Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
29. Mau Menggoda


__ADS_3

Perhatian Adji tertuju pada ekspresi Juwita. "Kalau Dior, kayaknya Melisa punya. Yang itu juga boleh kamu pake."


Ekspresi Juwita langsung berubah masam. "Kamu enggak ngerti yang namanya becanda, yah?"


"Saya enggak becanda."


"Ya tapi, kalo saya pake barang branded habis nikah sama kamu, sama aja ngasih orang umpan bilang 'nikah demi harta'. Mau kenyataannya iya atau enggak, aku rak sudi dibilangin gitu." Juwita misuh-misuh.


Ketika Cetta tertawa mengatakan Juwita sangat lucu karena ekspresinya berubah-ubah, Adji hanya bisa menghela napas.


Sulit dikatakan istrinya ini aneh, unik, atau rada bodoh walau menggemaskan.


"Yaudah." Banyu menimpali. "Lo pake baju gembel aja biar enggak dikira nikah demi harta."


Juwita tertawa dengan mata melotot. "Itu namanya ngasih umpan ngejek kamu nelantarin ibu tiri sendiri."


"Dasar ngerepotin."


"Kamu lebih ngerepotin. Iya enggak, Cetta?"


"Iya."


Banyu melotot pada adiknya. "Kok lo belain dia, sih?! Pengkhianat! Enggak gue temenin main lagi lo!"


Tapi Cetta malah ikut-ikutan mengejek. "Biar aja. Main sama Papa sama Kakak. Kamunya sendirian. Wleeek."


Juwita mengusap air mata haru di sudut matanya. Meraih wajah Cetta untuk mencium dia bertubi-tubi. "Emang jagoanku tuh begini. Bagos, bagos."

__ADS_1


Setelah makan dan menyiapkan jatah Abimanyu di bawah tudung hidangan, Juwita ganti baju lagi untuk pergi. Ia memutuskan memakai bajunya sendiri dari tas, karena kebanyakan baju Melisa memang kesannya 'ibu-ibu'.


Juwita berias sedikit, lalu turun menenteng tasnya. Baru akan berangkat waktu Adji memanggil dari ruang keluarga.


"Udah mau pergi?"


Loh? Kan tadi Juwita sudah bilang.


Adji beranjak mendekatinya, menemani Juwita ke depan rumah. Dia mengeluarkan kunci mobil, menyerahkannya pada Juwita.


"Kamu bisa naik mobil, kan?"


"Kok tau?"


"Dari lagaknya kayaknya bisa." Adji menjawab asal. "Hati-hati di jalan. Telfon kalau ada apa-apa."


"Oke." Juwita berbalik, tapi ditahan lagi. "Apa, sih? Mau nitip makanan?"


"Hah?" Juwita tidak paham.


"Salam."


"Buat?"


"Kenang-kenangan."


"Ngaco."

__ADS_1


Adji tertawa. Menarik kembali tangannya yang tidak diterima oleh Juwita. Pikir Juwita dia bercanda, namun Adji maju, tahu-tahu mengecup kening Juwita.


"Saya mau ngajarin kamu beberapa hal sebelum pergi."


Juwita berdiri kaku.


"Satu," ibu jari Adji mengusap pipinya, "kalo mau pergi, selalu inget bilang 'aku pergi dulu'. Biarpun udah bilang sebelumnya. Kecuali saya enggak dirumah."


"Kenapa mesti—"


"Ssshh, saya lagi ngomong. Nanti balesnya." Adji mencubit pipinya ringan. "Dua, cium tangan kalo mau pergi, kecuali saya enggak ada. Buat apa? Enggak buat apa-apa. Saya suka doang."


Idih.


"Tiga," kini Adji mencubit ringan dagunya, menggoyangkan ke kanan dan kiri perlahan, "mulai sekarang saya mau godain kamu. Jadi tahan-tahan."


Ibarat itu bom, selesai dia ucapkan, terjadi ledakan besar.


Juwita berdiri kaku melihat mata Adji begitu dekat dengannya, dan terasa sentuhan halus bibir pria itu di bibirnya. Hanya sekilas, sebelum dia berbalik pergi, tidak bertanggung jawab pada tabuh genderang di dada Juwita.


Dasar bapak-bapak bajing*n! Juwita masuk ke mobil buru-buru, memukul keningnya ke setir berkali-kali.


Sial*n, sial*n, sial*n!


Kalau dia begitu kan Juwita jadi baper sungguhan!


"Saya enggak bakal sentuh kamu, sebelum kamu minta ke saya."

__ADS_1


Jangan bilang dia serius? Tidak, kan? Becanda, kan?! Kan, kan, kan?!


*


__ADS_2