
Juwita rasa waktu Melisa masih hidup, hidupnya susah. Atau minimal, dia suka stres sendiri.
Maksud Juwita, satu keluarga ini benar-benar kompak dalam urusan mengekang seseorang. Kayaknya kalau mereka pelihara kucing atau anjing, sudah dipastikan leher anjing dan kucingnya diikat pakai tali baja.
Sudah Abimanyu menyita HP-nya—padahal kan yang menyita HP itu biasanya orang tua—sekarang mau keluar pun Juwita disuruh memakai masker, jaket tebal, dan topi seakan-akan Juwita idol lagi liburan.
Helooo, apakah di bandara ada orang yang mau foto dengan Juwita?
"Enggak sekalian dikasih rantai, Om?" sarkas Juwita waktu Adji pun selesai berbenah.
Tapi pria itu cuma mencium sisi wajahnya yang sedikit bisa terlihat dibalik bayangan—saking tertutupnya. "Saya sayang kamu."
Om-om kegatelan.
Juwita senyam-senyum dibalik masker, patuh juga pada akhirnya. Tersogok oleh tiga kata sederhana.
Jujur yah, Juwita takut keluar rumah. Takut luar biasa. Tapi Juwita tidak memperlihatkan, karena orang-orang ini akan semakin heboh.
Dirinya punya cara sendiri menenangkan diri. Bukan dengan ribut.
Waktu tiba di bandara, Adji memegang tangannya sementara Juwita memegang Cetta, dan dua anak tirinya di belakang.
Juwita diam-diam melirik sekitaran, waspada kalau ada sesuatu.
Namun kepalanya langsung diarahkan ke depan oleh Banyu. Seakan kepala Juwita itu kepala robot.
"Entar lo kesandung bikin malu," ketus dia. Padahal cuma melarang Juwita khawatir.
Definisi nyata sontoloyo menghanyutkan.
__ADS_1
"Papa, itu Oma!"
Teriakan Cetta langsung direspons oleh kedua orang tua Adji di sana. Juwita mau melepas masker, karena rasanya tidak sopan bertemu mertua pertama kali malah wajahnya tertutup.
Tapi Abimanyu menahannya.
"Enggak sopan, loh." Juwita mengingatkan.
"Sejak kapan lo tau sopan santun?"
Dasar sontoloyo.
Juwita mau melotot tapi harus segera menyambut mertuanya.
"Tante."
Ibunya Adji memeluk Juwita. "Kok Tante, sih? Don't be shy, Sweetheart. Just call me Mama."
Ikut menyalami Papa barunya yang menepuk-nepuk punggung Juwita.
Lagi, Juwita merasa harus buka masker, tapi dihentikan pula oleh mereka.
"Enggak usah. Adji sudah cerita. Ayok, kita masuk mobil, pulang langsung."
Juwita sejujurnya bingung dan agak tersentuh. Soalnya, Juwita berusaha kuat tapi orang sekitaran malah seperti berkata tidak usah, istirahat saja dan Juwita akan dijaga.
Bagi Juwita yang anak tunggal, harus berusaha sendiri demi orang tua, dijaga itu luar biasa menghangatkan.
Mereka langsung masuk mobil dan pulang, hingga muka Juwita sekalipun tidak pernah nampak meski ia diluar.
__ADS_1
Dalam mobil, Mama-nya Adji baru mengizinkan Juwita buka masker, memeluknya berulang kali.
"Melisa sebelum pergi udah bilang sama Mama. Kamu jangan sungkan-sungkan. Buat Mama kamu sama Melisa sama. Oke?"
Keluarganya Adji santuy, yah. Seakan-akan Adji menikah lagi beberapa saat setelah istrinya meninggal itu hal biasa.
Tapi Juwita akui memang peran Melisa yang paling banyak. Karena ujung-ujungnya yang jadi masalah adalah apakah istri pertama merestui atau tidak.
"Lukamu masih sakit?" tanya Mama memegang wajah Juwita, memeriksa kanan dan kiri. "Hah, enggak habis pikir Mama ada yang kayak begitu di sini. Mama kira yang keblinger itu orang-orang Amerika aja. Ternyata sama aja."
"Perkembangan kasusnya gimana, Dji?" Papa yang duduk di depan bertanya pada supir, alias Adji. "Pelakunya gimana?"
Adji ditanya begitu sebenarnya tidak mau menjawab karena ada Juwita.
Prinsip Adji, kalau istrinya bisa tidak tahu, ya tidak usah tahu. Bukan karena Juwita terlalu bodoh buat memberi pendapat atau menyelesaikan masalah, tapi karena Adji sayang padanya.
Pikiran Juwita juga pasti sudah capek mengurusi tiga anak, dirinya sendiri dan hal-hal tentang suaminya. Urusan bahaya dia itu urusan Adji saja.
Tapi karena ditanya, mustahil Adji juga tidak jawab.
"Polisi udah ngantongin identitas, cuma pelakunya ngumpet dan masih dicari."
"Dugaan motifnya apa?"
"Gangguan kejiwaan."
Ini sepenuhnya Adji berbohong, karena motif dari pelaku yang ia kantongi adalah uang. Ada seseorang menyuruh dan membayar pria itu.
Hanya, Juwita tidak usah tahu. Biarkan dia tenang.
__ADS_1
*