Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
38. Belanja Berujung Berantem


__ADS_3

Abimanyu menunduk ketika ponselnya bergetar tanda pesan WA masuk. Anak muda itu menipiskan bibir, menerima kabar dari teman wanitanya yang berada di Asgard tentang siapa yang melaju ke babak ketiga pertandingan voli nanti.


Melihat tidak adanya nama sekolah Abimanyu terasa seperti pukulan berat. Dia menunduk, berusaha menahan air matanya.


Tidak peduli bagaimana usaha Abimanyu melangkah, semua terhenti. Itu membuatnya sakit. Sangat ingin menyerah dan kesepian.


Kalau saja Mama masih ada, mungkin setidaknya Abimanyu bisa bertahan.


"Itu enggak berat." Mama berucap demikian saat Abimanyu mengganggam tangannya.


Itu adalah malam Mama meminta Papa menikahi Juwita.


"Itu sama sekali enggak berat. Mama enggak cemburu. Mama enggak ngerasa bakal dilupain. Jadi jagain baik-baik istri Papamu nanti."


Bahkan kalau Mama berkata begitu, Abimanyu hanya merasa ditinggalkan.


Yang ia lihat hanya Papa asik dengan istri barunya, sedikitpun tidak peduli pada perasaan Abimanyu karena gagal.


Berbeda.


Mama dan Juwita tidak sama.


Cetta mungkin bisa dikelabui karena masih kecil, tapi Abimanyu tidak.

__ADS_1


...*...


Juwita belajar parenting sejak ia memutuskan terima jadi istri Adji, karena mengurus anak tidak bisa hanya dengan ilmu terjun bebas.


Menurut beberapa psikolog yang Juwita dengar, katanya anak laki-laki dan bapaknya tidak akan akrab di masa remaja, karena ego masing-masing.


Anak laki-laki di usia Abimanyu dan Banyu akan selalu merasa mereka benar, berhak, dan mau selalu didengarkan sedangkan Adji tidak berada dalam usia mau diatur apalagi oleh anak kecil.


Juwita tidak sangka akan melihatnya secepat ini.


Pandangan Abimanyu pada Adji lebih dingin justru setelah kembali. Anak itu nampaknya jadi membenci Adji karena sudah Juwita bilang, yang senang dihibur belanjaan itu perempuan, bukan laki-laki.


"Keluarin belanjaan—"


Belum selesai Adji bicara, Abimanyu sudah turun, membanting pintu mobil sampai Cetta tersentak.


"Udah, Mas. Enggak sekarang."


Penampilan Abimanyu terlihat pintar dan kalem, tapi kenyataannya dia itu sangat egois, kekanakan, dan tukang atur.


Juwita rasa mau ditegur bagaimana juga dia tidak akan dengar.


Cetta berlari masuk begitu dia turun. Tadi dia membeli hiasan baru untuk tempat tidurnya Pika—walau Juwita ragu bagaimana bisa ular itu dibelikan hiasan—jadi dia bersemangat.

__ADS_1


Ditinggal berdua dengan Adji, Juwita memutuskan tidak turun dulu.


"Dia kayaknya masih enggak terima." Juwita membuka ponsel, untuk melihat update terbaru dari turnamen besar Asgard yang sangat ingin anak itu ikuti. "Yah, pasti enggak enak harus ngeliat ini padahal punya bakat."


"Bakat enggak bikin dia berhak marah sama kesempatan dia yang ilang." Adji membalas tegas, terkesan marah. "Kalau kenyataannya dia yang jadi halangan buat timnya, dia justru harus introspeksi diri."


"Kalau yang kayak gitu dia juga tau tanpa harus dikasih tau, Mas."


Juwita merasa nyaman memanggul Adji mas jika situasinya serius seperti ini.


"Masalahnya bukan dia harus apa. Kasih dia waktu. Terima kenyataan itu enggak gampang."


Adji mengembuskan napas kasar dan tidak meniawab.


Ini pertama kali Juwita melihat pria itu marah.


Dia pasti peduli pada anaknya. Dia juga bangga pada anaknya. Namun, Adji juga punya pendapat yang sayangnya berbeda dari anak itu.


Melisa meninggalkan tugas yang sulit. Ada di antara dua laki-laki ini malah membuat Juwita serba salah. Tapi akan ia anggap Melisa percaya padanya.


"Ngomong pelan-pelan sama dia."


Juwita tak sadar menyentuh lengan Adji, mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Saya enggak tau nasehatin dia. Cuma bisa ngeledek biar dia kesel bukannya sedih. Kamu pasti bisa."


*


__ADS_2