
"Juwita, jangan kayak gini lagi." Banyu tak menyembunyikan raut wajah khawatirnya. "Lo enggak bisa ngajak orang enggak waras ribut terus ngarep dia enggak nyakitin lo."
Juwita tersenyum dengan bibir berlipat. "Aku pernah dipukul buat kamu, hm? Aku pernah dipukul batako tanpa alasan jelas. Aku enggak takut sama anak kecil kayak Abi."
Jawaban Juwita justru membuat Banyu semakin bernapas lelah. Bukan soal Juwita takut atau tidak takut melawan. Namun itu soal mata Abimanyu yang kian hari kian berubah menjadi sesuatu yang asing.
Banyu ... bahkan tidak bisa menemukan sosok abangnya yang dulu lagi di sana. Orang yang besar bersama Banyu sampai-sampai Banyu tahu segala rahasianya begitu pula dia tahu Banyu—itu sudah tidak ada.
Orang itu sudah hilang. Jauh lebih mudah mengatakan dia sudah mati.
Dia harus segera menikah. Terlibat dengan orang baru dan sibuk mengurusi hal itu agar dia berhenti melihat Juwita. Banyu tahu bahwa Papa pasti akan curiga jika Banyu memintanya secara langsung, sedangkan si Gila itu membuatnya malas bahkan dari jauh.
Maka, Banyu pakai otak. Pemuda itu menghubungi pacarnya—ya, Banyu punya pacar dan ia berbohong pada Juwita agar tak terlalu banyak pikiran. Jika Juwita tahu Banyu berpacaran dengan sepupunya sendiri, entah apa yang bakal dia pikirkan di kepalanya.
"Abimanyu mau nikah," kata Banyu saat ber-video call dengan kekasihnya. "Lo enggak mau mulai bikin baju buat acara nanti?"
"Serius? Abimanyu?" respons pacar Banyu, Talisa, yang nampaknya skeptis. "Mendadak banget. Pacarnya hamil duluan?"
"Maybe? I don't know."
"Abimanyu enggak cerita ke kamu?"
__ADS_1
"Itu Bang-sat udah bukan circle gue sejak dia pindah." Banyu menopang kepalanya dan tersenyum. "Lo mau liat ceweknya gimana? I'll show you."
Seakan-akan mengajak pacarnya bergosip, Banyu secara langsung mendorong berita itu tersebar. Esok hari Banyu berpura-pura tidak tahu ketika Papa mengajak mereka bicara tentang keluarga besar yang mendadak bertanya kapan acara pernikahan itu dilakukan dan kenapa keluarga Adji tidak mengabari.
"Acaranya simpel doang, kan? Asal ada modal dua minggu juga selesai," celetuk Banyu, agar semakin mendorong pernikahan itu disegerakan.
Tidak peduli apa pun, Banyu akan memaksa Abimanyu sadar diri bahkan sekalipun itu menghancurkan hidupnya.
Namun Banyu tidak tahu bahwa Juwita peka pada keinginan terselubung itu. Perasaan Juwita resah bukan main. Ini menyangkut hidup orang lain dan status anak gadis itu tidak akan lagi sama jika nanti dia berpisah dari Abimanyu.
Demi Tuhan, haruskah seseorang hancur dulu agar keluarga ini utuh kembali?
"Mas."
Abimanyu justru tersenyum remeh. "Why so difficult? Aku bisa bawa Sakura ke KUA sekarang, nyogok mereka pake duit pesta biar nanti malem kita udah sah jadi suami istri. Uang sisanya bisa dipake buat bikin pesta di Bali sekaligus bulan madu. Hemat, enggak ribet and everyone's happy."
Ya, tentu saja. Adji meladeni anaknya dengan cara A maka anaknya membalas dengan A pula.
Juwita memutuskan tutup mulut, mengawasi anak-anaknya tidur siang di depan televisi bersama Cetta.
"Enggak ada masalah," jawab Adji sembari lengannya melingkari bahu Juwita. "Selama kamu enggak kawin lari, soalnya itu bikin saya malu."
__ADS_1
Dua orang ini jelas bertengkar. Adji dan Abimanyu selalu saling menyindir jika mereka punya masalah satu sama lain.
Juwita biasanya menengahi, namun sekarang ia tak mau peduli lagi.
"Badan kamu panas." Adji mengalihkan mata dari anaknya pada Juwita. "Kamu pusing?"
"Agak." Juwita memeluk lengan Adji yang merangkulnya. "Aku capek. Gabung yuk sama anak-anak."
Adji langsung tersenyum lembut. "Banyu, ambilin bantal di kamar dulu."
Anak itu mendengkus tapi tetap beranjak dan kembali dengan bantal besar yang muat untuk banyak orang.
"Here, for the number one princess. Oh, salah. The queen."
Juwita secara sengaja memeluk Adji manja. "Aku lebih suka jadi princess."
"Then you're my only princess," bisik Adji mencium pipinya sebelum dia beranjak, menggendong Juwita ke depan televisi untuk tidur bersama anak-anak.
Banyu membawa sisa-sisa piring makan siang ke wastafel untuk dicuci nanti sebelum abak itu pergi ke sofa, tak ikut berbaring namun duduk memandangi keluarganya.
Yang beranjak pergi ke kamar hanya Abimanyu.
__ADS_1
*