
Juwita bangun lebih pagi hari ini. Sekali lagi ia memakai setelan olahraga karena bersiap lari, tapi sebelum itu Juwita memasak nasi di rice cooker agar nanti bisa langsung makan bersama.
Bersamaan dengan Juwita ingin keluar, Abimanyu juga turun.
"Udah aku duga bakal keluar." Juwita menyapa ceria. "Rise and shine, bocah sontoloyo."
Abimanyu menyambar sepatunya jengkel. "Pagi-pagi udah kena kutuk."
"Idih, idih, idih. Yang kemarin ngerengek minta main voli siapa, nih?"
"Siapa yang ngerengek?!"
Tak bosan bersikap kekanakan, Juwita berlari mendahului Abimanyu. Bocah yang tidak mau kalah itu pun segera menyusul, berlari pelan tapi tak sudi harus di belakang Juwita.
Mereka berlari kecil mengelilingi kompleks sebelum menambah ritme langkah itu semakin cepat. Juwita sedang tak mau benar-benar bersaing, jadi ia cuma mengikuti Abimanyu dua langkah di belakangnya.
"Lo ...."
Juwita mengangkat alus. "Apa?"
"Lo enggak risi apa nikah sama bapak-bapak?"
Uwwah, bocah ini.
__ADS_1
Kenapa dia benar-benar suka menyakiti Juwita dengan sesuatu semacam itu? Hobi, kah?
Memang hobinya aneh. Sudah melihara ular, melihara kura-kura, sekarang memelihara omongan nyelekit.
"Sesuatu yang belom kamu ngerti biarpun kamu juga anak." Juwita menjawab santai, karena mau bumi berguncang, tidak ada guna orang tua berdebat dengan anak kecil baru puber. "Itu dinamain 'Membelah Bulan Buat Orang Tua Tersayang'."
"Lebay."
"Idih, bocah ingusan. Emang harusnya begitu! Kamu jangan sampe malah belah matahari buat pacarmu doang. Itu baru enggak guna, lebay pula."
Abimanyu malah mempercepat larinya. Kali ini, Juwita berusaha menyusul dengan langkah yang juga lebih cepat.
"Terus berarti lo enggak suka sama Papa?"
Juwita terdiam.
Meski Juwita percaya cinta bisa terjadi hanya dalam sekali pandangan mata, anggap saja itu tidak berlaku bagi ia dan Adji.
Juwita baru 'berusaha' mencintai dia, sebisa mungkin.
"Lo pikir," Abimanyu tiba-tiba berhenti, berbalik dengan napas naik turun dan tangan di pinggangnya masing-masing, "lo pikir ini cuma soal urusan lo nerima Papa karena butuh uang, Papa yang ngejalanin wasiat Mama karena sayang?"
Rasanya ini bukan sesuatu yang tengah mereka bicarakan. Dan bukan sesuatu yang bisa dibercandakan.
__ADS_1
Juwita menatap Abimanyu, bingung mengapa dia jadi terlihat terlalu serius.
"Lo pikir lo bisa jadi istri Papa kalau gue sama Banyu enggak setuju?"
Juwita ikut berkacak pinggang, tapi bukan dalam posisi menantang. Hanya lelah dan butuh penopang. "Kamu kenapa jadi kekanakan begini?"
"Maksud lo?"
"Ini bukan karena aku mau ngungkin soal kemarin yah, tapi kalau perlu diinget, kayaknya dari kemarin kamu kasar terus sama aku."
"Emang gue enggak mau lembut sama lo."
Juwita tidak peduli, tetap berbicara serius. "Sikap kamu kayak 'dasar pelakor yang ngerebut Papa dari Mama', padahal Adji bilang kamu sama Banyu setuju. Enggak mungkin aku sama Papamu nikah kalau kalian enggak suka."
"...."
"Terus kenapa sekarang kesannya kamu belum setuju tapi Papamu maksa nikah?"
Juwita berdecak kesal. Padahal ia sudah berusaha sangat keras mengabaikan kekesalan pada bocah ini dan menjadikan interaksi mereka candaan.
Tapi ternyata sia-sia.
"Emang iya ini bukan soal aku sama Papamu doang. Tapi inget yah, Abi, aku di sini juga karena kamu setuju."
__ADS_1
Juwita berlari meninggalkannya, menyelesaikan putaran terakhir sebelum ia pulang sendirian.
*