Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Sudah Memutuskan


__ADS_3

Jelas aksi Juwita menyeret menantu barunya itu menarik perhatian. Mbak Icha dan Mbak Sumi yang tengah merapikan bekas-bekas pertengkaran Abimanyu dan Banyu saja langsung menepi, tak mau mengganggu kemarahan sang Nyonya Besar.


Tak tak sempat Juwita berhasil menarik Sakura pergi, Abimanyu menahan lengannya.


"Yang!" Sakura melihat harapan saat Abimanyu menghentikan Juwita.


Pasti dia tersinggung kan melihat istrinya diseret-seret tak terhormat begini?


"Yang, tangan aku sakit," rintih Sakura seketika. "Sakit banget, Yang. Tante Juwita tiba-tiba begini, nuduh aku sembarangan—"


"Berisik." Abimanyu menarik lepas tangan Juwita dari Sakura tapi sedikitpun bukan untuk menolong istrinya.


Abimanyu justru mengelap telapak tangan Juwita seolah-olah menyentuh Sakura itu membuat tangannya sangat kotor dan menjijikan.


"Maafin gue, Juwita." Abimanyu berbisik bukan karena dia ingin hanya Juwita yang mendengar. Tapi karena rasa bersalah itu terlalu besar untuk Abimanyu bisa lantang menyuarakannya. "Maafin gue selalu nyusahin lo."


Sakura mematung kaku menyaksikan itu. Bagaimana bisa Abimanyu malah minta maaf pada selingkuhannya persis di depan wajah Sakura langsung?


"Gue enggak tau lagi sebenernya gue kayak gimana. I lost my mind, I lost my control. I love you but ... gue tau gue cuma nyakitin lo sama itu."


"...."

__ADS_1


"Gue putus asa." Abimanyu menarik tangan Juwita ke keningnya, menekan keningnya ke sana dan bernapas sangat berat. "Gue selalu takut. Makin dan makin takut tiap kali gue sadar cuma ada satu lo di dunia. Cuma elo. Gue mau lo, semua soal lo, karena gue juga pengen ngerasain rasanya lengkap."


"...."


"Gue amburadul di dalem, Juwita. Gue kacau. Dan satu-satunya waktu gue ngerasa baik-baik aja itu kalau ada lo."


Juwita mengerjap cepat berharap air matanya berhenti jatuh, tapi itu justru membuatnya semakin banjir.


"Aku selalu di sini buat kalian, Bocah," balasnya berusaha lantang tapi justru serak dan pecah. "Aku selalu di sini wakilin Mbak Melisa."


"Gue pengen lo cuma buat gue. Gue terlalu serakah." Abimanyu melepaskan tangan itu. "Gue enggak mau bikin lo nangis lagi jadi plis let me go. Let me go, please."


Tidak ada orang tua yang siap kehilangan anaknya, bahkan sekalipun itu cuma tentang jarak. Terlebih Juwita yang benar-benar menjadikan anak tirinya sebagai sahabat yang sangat sulit ia bayangkan jika tidak ada.


Abimanyu tidak bisa melihatnya sebagai ibu sementara Juwita hanya selalu melihat dia sebagai anak.


"Okay." Juwita mengangguk pelan. Meremas kuat tangan Abimanyu. "Okay, you can go."


Abimanyu ikut meremas tangannya. Juwita tahu dia tak ingin. Namun Abimanyu sudah memutuskan. Dia tak ingin membiarkan keluarganya semakin kacau karena perasaan itu lagi.


Dia melepaskan tangan Juwita dan itu akan jadi terakhir kali dia menyentuhnya. Berbalik menatap Sakura yang terpaku.

__ADS_1


Ketika mata mereka bertemu, Sakura terkesiap. Hawa dingin dari Abimanyu serasa mencekiknya kuat. Baru saja dia terlihat sangat lemah seolah dia bisa hancur di tangan Juwita, namun sekarang dia justru terlihat mau menghancurkan Sakura.


"Sayang ...."


"Abimanyu." Juwita menghentikannya. "Jangan ngotorin tangan kamu nyakitin orang. Kamu boleh pulangin dia ke orang tuanya. Jadi janda sekarang udah cukup buat konsekuensi."


"Gue enggak bakal nyakitin dia."


Abimanyu tidak akan memukulnya kalau memang Juwita takut begitu. Tapi Abimanyu juga tak mau menceraikannya kalau Juwita mau begitu.


Sebab kalau Abimanyu bercerai dengan Sakura sekarang, sasaran akan tertuju pada Juwita. Lagi-lagi dia akan dijadikan omongan 'ibu tiri tidak becus'. Abimanyu ingin mengambil waktu beberapa tahun, waktu di mana kalau ia bercerai pun Juwita tidak akan sampai dijadikan sasaran empuk penyalahan.


"Ayo pergi." Abimanyu meraih tangan Sakura, sedikitpun tidak kasar, menariknya buat pergi. "Barang-barang tolong kirimin ke apartemen Sakura, Pa."


Adji yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, bergumam hm tanda setuju.


Anak itu mendadak terlihat cukup tenang. Dia tidak terlihat sangat marah sampai akal sehatnya hilang atau sangat muram karena harus berpisah dari Juwita.


Tapi ... dia sepertinya tidak akan memaafkan Sakura begitu saja.


Sebagai mertua, Adji harus melindungi anak menantunya. Tapi yah ... dia sudah bukan menantunya sejak dia berpikir meneror Juwita. Adji tidak punya kewajiban menjadi ayah bagi wanita tidak tahu diri.

__ADS_1


*


__ADS_2