Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
113. Keluarga Kanibal


__ADS_3

Juwita berusaha menahan keterkejutan karena yang pertama dulu adalah menarik dia.


Udah gila, udah gila. Dia pikir kalau dia kabur dari rumah maka sepuluh tahun kedepan dia bakal jadi sekaya Mahesa Mahardika?


Kayak gembel sih iya!


"Enggak ada kamu kabur-kabur. Masuk enggak kamu! Masuk!"


Abimanyu memberontak keras dari tarikan Juwita, sampai akhirnya dia berhasil mendorong.


Dorongannya bukan main-main. Juwita terlempar ke tanah sampai bokongnya sakit, dan Juwita berteriak keras.


Abimanyu sempat terlihat kasihan dan ragu, tapi dia dibutakan oleh kegilaan yang membuatnya manjat ke tembok pagar, lalu lompat dan berlari kencang bersama tas ranselnya.


Keheningan malam itu jadi saksi Juwita syok mental, masih tidak percaya anak tirinya yang cerdas bisa sampai berpikir tollol.


Ya ampun, salah gaul betul dia.


Jangan bilang kalau dalam hati dia juga berpikir Adji tidak sayang padanya, Adji sudah membencinya jadi lebih baik dia hidup sendiri saja bersama mimpi di siang bolongnya?


"Ana'mu itu loh, Kak!" Juwita berteriak frustrasi. Harap-harap di atas sana Melisa dengar.


Tapi kalau Juwita adalah Melisa, ia bakal geleng-geleng menolak mengakui Abimanyu itu anaknya.


Soalnya malu, ***!


Pagi harinya keadaan makin buruk. Adji dapat telepon dari keluarga kalau Abimanyu malam-malam datang ke rumah mereka, minta tinggal bersama.


Bisa Juwita mengerti kalau Adji mau mencoret nama Abimanyu dari KK.

__ADS_1


"Mas—"


"Biarin." Adji makan dengan tenang. "Biarin. Enggak usah ngurusin dia."


Emosi kayaknya dia.


Juwita geleng-geleng memijat kepalanya.


Kehidupan Adji itu kayaknya keras. Pengalaman dia kasar. Jadi cara Adji sayang ke anaknya itu bukan ditimang-timang.


Adji bilang begitu karena tahu Abimanyu suatu saat bakal malu.


Namun namanya Juwita perempuan. Kasihan juga pada anak tirinya kalau dibiarkan.


Dia kabur buat dibujuk pulang. Setidaknya turutilah buar dia merasa berharga.


"Kakak, Abang ke mana?" tanya Cetta diam-diam, biar Adji tidak dengar.


"Cetta boleh berenang?"


"Ya serah."


Juwita lebih fokus membuka ponselnya karena ada chat dari sepupu Adji.


Rumahnya dia yang ditinggali oleh Abimanyu. Kebetulan, dia ini sahabatnya Melisa dulu, dan bisa dibilang tidak ampas macam keluarga Adji yang lain.


Mungkin karena itu Abimanyu memilih ke sana. Selain dengan fakta bahwa di sana ada anak seumuran Abimanyu juga.


"Duh, Mbak, maaf yah ngerepotin." Juwita berbicara mewakili kewarasan semua orang. "Berantem sama Papanya."

__ADS_1


"Iya, Dek. Enggak pa-pa. Anak-anak emang begitu. Enggak pa-pa aku mah."


Duh, Juwita ketar-ketir karena gosip pasti mendidih. Pasti semua orang bilang Juwita yang jadi penyebab Abimanyu dan Adji bertengkar. Orang bakal bilang kalau Juwita cuma membawa siall buat keluarga ini.


Terus mereka akan semakin memojokkan Juwita dengan kalimat miring tentang tidak becusnya perempuan muda mengurusi rumah tangga yang telah terjalin enam belas tahun.


Juwita maluuuuu luar biasa waktu berbicara. Karena posisinya di sini sangat rentan.


Belum cukup pusing Juwita, Adji menerima telepon dari keluarga lain.


Suara Adji meninggi emosi. Bikin Juwita langsung menyuruh Banyu membawa Cetta pergi, ke mana saja asal tidak usah dengar kemarahan papanya.


Semua tekanan di sekitarnya membuat Juwita mau muntah. Perutnya mendadak mual tapi ia tahan daripada semakin runyam suasana.


Dan Banyu yang berakhir jadi penonton drama keluarga itu menghela napas kecil.


"Abang, Papa kenapa?" Cetta bertanya lagi ketika Banyu membawanya pergi dari rumah. "Abang Abi kenapa pergi? Kenapa enggak suka Kakak?"


"Enggak taulah." Banyu menjawab kesal. "Pusing mikirin orang lain mah. Egois mikirin diri sendiri doang."


Banyu lupa bercermin kalau dia juga begitu. Tapi di situasi sekarang, memang cuma Banyu yang lagi waras.


Anak itu sekarang sibuk memandangi kotak ponsel barunya yang mau dia berikan pada Juwita.


Gara-gara Abimanyu, Banyu kehilangan momentum memberikan hadiah.


Dasar abangnya tololl. Semarah-marahnya dia pada Papa, kenapa sih harus kabur dari rumah? Lupa apa dia kalau keluarganya Papa itu kanibal?


Mereka akan memakan sesama keluarga, selama itu enak dimakan.

__ADS_1


*


__ADS_2