulurkan tangan pada uang itu.
"Nih, Papa kasih uang Juwita. Kamu kasih apa?"
Cetta memukul tangan Juwita agar melepas uangnya. "Jangan!"
"Jangan apa?"
Anak itu mengeluarkan tangisan yang rasanya membangunkan cacing-cacing tanah.
Pemandangan itu disaksikan Adji santai-santai saja, namun lama-lama ekspresi Banyu berubah keruh.
Mendadak Banyu beranjak pergi, mengambil tasnya tanpa bicara apa-apa.
Abimanyu bergegas mengejar adiknya. Tahu sebenarnya dia bete, tapi merasa harus bertanya kenapa dia sampai beranjak marah begitu.
"Jijik gue liatnya," gumam Banyu. "Papa jelas udah lupain Mama."
"Ya enggak gitu juga kali." Abimanyu membalas. "Udahlah. Emang apa salahnya liat Papa sama Cetta semangat lagi?"
"Ngeliat Papa bahagia sama ngeliat Papa lupain Mama beda, Bang."
"Lo tau dari mana sih Papa udah lupain Mama? Jelas-jelas itu foto keluarga enggak digeser ke mana-mana. Tiap hari Juwita lewatin dia biasa aja."
Banyu mendengkus. "Cetta enggak pernah nyariin Mama lagi."
"Ya itu karena—"
__ADS_1
"Karena ada Juwita." Banyu berjalan lebih cepat. "Mama yang capek-capek hamil, yang ngelahirin, yang ngurusin pas belum jalan, tapi Juwita yang ditempelin kayak nyokapnya. Gue enggak suka."
...*...