
Pulang disambut tangisan kayaknya sudah lumayan sering dialami oleh Banyu dan Abimanyu, jadi mereka tidak berraksi berlebihan lagi. Keduanya cuma kompak menghela napas, sambil berpikir 'hal konyol apa lagi' yang jadi alasan Juwita menangis.
"Cetta, kamu bikin Juwita nangis lagi?" todong Banyu pada adiknya yang lagi duduk santai di depan TV, memberi makan pada Mimi.
Merasa diserang, Cetta langsung melotot. "Bukan Cetta! Papa yang bikin nangis!"
"Papa?" Abimanyu sekarang syok.
"Papa ngapain?" tanya Banyu penasaran.
"Enggak tau. Cetta sibuk jadi nanti aja nanyain."
Dasar bocah gendheng.
Mereka berdua naik ke lantai dua di mana asal tangisan Juwita terdengar. Waktu keduanya masuk dan Juwita melihat mereka, tanpa basa-basi Juwita datang, masuk ke pelukan Abimanyu.
"Lo kenapa?" Abimanyu balas memeluknya. Mengusap-usap rambut Juwita yang agak kusut entah karena apa. "Papa ngapain lo?"
Juwita menangis tersedu-sedu. "Papamu mukul kepala aku."
"Hah?"
"Juwita, enggak boleh yah." Adji langsung bereaksi. "Saya cuma nyentil, bukan mukul. Beda."
__ADS_1
Juwita tambah menangis. "Tapi sakit banget kayak dipukul."
Kedua anak itu kompak menatap Adji penuh tuntutan. Merasa tengah disalahkan untuk hal yang sebenarnya bukan kesalahan besar, Adji jelas merasa jengkel.
"Papa cuma nyentil loh, spontan. Soalnya tadi dia bilang enggak mau pergi liburan karena dilarang Ibu, terus Papa bujukin Ibu sampe melas-melas, lah dia bilang sekarang dia yang enggak mau pergi."
Juwita merasakan insting kalau kedua anak tirinya bakal setuju dengan Adji, maka Juwita sengaja menangis makin keras.
"Kamu kan nanya aku mau atau enggak! Aku bilang enggak mau ya enggak mau!"
Adji menggigit bibirnya gemas. "Sini saya sentil lagi kamu. Sini."
Sementara Abimanyu dan Banyu kompak menghela napas lelah.
Banyu mendekatkan wajahnya ke kening Juwita buat melihat bekas sentilan Adji.
Tidak ada bekas. Membuat mereka sadar kalau Juwita lagi dalam mode lebay, yang akan lebih baik tidak disinggung-singgung.
Kedua anak tirinya meladeni mode lebay Juwita itu, sementara Adji cuma melihat dari kejauhan sambil menahan diri buat tidak menjadikan Juwita slime saking gemasnya.
"Sengaja emang kamu nangis biar diperhatiin. Awas aja."
Juwita malah membuang muka, bodo amat pada Adji.
__ADS_1
Rasanya malah berganti jadi Abimanyu dan Banyu yang orang tua, karena mereka yang melerai dengan waras.
Didudukkan lagi Juwita, Banyu menyuapinya sedangkan Abimanyu berbaik hati menyisir rambut Juwita yang kusut.
"Lo enggak boleh kayak gitu, Juwita." Banyu menasehati. "Kalo becanda, it's okay sih enggak pa-pa, tapi kalo serius, enggak boleh. Kita udah ngomong mau liburan. Kalo masalah Ibu lo yang enggak mau udah dibujukin sama Papa. Lo enggak boleh mood-mood-an sama segala sesuatu."
"Tuh, kan." Adju langsung menimpali. "Enggak boleh kayak gitu."
"Papa juga ngapain ngeladenin?" ujar Abimanyu. "Udah tau Juwita lagi enggak beres, masih aja Papa ajak berantem."
"Papa udah usaha loh, emang Juwita yang mulai."
"Tau tuh kamu." Juwita membuat wajah 😠pada Adji. "Kamunya ngajak berantem. Siapa suruh maksa-maksa."
"Lo juga." Banyu menyentil pipi Juwita. "Kalo lo nangis karena Cetta enggak mau adek bayi, okelah lo sedih. Tapi yang minta liburan elo. Enggak ada alesan lo tiba-tiba mager jadi enggak mau pergi. Kita pergi, titik."
Juwita mengusap-usap bekas sentilan Banyu sambil cemberut
"Tuh, tuh, tuh kan." Adji menunjuk perilaku itu. "Disentil Banyu enggak nangis, giliran saya nangis kayak bayi."
Abimanyu dan Banyu putuskan diam, karena kayaknya mereka berdua memang lagi kehabisan obat.
Apa yang sebenarnya mereka perdebatkan?
__ADS_1
*