
"Udah tidur?"
Setelah puas menangis tak jelas, Juwita akhirnya tidur juga. Dia meletakkan bantal di pangkuan Banyu, lalu berbaring dengan kakinya memanjang di atas paha Abimanyu.
Abimanyu berbaik hati memijat-mijat kaki Juwita, karena belakangan dia sering mengeluh kalau badannya pegal-pegal. Banyu pun memijat kecil kepala Juwita, katanya dia sakit kepala setelah menangis.
Melihat istrinya tenang diapit anak-anak, Adji langsung lega.
"Juwita tadi udah makan, kan? Kalian temenin?"
"Enggak mau dia." Banyu menepuk-nepuk pelan kening ibu tirinya. "Aku tadi keluar beliin pizza, katanya dia lagi pengen makan pizza, tapi pas balik belum dibuka aja udah muntah."
"Buahnya juga enggak diabisin tadi." Abimanyu ikut melapor. "Udah aku paksa makan tetep aja enggak mau. Udah kenyang katanya."
Adji punya pengalaman mendampingi wanita hamil tiga kali jadi bukannya tidak terbiasa, namun kehamilan Juwita dan Melisa luar biasa berbeda.
Dulu saat Melisa hamil, entah anak pertama, kedua atau ketiga, dia tidak terlalu sering muntah, makan pun lancar dan bahkan agak sedikit berlebihan, pun beraktivitas normal.
Bahkan waktu kandungan Melisa sudah di usia sembilan bulan, wanita itu dua kali sehari ke pasar, keliling kesana-kemari berbelanja perlengkapan. Pagi hari sebelum Cetta lahir malamnya, Melisa masih pergi menonton pertandingan persahabatan sekolah Abimanyu dengan sekolah tetangganya.
Sejauh ini Adji cuma bisa menebak kalau Melisa begitu karena anaknya laki-laki. Walau Adji tak tahu itu benar atau salah, tapi Mama bilang kemungkinan anaknya Juwita perempuan, jadi dia lebih merepotkan diurus.
Hormon perempuannya diproduksi lebih banyak, hingga Juwita pun lebih sulit dimengerti.
"Tadi dia muntah-muntah sampe nangis." Banyu kembali melapor. "Dia mau cuci piring kan, tapi ngeliat piring kotor malah muntah. Habis itu malah dipaksain."
Adji menghela napas. Berbalik pada Cetta yang masih duduk membelakangi mereka, kini sibuk main tapi terlihat masih sebal.
"Kan Papa udah bilang jangan suka gangguin Kakak dulu. Kok kamu malah bikin nangis?"
"Cetta enggak mau punya dedek bayi."
"Kan enggak ada dedek bayi di sini."
Cetta mulai menangis lagi. "Habisnya Kakak ngomong dedek bayi terus. Cetta marah, hiks."
__ADS_1
Hadeh.
Adji sebenarnya juga mau Cetta kooperatif, karena mau dia suka atau tidak suka, masa kehamilan Juwita mau di-cancel?
Kan tidak mungkin juga. Tapi karena menjelaskan juga merepotkan, Adji bimbang mau dibiarkan saja atau terus dibujuk sampai Adji capek sendiri.
"Abi, kamu gendong Juwita ke atas. Pelan-pelan."
Abimanyu pun mengangkat kaki Juwita agar bisa berdiri. Setelah itu dia menunduk, pelan-pelan meraih Juwita ke atas dekapan lengannya.
Pembicaraan Adji dan Cetta masih berlanjut. Ayahnya itu masih coba menanamkan perlahan kalau Cetta tidak perlu iri dengan dedek bayi yang mungkin di otak kecilnya seperti pengganggu kekuasaan alih-alih teman.
"Bi."
Ternyata Juwita bangun karena guncangan kecil, padahal Abimanyu membawanya pelan-pelan.
Ia letakkan Juwita di kasur, memastikan dia berselimut.
Tangan Juwita terulur padanya, membuat Abimanyu langsung membungkus jemari lentik ibu tirinya itu.
"Papamu mana?"
"Di bawah. Kenapa? Gue panggilin?"
"Badanku enggak enak." Juwita menggeliat tak nyaman. "Pengen muntah."
"Kenapa? Mau gue pijitin?" Kata dokter, keluhan tak nyaman Juwita itu tidak berarti khusus dan hanya perihal hormonnya saja yang melonjak.
Juwita menggeleng, cuma memejamkan mata dengan tangan masih memegang Abimanyu.
Hal ini pun sudah sering Juwita lakukan. Kadang-kadang dia minta Abimanyu atau Banyu memegang tangannya biar dia bisa tidur, karena katanya dia nyaman dengan itu.
Makin lama mereka bersama, perasaan Abimanyu pada Juwita mulai berubah.
Abimanyu sudah tidak pernah merasa tak nyaman dengan kedekatan Juwita dan Adji, tapi justru menikmati perannya sebagai anak sekaligus sahabat Juwita.
__ADS_1
Malah makin kesini, Juwita makin sering curhat pada Abimanyu dan Banyu kalau dia kesal pada Adji.
"Bi."
"Hm?"
"Udah mau semester baru kan, yah?" Juwita bergumam dengan mata tertutup. "Kamu udah siap sekolah?"
".... Nanti aja."
"Apanya?"
"Habis lo lahiran."
"Kok gitu?"
Abimanyu khawatir. Kata Adji, kalau kandungan Juwita sudah memasuki usia empat bulan, mereka akan mulai menyewa pembantu.
Sekarang masalah perawatan rumah mereka berbagi tugas. Juwita bertugas membersihkan dapur, ruang keluarga, kamar dan ruang bermain Cetta sementara Abimanyu dan Banyu berbagi tugas membersihkan sisanya.
Tapi biarpun begitu, Abimanyu jadi ragu meninggalkan Juwita sendirian. Apalagi nanti pun Cetta sudah masuk sekolah.
Abimanyu masih ingat soal Mbak Uni. Mana mungkin sih Juwita dilukai orang-orang sekelas mereka, tapi tetap saja secara mental Juwita bakal terganggu.
"Gue temenin lo dulu sampe lahiran." Abimanyu mengusap-usap kening Juwita. "Gue juga enggak ngambis banget sekolah. Telat setahun sekolah enggak bikin gue rugi seumur hidup."
"Aku takutnya kamu sedih enggak ikut ternamen lagi, Cahku." Juwita menepuk-nepuk punggung tangan Abimanyu. "Kalau semester nanti kamu masuk kan, kamu bisa banyak latihan sama tim baru kamu, terus ikut turnamen di Asgard."
Abima hanya diam, malah menunduk, membenamkan kecupan di kening Juwita.
"Gue sayang lo," bisiknya lembut.
"Sayang kamu juga."
*
__ADS_1