Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
77. Melawan Orang Gila


__ADS_3

Juwita harus berterima kasih karena waktu itu Adji memaksanya memakai atribut idol sedang liburan. Benturan batako di kepala Juwita sangat keras, tapi dampaknya akan luar biasa buruk kalau saja batako itu langsung mengenai kepala, alih-alih mengenai topi dan tudung jaket tebalnya.


Dokter juga bilang bahwa luka di kepala Juwita bisa pulih dengan cepat, meskipun untuk beberapa waktu Juwita bakal sering pusing.


Dan yang paling Juwita syukuri, waktu ia terkapar, banyak orang datang menjenguknya.


"Tapi lo serius enggak pa-pa, Wi, soal selingkuhan suami lo?" tanya Sandy.


Sandy yang hari ini menyempatkan diri datang bertanya karena hanya ada mereka, juga Adit dan Amel di ruangan ini.


"Maksud gue, lo enggak takut gitu?"


"Fakboi asli enggak banyak omong, Bang." Juwita tersenyum kecil. "Mas Adji emang udah cerita sama gue, dulu katanya pernah selingkuh karena begini begitu. Menurut gue dia udah berubah karena sadar dia salah. Ngapain nyalahin lagi, kan?"


"Emang, sih." Adit mengangguk-angguk. "Ajeng tuh l*nte kelas kakap kalo kata gue. Lo tau kayak, dia cantik, sifatnya jelek, tapi bikin nafsu gitu. Emang pas jadi selingkuhan."


"Ih tapi gue enggak nyangka yah, Mbak." Amel ikut menimpali. "Sampe segitunya banget. Lagian gue denger si Mbaknya itu duitnya banyak. Kok malah betah jadi cewek murahan? Kan aneh."


Menurut Juwita sih itu cewek gila. Bukan murahan atau apa tapi tidak waras.


Bukan karena dia terobsesi pada Adji padahal Adji sudah menikah, atau karena dia merasa dia lebih pantas jadi istri Adji dibanding Juwita.

__ADS_1


Tapi karena dia mencelakai Juwita yang sedikitpun tidak kenal dengan dia!


Kan udah gila, umpat Juwita dongkol.


"Sampe sekarang Ajeng belum ditangkep ya kan?" celetuk Adit lagi. "Emang sengaja, Wi?"


"Buktinya kurang." Itu yang Juwita dengar. "Makanya Mas Adji kayaknya masih nunggu dulu sampe semuanya ngumpul."


"Setau gue Mas Adji enggak pake polisi, yah?" timpal Sandy. "Soalnya yang gue liat jaga di sekitar rumah sakit kayak bodyguard semua."


"Nanti ada pembelaan." Juwita meringis. "Enggak lucu juga sih kalo ngurus kasus kekerasan depan publik, ngelibatin banyak orang, terus penyelesaiannya malah di pengadilan. Dia bawa pengacara mahal ada kemungkinan bebas hukum."


Adji nampaknya lebih suka menyelesaikan masalah ini dengan cara dia sendiri. Makanya Juwita sebal, karena Adji malah menyuruhnya duduk saja menunggu.


Bukan balas dendam sebenarnya. Cuma, Juwita mau menemui si Ajeng-Ajeng itu untuk bertanya satu hal.


Pertanyaan apa? Oh, tentu saja pertanyaan yang mesti, harus, wajib, sangat-sangat perlu ditanyakan.


Pertanyaan ini : Otak dia disimpan di mana?


*

__ADS_1


"Juwita, lo sinting apa lo gila?"


Juwita tersenyum paksa. "Ngelawan orang sinting emang sinting."


Kini setelah seminggu lewat ia tersadar, Juwita bisa duduk di kursi roda dan keluar dari kamar untuk jalan-jalan. Ditemani oleh Banyu dan Abimanyu tentu saja, Juwita mau melakukan hal gila untuk memancing orang gila.


Pertanyaan penting di sini : apakah Ajeng sudah puas?


Oh, tentu tidak. Tidak. Tidak mungkin.


Orang gila macam dia tidak akan puas sampai apa yang dia inginkan tercapai.


Jadi Juwita rasa, kapan pun Juwita berada di luar dan terlihat lengah, dia akan langsung mencelakai Juwita lagi.


"Makanya, Bocahku Tersayang," Juwita meremas kedua tangan anak tirinya dan tersenyum sendu, "aku percaya sama kalian. Percayaaaaaaaaaaaa banget sama kalian. Percaya banget. Banget, banget, banget. Oke?"


Kalau mereka sampai gagal, Juwita koit. Jadi mereka harus benar-benar memegang kepercayaan Juwita.


Lawannya orang gila. Mana bisa orang waras menang.


Karena itu, Juwita butuh bantuan mereka.

__ADS_1


*


__ADS_2