Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
23. Meluk Suami Orang


__ADS_3

Adji itu paling tidak bisa membikin masalah dengan orang lain. Entahlah, mungkin tidak suka atau karena tanpa dibuat pun masalah sudah banyak, jadi tidak harus ditambah-tambah.


Adji cuma suka diam, pada masalah apa pun yang tidak perlu diberi perhatian.


Waktu Melisa masih hidup pun, jika ada lemparan pisau dari keluarga besar Adji, ia lebih suka tidak peduli. Kalau Melisa membalas, Adji biarkan, tidak membalas pun Adji tidak masalah.


Karena itu masalah Mbak Uni dengan Juwita pun Adji tidak perpanjang. Ia cuma mendatangi wanita itu untuk minta penjelasan, mendengar cerita bahwa Juwita yang memulainya, tapi Adji akhiri dengan kalimat sederhana.


"Juwita mungkin enggak butuh bantuan lagi buat urus anak saya, jadi ini uang pesangon."


Adji pergi, karena bukan levelnya mencari masalah dengan orang-orang seperti itu.


Setelah semua urusan pekerjaan selesai, Adji pulang, menemukan anak-anak berkumpul di depan televisi tanpa Juwita.


"Juwita ke mana?"


Cetta yang menjawab, "Kakak tidur di atas. Katanya capek main sama Cetta sama Abang."


Ketika Abimanyu membuang muka, Adji sudah paham dia bermain voli dengan Juwita.


Tidak bisa disalahkan. Adji kalau menemani Abimanyu latihan, ia sudah bosan duduk pun Abimanyu masih semangat.


Nampaknya Juwita masih mencoba terbiasa pada rumah ini. Meski dia pekerja keras di luar sana, kegiatan menjaga toko dengan mengurus anak terutama tiga anak merepotkan ini, jelas dia akan lelah.


"Kalian beli makan dulu di luar. Sekalian beli buat Juwita juga."


Banyu berdecak. "Dia kan yang tugasnya masak. Lagian Mama bilang jajan tiap hari enggak sehat."

__ADS_1


"Sejak kapan kamu dengerin Mamamu urusan jajan?" Adji membalas malas. "Kamu kira orang bisa beradaptasi sehari dua hari? Udah sana jangan banyak omong."


"Cetta mau makan ayam!"


Abimanyu beranjak, menurut saja sementara Banyu mengeluh sebal.


Sebenarnya kalau harus dikatakan jujur, mereka bertiga ini sama saja. Abimanyu tidak sepenurut itu, Banyu itu banyak mau, sementara Cetta selalu menuntut apa yang dia suka.


Tapi setidaknya Abimanyu masih lebih pandai mengalah kalau soal adiknya daripada Banyu.


"Abang, Cetta ikut!"


"Gak. Kamu di rumah aja."


"Mau ikut!"


Jam nyaris menunjuk ke pukul tujuh. Benar-benar waktu tidur yang buruk.


"Juwita." Adji membangunkannya setelah ia mandi. "Juwita, bangun dulu."


Adji menyentuh lehernya. Merasakan suhu badan Juwita agak panas.


"Juwita, bangun dulu. Kita makan dulu."


Dia bergerak. Pikir Adji dia bangun, namun tiba-tiba Juwita memeluk pinggangnya, menenggelamkan wajah di paha Adji.


Jelas, Adji membeku.

__ADS_1


"Wangi." Dia bergumam dalam tidurnya.


Badan Adji kaku tak bergerak. Bulu kuduknya meremang, dan Adji berusaha tidak bernapas agar Juwita tak bangun.


Apa ini? Adji mendadak takut mendekat. Sekelebat pikiran terlintas, namun Adji menggeleng. Sayangnya makin ia menggeleng, makin keras pikiran itu datang.


Nyawa Adji rasanya tercabut waktu Juwita menggeliat.


"Loh?" Dia sadar.


Mendongak, melihat Adji kaku.


Lalu menunduk, melihat apa yang sedang dia peluk.


...*...


Juwita tak tahu di mana wajahnya mau diletakkan setelah ini.


Ia buru-buru bangun, mengabaikan kepalanya yang sakit dan pandangannya menggelap.


Juwita berlari ke kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin.


Parah, parah, parah! Ia barusan memeluk suami orang!


Oke, itu suami Juwita, dalam tanda petik, tapi hati dia masih suami orang!


...*...

__ADS_1


__ADS_2