
Ajeng berdecak kesal melihat foto-foto yang diberikan patner barunya sedikitpun tidak membantu.
Butuh bahan yang lebih banyak untuk membuat berita skandal hubungan ibu tiri dan anak tirinya, tapi interaksi Juwita dan Abimanyu belum tertangkap kamera sejauh ini, kecuali sedikit interaksi kecil yang wajar.
"Lagian lo bilang yang suka itu anaknya, kan?" tanya patner Ajeng itu. "Daripada nunggu, mending dijebak."
"Gue lagi enggak bisa banyak gerak. Orangnya Adji ngawasin di mana-mana. Banking-annya juga enggak main-main."
"Itu sih gampang." Patner Ajeng menyeringai. "Tinggal bikin skandal, kan? Ngapain pake foto. Udah enggak jaman."
Ajeng mengerutkan kening, tapi segera mendengar untuk mendengar apa rencananya.
Pelan-pelan senyum Ajeng ikut muncul mendengarnya.
Hmmm, bagus juga. Toh, tujuannya memang untuk memecah belah keluarga itu dan menjadikan Juwita sasarannya.
...*...
Abimanyu tidak ingat pernah terpuruk lama. Selalu ada Mama yang menyemangatinya, dan kemarin-kemarin Juwita membuatnya kesal sampai Abimanyu jadi tidak punya waktu terpuruk.
Tapi sekarang Abimanyu jadi merasa sendirian. Tidak mungkin ia cerita pada Juwita soal kegundahannya, dan Banyu pun tidak akan mengerti bahkan kalau Abimanyu cerita.
Bukan mau Abimanyu begini, sumpah. Bukan maunya juga naksir istri Papa. Kalau saja bisa, Abimanyu mau membunuh dirinya yang sudah kurang ajar.
"Oi, Bi, lo mau ikut enggak?"
"Enggak."
Bahu Abimanyu dirangkul. "Ayolah. Kita seneng-seneng dikit napa sih. Sini, ikut gue. Gue ajakin cara ngilangin stres."
Abimanyu terlalu malas buat menolak, jadi cuma diam waktu diseret mengikuti teman-temannya—walau Abimanyu jarang bergaul dengan mereka.
__ADS_1
Ternyata mereka membawanya ke gudang, di mana sudah ada botol-botol minuman keras murahan, piring berisi tumpukan batang rokok dan hal-hal yang tidak seharusnya anak SMA punya.
"Come on, bro. Ngapain lo galauin voli mulu. Nih, lo cobain yang enak."
Abimanyu diam. Diam dan diam, termasuk waktu ia disuruh menenggak minuman keras.
Pikiran Abimanyu terlalu capek buat menolak. Dalam voli ia gagal, melindungi Juwita ia gagal, move on dari Juwita pun ia gagal.
Memang dirinya ini cuma sampah.
...*...
"Banyu, come to Mama."
Banyu datang, dengan muka super kesal. "Lo bisa enggak sih manggil orang enggak usah kreatif banget?"
Juwita malah mengangkat jempol dan berpose, "Kreativitas adalah bukti kegeniusan, Lanangku."
Karena dia mau bantu, ya Juwita biarkan. Melihat Banyu satu per satu memungut mainan Cetta yang berserakan, lalu meletakkannya ke sudut agar lebih rapi.
"Udah, kan? Manja banget sih jadi orang."
Juwita berkacak pinggang. "Yang manggil kamu buat bantuin beresin siapa?"
Anak itu syok. "Terus?"
Nah, itulah makanya kalau dipanggil, ya tanya keperluannya. Langsung sok tahu mengambil alih pekerjaan.
Tapi kalau bisa sih diteruskan, karena Juwita jadi tidak capek mengurusi mainan yang bukan miliknya.
"Aku mau nanya Abi kenapa belom pulang? Telfon dulu sini."
__ADS_1
"Entar juga pulang."
"Bocahku, kamu kalo mau pinter, banyak-banyakin nanya." Juwita menadahkan tangan. "Mana sini HP-mu. Telfon dulu Abi."
Banyu mendengkus, tapi tetap menelepon Abimanyu sebelum menyerahkannya pada Juwita.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Panggilan kedua tidak juga diangkat.
Panggilan ke lima, Juwita mulai bertanduk.
"Kubanting yah kamu kalau enggak ngangkat!" Juwita berteriak pada ponsel. "Kalo mau pulang telat kabarin dulu kan bisa! Abimanyu!"
"Lo kira teriak sama HP bikin Abang denger?"
Juwita misuh-misuh. Terus berusaha menelepon bahkan sampai dua puluh kali.
"Udahlah. Abang gue juga bukannya bocah kayak Cetta."
"Aku bukan bocah dipukulin dua kali!" Juwita bergegas keluar. Kali ini, mukanya mulai khawatir. "Maaaas! Mas, Abimanyu enggak angkat telfon!"
Adji menoleh dari televisi yang ditonton bersama Papa dan Ayah. "Mungkin lagi latihan."
"Tetep aja enggak boleh begitu. Seenggaknya kan dia harus ngabarin kalo pulang telat."
Mama yang baru turun dari lantai dua ikut menyahut, "Iya, Dji. Anakmu kenapa pulang telat terus. Takutnya ada apa-apa loh di luar."
Ada orang yang menjaga Abimanyu sesuai suruhan Adji, tapi namanya orang tua, khawatir memang kodrat.
Jadi Adji segera menghubungi bodyguard yang berjaga di depan sekolah Abimanyu untuk memastikan di mana anak itu berada.
__ADS_1
*